BAB 45

2192 Words

“Dulu lo nggak kepikiran kuliah di London kayak Mami Papi, Nda?” Aku diam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Berat banget kayaknya mau jawab pertanyaan gue,” ujar Alya lagi. “Lo punya hak untuk diam, Nda. Gue orangnya santai kok.” “I know,” tanggapku. “Ada masa di mana gue punya cita-cita itu.” Alya duduk di sofa, menatapku lekat. Sepertinya ada pertanyaan yang menggantung di benaknya dan ia tengah menimbang-nimbang apakah aman untuk dilontarkan. Sabtu sore. Unit Alya masih berantakan oleh kertas, laptop, dan sisa camilan yang sejak menjelang siang kami serbu tanpa ampun. Aku duduk berselonjor di karpet, punggung bersandar ke sofa, menatap layar laptop yang akhirnya berhasil kututup setelah berjam-jam berkutat dengan revisi. “Gila banget ya proyek kita. Ada aja, nggak pernah off

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD