BAB 05

1710 Words
Ihsan2: Akang, pinjem jaket. Ihsan2: Hoodie yang biru gue pake. Ihsan2: Ada kaus kaki baru. Buat gue ya, Kang? Enakeun bahannya. Hatur nuhun hadiahnya. Ihsan2: Sepatu gue mangap 😭 Pinjam sepatu basket Akang. Thanks. Ihsan2: Bagi sampo, punya gue habis. Pake yang dibeliin Mama yang ada gue ketombean. Ihsan2: Akang beli skincare? Ada sampel sasetnya nih. Buat gue aja. Aku terkekeh membaca chat-chat yang dikirimkan almarhum adikku itu. Entah berapa kali sehari ia masuk ke kamarku, mencari harta karun yang bisa ia gunakan. Bandara begitu ramai. Orang-orang lalu lalang membawa koper, berbicara di telepon, tertawa, atau tergesa mengejar panggilan boarding. Sementara aku, duduk di kursi ini, diam terpaku menatap layar ponsel dengan harapan sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tengah terbuka. Aku mengetuk nama kontaknya. Ihsan2. Tak pernah kuganti nama itu. Bahkan setelah kami sekeluarga mulai memanggilnya Yupi. Adikku pun sama, menulis namaku sebagai Ihsan1 di ponselnya. Aku mengetuk text bar, virtual keyboard muncul di bagian bawah. Lalu... aku mengetik sebuah kalimat. Arial: Pi, urang di bandara ayeuna. Aku terpaku menatap lagi. Cukup lama hingga leherku terasa pegal. Namun, tentu saja pesan itu tak berbalas. Layar ponsel kukunci. Dan saat akan menaruhnya di saku jaket, jemariku justru menemukan kotak besi yang Amanda berikan tadi. Benda itu kukeluarkan, kuperhatikan saksama lagi. Aku menutup mata sejenak saat ujung telunjuk menyisir ukiran namaku di sudut kanan bawah. Halus dan presisi. Kotak itu lalu kubuka kembali. Empat alat diagnostik gigi tetap tersusun rapi di dalamnya. Mouth mirror. Explorer. Pinset. Probe. Stainless steel mengilap memantulkan cahaya lampu bandara. Bobotnya sedikit lebih berat dari alat standar yang biasa kupakai saat koas. “Kereeen! Selamat sudah jadi Dokter Gigi, Kang!” Suara Yupi kembali terngiang di kepalaku. Kututup kotak itu, sebelum kenangan lain ikut datang. Kutarik udara ke paru-paru perlahan, mengatur napas. Rasanya nyeri di d**a muncul kembali. Di saat yang sama, setelah delay nyaris tiga jam, panggilan boarding dengan nomor penerbanganku menggema di udara. Aku menyimpan dental kit itu ke ransel, berdiri dari dudukku, menyampirkan tas di bahu, lalu mulai melangkah. Langkah demi langkah terasa gamang. Aku menoleh ke balik punggung sekali lagi, seolah ada yang tertinggal dan tak akan bisa kuambil kembali. *** Pesawat mendarat di Lombok menjelang sore. Udara hangat menyambut begitu aku melangkah keluar dari terminal. Bandara ini tak sebesar Soekarno-Hatta. Suasananya juga lebih santai, lebih lengang. Aku berjalan menuju area penjemputan dan langsung mendapati seorang pria yang melambaikan tangan dari kejauhan. Ia memegang secarik kertas dengan tulisan besar; drg. ARIAL Kaki kuayun mendekatinya. “Pak Dokter Arial?” tanyanya. Aku mengangguk. “Iya.” Ia tersenyum lebar, lalu mengulurkan tangan. Kusambut keramahan itu. “Saya Hamdan, Pak Dokter. Sopir dari Puskesmas Tetebatu. Kepala Puskesmas yang suruh saya jemput Pak Dokter,” ujar Hamdan. “Terima kasih,” tanggapku. “Tasnya, Pak Dokter?” “Saya cuma bawa ransel.” “Biar saya bawakan?” Aku menggeleng. “Ayo, Pak?” Ia mengangguk, lalu menunjuk jalan. “Perjalanan kita sekitar satu jam lebih, Dok. Lewat kaki Gunung Rinjani,” ujarnya antusias. Sayangnya, tak ada yang membuatku bersemangat meski pulau ini adalah salah satu destinasi favoritku untuk berlibur. Aku lebih memilih diam, mengikuti langkahnya menuju area parkir. Sebuah mobil tua berwarna putih dengan logo dinas kesehatan di pintunya menyambutku. Aku masuk tanpa banyak tanya, dan beberapa saat kemudian kami mulai bergerak meninggalkan bandara. Perlahan kota Praya tertinggal di belakang. Hamdan cukup banyak bicara. Ia bercerita tentang Tetebatu, tentang wisatawan yang sering datang, tentang sawah terasering, tentang air terjun yang terkenal. Aku hanya menjawab seperlunya. “Ini pertama kalinya Pak Dokter ke Lombok?” tanyanya. “Nggak,” jawabku singkat. “Oh.” Ia terkekeh. “Kalau ke sini main ke Tetebatu, Pak Dokter?” “Nggak juga. Ini pertama kali.” Hamdan mengangguk. “Tetebatu bagus sekali, Dok. Banyak orang kota betah di sana.” Aku menatap keluar jendela. Menyimak pemandangan yang berubah perlahan. Sawah-sawah hijau terbentang luas. Pohon kelapa berdiri di sepanjang jalan. Di kejauhan, Gunung Rinjani menjulang megah, sebagian puncaknya tertutup awan. Langit sore itu mulai membiaskan sedikit cahaya keemasan. Saat jendela kuturunkan, embusan sejuk udara menyapa wajahku. Tak ada kebisingan, jalan yang kami lewati ini terasa begitu tenang, juga indah. Namun, perasaan di dadaku tetap sama. Kosong. Entah apakah aku akan betah di sini, tapi sepertinya desa kecil itu nanti masih jauh lebih baik dibandingkan kota kecil dengan terlalu banyak kenangan menyakitkan. Orang-orang mungkin mengira aku datang ke tempat ini untuk bekerja atau mengabdi. Padahal sebenarnya aku datang untuk satu alasan yang jauh lebih sederhana. Kabur. Mobil terus melaju. Jalan semakin sempit. Udara kian sejuk. Hingga akhirnya Hamdan memperlambat mobil. “Sudah sampai, Dok,” ujarnya. Aku menatap ke depan. Sebuah bangunan sederhana berdiri di tepi jalan. Puskesmas Tetebatu. Tak jauh dari fasilitas kesehatan itu, mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah mungil dengan halaman sempit dan pagar kayu. Lampu terasnya sudah menyala. Hamdan turun lebih dulu, lalu membantuku menurunkan ransel dari bagasi. “Ini rumah dinas Pak Dokter,” ujarnya. Aku mengangguk. “Berapa orang yang menempati rumah ini?” “Pak Dokter saja.” “Terima kasih.” Ia tersenyum. “Besok pagi Pak Dokter bisa langsung ke puskesmas. Jam delapan biasanya pasien sudah ramai. Mau nitip sarapan, Dok?” Aku mengangguk lebih dulu. “Saya bawa roti. Biar nanti saya kira-kira sendiri, apa yang saya butuhkan. Nggak perlu repot-repot menyiapkan makanan untuk saya.” “Pak Dokter bisa masak?” “Bisa,” jawabku. “Nyuci baju?” “Bisa, Pak Hamdan.” “Baik kalau begitu.” Hamdan mengeluarkan buku kecil dari saku celananya. Juga sebuah pulpen. Ia menuliskan rangkaian angka di salah satu halamannya, lalu menyobek kertas tersebut. “Ini nomor saya, Pak Dokter. Kalau ada yang diperlukan, jangan sungkan, kabari saja,” ujarnya seraya mengulurkan coretan itu. Aku menerima. Setelahnya, ia pergi. Dan suasana langsung sunyi. Udara hanya diisi suara serangga malam yang mulai bernyanyi dan gemeresik dedaunan yang tertiup angin. Pintu rumah aku buka, mengucap salam, lalu melangkah masuk. Ruangan di dalamnya sederhana. Satu ruang tamu kecil. Satu kamar tidur. Satu dapur. Minim perabot, namun aku justru menyukainya. Ransel kuletak di lantai kamar, kemudian lampu-lampu kunyalakan. Cahaya kekuningan menerangi ruangan yang masih teramat asing ini. Aku duduk di tepi tempat tidur, meresapi kesunyian. Entah berapa lama aku duduk diam, dan baru mengusir kekosongan itu saat ponsel di saku jaketku bergetar. “Assalamu’alaikum, Ma,” sapaku lebih dulu. “Wa’alaikumussalam. Iyal sudah sampai?” balas Mama. “Hmm. Baru banget sampai, Ma,” jawabku. “Gimana tempatnya?” “Bagus banget, Ma,” jawabku. Meski, nada bicaraku bertolak belakang dengan emosi yang harusnya terpancar saat mengakui sebuah keindahan. Mama menghela napas panjang. Aku terdiam, terlalu takut menanyakan apa yang beliau rasa. “Kalau Iyal ngga betah, jangan ragu untuk pulang, ya sayang?” ujar Mama kemudian. Lantas, di mana tempat yang bisa membuatku betah? Tak ada. Dunia tak ubahnya seperti neraka kini. Aku menghela napas pelan. “Insya Allah, Ma. Doain aja Iyal kuat di sini.” “Hmm.” Mama terdengar menahan sesak di seberang sana. “Mama selalu doakan setiap hari.” Aku tahu itu. Mama tak pernah absen menyebut nama kami berdua dalam doa. Dulu. Dan sekarang hanya satu yang tersisa. Atau tetap dua, namun dengan doa yang sangat jauh berbeda. “Iyal sudah makan?” tanya Mama lagi. “Ini mau mandi, Ma. Habis itu mau makan, terus istirahat.” “Jangan telat makan, Yal. Kamu kalau kerja suka lupa kalau perutmu perlu diisi.” “Iya, Ma.” “Kalau capek, jangan dipaksakan, utamakan istirahat.” “Muhun, Ma.” Percakapan kami sederhana. Pendek-pendek. Sama-sama berhati-hati agar tak menyentuh sesuatu yang terlalu rapuh untuk dibicarakan. “Papa ada di situ, Ma?” tanyaku. “Ada.” Suara Mama menjauh sedikit dari ponsel. “Kang, Iyal nih.” Berselang detik suara Papa menyapaku. “Yal?” “Pa.” “Sudah sampai di Tetebatu?” “Sudah, Pa. Baru banget.” “Perjalanan lancar?” “Lancar, Pa.” “Rumah dinasnya gimana?” “Mungil, Pa. Tapi nyaman.” Tersua hening sejenak. Papa memang bukan tipe orang yang banyak bicara, namun sejak Yupi berpulang, kalimat-kalimatnya terasa jauh lebih singkat. “Besok langsung kerja?” tanya beliau lagi. “Iya, Pa.” “Nggak sempat keliling desa dulu?” “Belum tau sih, Pa. Yang penting datang dulu, lapor diri.” “Hmm.” Lagi-lagi jeda. “Jaga kesehatan, Yal,” lanjut beliau. “Iya. Papa juga,” tanggapku. “Kalau ada apa-apa kabari Papa.” Sesak. “Papa juga. Kalau ada apa-apa, Iyal mau kok dengarin keluhan Papa.” Hening kembali menyusup. Kali ini lebih lama. “Istirahat sana. Jangan lupa salat.” “Iya, Pa.” Beliau tak mengatakan apa pun lagi. Namun sebelum sambungan ditutup, aku mendengar suara beliau lebih pelan dari biasanya. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Dadaku seketika terasa nyeri. Dan aku tak tahu harus menanggapi apa. Telepon kemudian berpindah lagi ke Mama. “Sana... bersih-bersih, salat, makan, istirahat.” “Hmm. Assalamu’alaikum, Ma.” “Wa’alaikumussalam.” Telepon terputus. Sunyi kembali memelukku. Aku meletakkan ponsel di sampingku. Lalu bergerak membuka ransel. Pakaian-pakaian, perlengkapan pribadi, juga laptop, kukeluarkan dan kuletakkan di atas tempat tidur, termasuk dental kit baru hadiah dari Yupi. Tanganku kembali masuk ke dalam ransel, memastikan tak ada yang tertinggal. Namun, sesuatu dengan tekstur lembut menyapa ujung-ujung jemariku. Aku menarik keluar kain itu. Dan langsung membeku. Hoodie biru tua. Aku mengenalinya dalam sekejap. Milik Yupi, yang nyaris serupa dengan milikku. Yang membuatnya selalu memakai hoodie-ku sejak outer kesayangannya ini lupa ia letakkan di mana. Aku menghela napas panjang. Ya, ia pernah meminjam ransel ini saat mengekori Papa dalam sebuah perjalanan bisnis. Pandanganku terkunci di hoodie itu. Kainnya sedikit kusut karena terlipat lama di dalam tas. Tanganku mengangkatnya perlahan, mendekatkannya ke wajah. Masih ada aroma parfum dan samar keringatnya yang familiar. Sesak kembali menghantam. Hoodie itu kupeluk di d**a. Bibirku lirih memanggilnya. Aku menatap kosong sambil mengerangkan tangis. “Pokoknya, gue mau Akang bahagia. Titik!” Suara-suara mengerikan itu menggema di benakku lagi. “Harusnya urang yang mati.” Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirku. Tak ada yang mendengar. Tak ada yang menjawab. Malam pertama di Tetebatu. Dan pedih itu masih mengikuti. Entah apakah aku akan mampu menjalani satu tahun ke depan. Namun untuk malam ini... bertahan sampai pagi saja sudah cukup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD