BAB 06

2333 Words
“AWAAAS!” ‘BRAAAK!’ Aku terbangun dengan mata membelalak dan keringat yang membasahi kepala. Mimpi buruk yang sama sudah menjadi alarm pribadiku. Lima puluh tiga hari berlalu sejak kejadian nahas itu, namun kengerian dan kehilangan yang kurasa tak berkurang sedikit pun. Selimut kusibak, tubuh kuangkat, duduk diam di tepi ranjang. Dalam sunyi, dua bait doa kulafazkan. Mengucap syukur karena masih diberi rezeki hidup, meski aku tahu pasti doa tersebut terucap hanya karena sekadar kebiasaan. Dan satu lagi, doa untuk adikku. Saat suara adzan subuh menyusup masuk, aku berdiri, beranjak ke kamar mandi di sudut rumah. Airnya dingin. Sangat dingin. Namun justru itu yang kubutuhkan untuk benar-benar sadar. Beberapa menit kemudian aku sudah berganti pakaian. Jogger pants, kaos, sweater, hoodie milik Yupi. Tak lupa kuselipkan sarung tangan rajut di saku. Aku lalu melangkah menuju masjid yang tak jauh dari kediamanku. Kabut masih menyelimuti desa. Lampu-lampu rumah warga menyala temaram, sementara kelam belum meninggalkan cakrawala. Masjid desa ini sederhana dan cantik. Fasadnya putih bersih dengan atap bergenting merah tanah liat. Namun setiap subuh, magrib, dan isya tempat ini selalu hidup. “Pagi, Dok,” sapa beberapa orang yang berpapasan denganku di teras masjid. Aku membalas dengan anggukan singkat. Masyarakat desa ini sudah terbiasa dengan kehadiranku. Ada sebagian yang tak sungkan menunjukkan ‘kepedulian’ mereka. Dan sebagian lainnya tak pernah ambil pusing akan apa pun itu. Yang jelas, mereka tak memaksa, tak sampai membuatku tak nyaman. Orang-orang di sini tampaknya punya cara sendiri untuk menghormati jarak dengan orang lain. Setelah salat dan kuliah subuh singkat, sebagian besar jamaah tak langsung pulang. Seperti biasa, mereka duduk di serambi masjid. Dan aku, ikut bergabung sejenak. “Pak Dokter masih menggigil kalau pagi?” tanya Pak Hamdan. “Alhamdulillah sudah nggak,” jawabku. “Kaget sama suasana di sini, ya Dok?” timpal Ustaz Fathir. “Awal-awal aja, Ustaz,” jawabku. “Sudah ada sebulan belum ya Dokter Arial di sini?” tanya beliau lagi. “Hari ini tepat dua puluh delapan hari, Taz.” “Ternyata dihitungin. Kalau kami kurang ramah sama Dokter, tolong dimaafkan, ya?” Aku terdiam sejenak, memikirkan kata-katanya. “Justru semua orang di sini sangat ramah, Taz.” “Berarti Dokter Arial betah?” tanya Asraf—Kepala Puskesmas tempatku bekerja. “Insya Allah, Pak.” “Alhamdulillah,” balas beliau dan beberapa orang lainnya. “Harus betah dong.” Hamdan menimpali. Aku mengangguk tipis. Tanpa tersenyum. Dan entah kenapa, aku hampir selalu begini. Kepribadianku berubah drastis sejak kepergian Yupi. Tak lagi ramah, tak lagi humoris, tak lagi senang berkumpul, justru dingin dan penyendiri. Namun entah kenapa, mereka tetap menyapaku dengan hangat setiap hari. Seolah-olah sikapku yang kaku bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Setelah beberapa menit duduk bersama, aku pamit lebih dulu. “Saya jogging tipis-tipis dulu, Pak.” “Silakan, Dok,” ujar Hamdan. “Hati-hati jalanan masih basah.” Aku mengangguk, lalu melangkah menjauh dari masjid, menyusuri jalanan desa. Suhu udara Tetebatu masih cukup rendah. Embun menempel di dedaunan. Embusan angin yang bertiup membawa aroma khas pegunungan. Seminggu pertama di sini, aku cukup kewalahan mengangani dinginnya udara, napasku bahkan terasa berat setiap kali berjalan-jalan sepagi ini. Namun sekarang tubuhku mulai terbiasa. Langkah kakiku mengikuti jalan kecil yang membelah sawah. Sesekali aku berpapasan dengan petani yang sudah mulai bekerja sejak pagi. “Pagi, Dok!” “Pagi.” Aku menjawab singkat tanpa menurunkan kecepatan jalan atau jogging. Ketika matahari mulai muncul di balik siluet Gunung Rinjani, aku sudah kembali ke jalan utama desa. Perlahan, langit berubah menjadi kanvas ungu kebiruan dengan sapuan kuning keemasan. Kabut yang sebelumnya menutup sawah mulai menghilang perlahan. Udara pun terasa lebih ringan. Aku memperlambat langkah saat rumahku terlihat dari kejauhan. Dan saat itulah suara seorang bocah memanggilku. Ia menungguku di depan rumah, sudah rapi dengan seragam sekolahnya. “Dokter Arial!” Iqbal. Pasien pertamaku saat tiba di desa ini sekitar sebulan yang lalu. Ia menggenggam sesuatu di tangannya. Langkah kupercepat. Begitu hanya tersisa beberapa langkah di antara kami, ia menyodorkan bungkusan yang dibawanya. Satu bonggol jagung rebus. “Ini buat Dokter.” Aku menerimanya dengan penuh syukur. “Alhamdulillah. Iqbal bikin sendiri?” Pertanyaan yang sama, yang selalu kuulang setiap pagi bersama Iqbal. “Iya!” “Terima kasih.” Iqbal mencengir lebar, lalu langsung berbalik seolah misinya sudah selesai. Ini bukan pertama kalinya ia datang, namun kali ke dua puluh tujuh. Sejak hari itu, hari ketika aku menambal gigi gerahamnya yang berlubang, anak itu setiap pagi mampir ke sini. Kadang ia membawa ubi rebus. Kadang singkong kukus yang ditaburi kelapa parut. Kadang hanya satu pisang. Dan terkadang gorengan panas. Makanan sederhana yang mudah ditemukan di desa ini. Ibunya pernah datang ke puskesmas beberapa minggu lalu dan berkata dengan wajah sedikit malu. “Maaf ya, Dok. Iqbal maksa terus. Biar Pak Dokter nggak lupa sarapan.” Aku hanya mengangguk dan menghaturkan rasa syukur kala itu. Iqbal sudah berjalan menjauh, sementara aku masih berdiri di depan rumah, menunggu punggung kecilnya menghilang sebelum memandangi jagung di tanganku. Hangat. Kulitnya kubuka, uap mengepul naik ke udara. Aku duduk sejenak di teras, menikmati makanan itu sambil memperhatikan kesibukan pagi di sekitar. Dua puluh delapan hari, dan selalu dimulai dengan cara yang sama. *** Puskesmas sudah cukup ramai saat aku tiba. Ruang tunggu penuh, nyaris tak ada kursi kosong tersisa. “Pagi, Dok,” sapa Sari, perawat yang mendampingiku di jadwal praktik. “Pagi,” jawabku singkat. Aku sempat mengangguk ke Aster, kolegaku yang mengisi ruangan lain, seorang dokter umum kesayangan warga desa ini. Ia membalas dengan senyuman lebar. Beberapa minggu pertama di sini, Pak Asraf pernah melontarkan candaan yang membuatku tak nyaman. Ia menjodoh-jodohkan aku dan Aster di depan staf puskesmas. Candaan konyol yang sempat jadi bahan tertawaan bersama. Sekarang tak ada yang mengungkitnya lagi. Aster juga tak lagi berusaha terlalu ramah padaku. Bukan karena ia kesal. Setidaknya aku tak merasa begitu. Lebih karena ia tampaknya sudah memahami satu hal yang sama dengan semua orang di tempat ini... aku memang tak ingin beramah-tamah dengan siapa pun. “Sudah ada pasien?” tanyaku. “Sudah ada tiga orang, Dok,” jawab Sari. “Oke. Saya siap-siap dulu.” Keseharianku di puskesmas juga berjalan dengan pola yang sama. Pasien yang datang kerap membawa keluhan yang seringkali sederhana. Gigi berlubang. Gusi bengkak. Tambalan yang lepas. Namun, sebagian besar datang saat rasa sakit sudah terlalu parah untuk diabaikan. Pasienku masuk satu per satu. Dan aku bekerja seperti biasa. Tenang, presisi, bicara seperlunya. Seorang bapak tua yang baru saja selesai diperiksa tersenyum lebar. Kami memanggilnya Papuq Ilham. Beliau sangat dikenal berhubung tak pernah lupa berkeliling desa setiap hari, menyapa hangat orang-orang yang ditemuinya. “Dokter Arial memang pendiam sekali, ya,” ujar beliau. Sari terkekeh. “Tapi tangannya cekatan kan, Papuq.” Aku melepas sarung tangan. “Gimana rasanya, Papuq? Ada yang kurang nyaman?” Beliau hanya tersenyum. “Tunggu satu jam, baru boleh makan,” ujarku lagi. “Beres, Pak Dokter,” sahut beliau. “Kalau setelah satu jam ada yang terasa sakit atau perdarahan, Papuq ke sini lagi, ya?” “Saya ke masjid saja kalau begitu, biar nggak jauh kalau harus balik lagi ke sini,” tanggapnya. “Terima kasih banyak, Dok.” Aku mengangguk. Ia berdiri, menepuk hangat bahuku. Aneng memang, meskipun aku jarang berbicara, masyarakat desa ini tak ada yang tampak sungkan. Mereka tetap datang. Tetap tersenyum. Tetap bercerita tentang kehidupan mereka. Seolah keheninganku bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Menjelang sore, puskesmas akhirnya mulai sepi. Tepat pukul enam belas, aku keluar dari ruangan praktik, berpamitan singkat kepada Pak Asraf dan staf yang lain. Langit Tetebatu sore itu luar biasa indah. Warna jingga menyebar di balik siluet Gunung Rinjani. Sawah-sawah disirami cahaya keemasan matahari yang datang dari sudut rendah. Aku berhenti di tepi jalan. Menatap pemandangan itu beberapa saat. Nyaris tak mengedip saking terpesona. Ponsel kukeluarkan, kamera kuaktifkan, lalu lensa kuarahkan membidik langit. Tombol rana kusentuh, gambar terekam. Satu foto. Lalu satu lagi. Kemudian beberapa. Saat itulah notifikasi muncul. Sebuah chat masuk dengan nama pengirim yang sanggup menggetarkan hatiku. Amanda. Aku gegas membuka pesan itu, mengunduh gambar yang ia kirimkan. Namun baru sesaat foto itu mengisi layar, file tersebut menghilang tiba-tiba. Pesan itu tiba-tiba menghilang. Pesan ini telah dihapus. Aku terdiam. Gambar singkat tadi membuat napasku terasa berat. Foto makam adikku, tampak hijau segar dengan taburan kelopak bunga dan satu buket bunga mawar putih. Aku tak lupa. Hari ini adalah tanggal lahir Yupi. Mungkin Amanda tak sengaja mengirim foto itu padaku. Atau mungkin ia menyesal setelah menekan tombol kirim. Dua ibu jariku masih menggantung di udara, otakku masih sibuk menimbang-nimbang, apakah perlu aku menanyakan kabar atau maksudnya mengirim lalu menghapus foto tadi. Aku belum sempat mengetik apa pun saat ponselku bergetar lagi. Kali ini, panggilan suara yang masuk. Mehdi. “Assalamu’alaikum.” Aku menyapa lebih dulu. “Wa’alaikumussalam,” jawabnya. “Masih hidup kau?” Aku mendengus. Pandanganku menyapu sekitar. Sebuah batu yang cukup besar dan datar menarik perhatianku. Aku mendekat, duduk di atasnya dengan hamparan sawah terbentang di depan sana. “Aya naon?” tanyaku. “Teu nanaon, rindu, paham teu maneh?” balasnya. “Udah urang bilang, teu pantes maneh ngomong Sunda pakai logat Batak!” “Sirik!” “Di mana euy?” “Sumba,” jawabnya santai. “Sumba?” “Hmm. Maneh tau Sumba teh di mana?” “Malah keterusan nyunda ih.” “Tau teu?” “Di tengah Danau Toba mereun,” balasku. “Blekok siah!” “Ngomong yang bener, koplok!” “Naon sih maneh, ngaganggu wae? Bayar!” “Maneh yang nelpon urang!” sentakku. “Masa?” “Mabok siah?” “Tidak, bah!” Mehdi kembali ke mode normalnya. “Urang aduin ke Umak mun maneh mabok-mabokan. Mati di kampung orang gara-gara mabok nggak lucu, bro.” “Nyicip pun tak pernah aku. Ah! Macam-macam saja prasangkamu bah!” balasnya. “Eh, Yal?” “Hmm.” “Kau nonton TV?” tanya Mehdi kemudian. “Henteu. Males da,” jawabku. “Masih tak tau kau kabar dunia ini?” “Kabar Indonesia yang urang kurang tau. Kenapa gitu? Memangnya ada yang penting?” “Kek apa yang penting itu menurutmu?” “Presiden longsor?” “Lengser, bodoh!” “Ya itulah.” Mehdi mendecak. “Padahal lagi rame mantan calon mertuamu digiring ke KPK.” Aku terdiam. Angin sore menggeser pucuk-pucuk padi di hadapanku. Sawah tampak seperti permukaan air yang beriak pelan. Beberapa burung kecil melintas lalu menghilang di balik pepohonan. “Serius maneh?” tanyaku akhirnya. “Serius lah. Bukan gosip warung kopi ini. Berita TV, bah.” “Kasus naon?” “Katanya sih proyek kawasan wisata. Ingat kau?” Aku mengernyit. Tentu saja aku ingat. Proyek besar yang dulu sering dibicarakan di meja makan rumah Erin setiap kali aku berkunjung. Om Bima begitu bangga saat menjelaskan rencana pembangunan kawasan resort itu; hotel, marina kecil, sampai lapangan golf. “Bukannya proyek itu masih jalan?” tanyaku lagi. “Justru itu,” balas Mehdi. “Kurasa investor barunya yang sebenarnya bermasalah.” “Investor baru?” Aku tahu siapa orang tersebut. Pemilik sebuah perusahaan konstruksi sipil besar. Melalui Papa, aku sempat mendengar desas-desus yang kurang baik mengenainya. “Hmm. Yang kabarnya tukang suap tingkat dewa.” Aku menatap hamparan sawah di depan sana. Papa sempat masuk sebagai investor awal di proyek tersebut. Namun setelah laporan keuangan perusahaan Om Bima tak menunjukkan perkembangan yang meyakinkan, ditambah perselingkuhan Erin dan kecelakaan yang menimpa aku dan Yupi, Papa menarik investasinya sebelum proyek itu masuk tahap pendanaan berikutnya. “Terus?” tanyaku. “Nah si tukang suap itu ternyata lagi diselidiki KPK. Uangnya diduga dari proyek pemerintah yang dikorupsi.” Aku mendecak pelan. “Keseretlah mantan calon mertuamu,” sambung Mehdi. Tersua hening sejenak. “Si Juno atau Erin ada menghubungimu?” tanyanya kemudian. “Henteu. Memangnya maneh nggak ada kontak-kontakan sama Juno?” balasku. “Buat apa? Kau pikir kawan macam apa aku ini?” Aku menghela napas panjang. Langit di atas Rinjani mulai beranjak gelap. Lampu-lampu rumah warga satu per satu menyala. “Yal?” Mehdi kembali menegurku. “Hmm.” “Kau sudah lupa sama Erin kan?” “Kenapa memangnya?” “Tak ada apa-apa. Khawatir saja aku.” “Satu-satunya yang bikin urang ngga bisa lupa adalah karena Juno urang ke Jatinangor. Karena itu Yupi minta ikut. Karena itu urang tau mereka selingkuh. Dan karena itu kami berhenti sebelum supir truk yang ngalamin micro sleeping menghajar banyak kendaraan termasuk kami. Karena itu adik urang meninggal bersama tiga orang lainnya.” Aku menarik napas dalam. “Urang ngga mungkin lupa sama mereka berdua, bro. Tapi bentuknya beda. Sekarang, mereka berdua adalah orang-orang yang paling urang benci.” Kami terdiam beberapa saat. Aku berdiri dari dudukku, waktunya lanjut melangkah menuju rumah. “Kalau nanti wartawan mulai membahas nama papamu, jangan kau kaget ya?” “Maksud maneh?” “Papa Ihsan pernah ada di laporan awal proyek itu, bro.” “Iya. Tapi Papa kan sudah keluar sebelum proyek itu lanjut.” “Aku cuma memperingatkan. Orang media kadang tak peduli urutan waktunya,” balas Mehdi. “Yang penting ada kaitannya.” Aku tak langsung menjawab. Pikiranku kembali tertuju ke foto makam Yupi yang tadi sempat muncul. “Besok aku pulang. Lusa insya Allah aku ke makam,” ujar Mehdi lagi. “Sekalian mampir lihat Mama dan Papa.” “Hatur nuhun, bro.” “Baik-baik kau, Yal. Jangan lama-lama kau menyebalkan.” Kekehanku pecah juga. “Kek gitu lah, senyum sikit-sikit. Lama-lama balik gila kau.” Senyumku kian lebar. “Ya sudah ya, mau mandi aku.” “Junub?” “Ah! Ada gila-gilanya memang kau! Anak soleh aku ini.” “Memangnya anak soleh ngga pernah mandi junub? Maneh yang ada gila-gilanya!” “Sudah sehat kau ya?” “Mau magrib di sini.” “Pantas aneh kau. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam.” Panggilan terputus. Hari ke dua puluh delapan sejak kakiku menjejak Tetebatu, sebuah kabar yang harusnya tak membuatku bersyukur namun justru demikian, dan sebuah dialog yang membuatku sedikit tertawa. “Pokoknya, gue mau Akang bahagia. Titik!” Apakah aku masih boleh berbahagia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD