Nyeri.
Seluruh tubuhku terasa nyeri. Dari kepala hingga ujung kaki.
Aku berusaha mengangkat kelopak mataku yang terasa berat, sementara riuh redam suara di sekitar sudah menyapa pendengaranku lebih dulu.
Cahaya yang menyilaukan menyerang penglihatanku. Buram, tak ada yang tampak jelas. Aku mengerjap, mencoba menyesuaikan pandangan.
Langit-langit putih.
Lampu yang terlalu terang.
Bau khas fasilitas kesehatan.
“Iyal?”
Suara itu membuatku menoleh ke sisi kanan.
Mama duduk di sampingku. Jilbabnya tak rapi seperti biasanya, matanya bengkak, parasnya pucat tanpa riasan tipis. Genggamannya di tanganku terasa kian kuat, wajahnya mendekat, seolah memastikan apakah aku melihat beliau.
“Alhamdulillah… ya Allah…” suara Mama pecah saat kalimat syukur itu terucap.
Aku mengernyit. Tenggorokanku terasa kering. Kepalaku sakit bukan main.
“Mama…” lirihku.
Mama mengelus lembut lenganku. Air matanya terus saja berderai. “Iya, Sayang. Mama di sini, Nak.”
Aku mencoba bangun, namun nyeri di kepala membuatku meringis. Tanganku refleks bergerak ke pelipis. Ada perban yang membalut. Selang oksigen di hidung. Dan di lengan kiriku juga terpasang infus.
Potongan-potongan kejadian lalu datang menyerbu.
Lampu jalan.
Minimarket.
Yupi membuka pintu.
Suara benturan.
Aku spontan menoleh ke sisi lain ruangan, mencari adikku.
“Yupi mana, Ma?”
Pertanyaan itu terlontar begitu saja.
Tangis Mama yang tadinya sunyi, kini bersuara. Nadanya begitu menyayat hatiku.
Beliau menutup mulut dengan telapak tangan, seolah tengah menahan suara yang terlalu keras untuk dikeluarkan di ruangan ini.
Dadaku sesak.
“Ma…” Suaraku melemah. “Yupi mana, Ma?”
Mama menggeleng. Beliau tampat tak sanggup menjawab. Bahunya bergetar. Ia menunduk, menangis dengan meredam suaranya.
Aku membeku.
Takut.
Hingga... Mama memaksakan diri menatapku lagi. “Papa… lagi ngurus Yupi.”
Kalimat itu tak langsung bisa kupahami.
Atau mungkin… aku paham, tapi menolak memahaminya.
“Ngurus gimana, Ma?”
Tangis Mama kian pecah. Seolah pertahan terakhir beliau akhirnya kandas.
Dan saat itulah jantungku seolah terlepas dari raga, jatuh ke lubang hitam yang kedalamannya tak mampu kukira.
Suara benturan itu kembali terngiang.
Tubuh Yupi yang terlempar.
Tanganku yang menggapai namun tak mampu meraihnya.
Aku menatap Mama tanpa berkedip. “Ma…”
Bibir Mama bergetar. “Adikmu nggak sempat ditolong, Nak,” tutur beliau, terpatah-patah.
Dunia di sekitarku seketika sunyi. Suara-suara menjauh.
Aku tahu kalimat itu.
Aku tahu persis artinya.
Sebagai seseorang yang baru saja mendapatkan gelar profesi Dokter Gigi, aku sudah cukup lama mondar-mandir di lingkungan rumah sakit, aku terlalu paham arti kalimat yang sengaja diperhalus seperti itu.
Tak sempat ditolong.
Meninggal di tempat.
Aku menatap lurus ke depan. Kosong. Tak menangkap apa pun.
Mama terus menangis di sampingku. Tangannya masih menggenggam tanganku, seolah takut aku ikut menghilang jika dilepas.
Sementara aku…
Aku tak bisa menangis.
Tubuhku kaku. Pikiranku penuh.
Memori itu datang lagi, bak roll film yang berputar di depan mataku.
“Gue haus.”
“Akang kopinya manis nggak?”
“Sedih da gue lihat Akang kayak gini. She doesn't deserve you.”
“Pokoknya, gue mau Akang bahagia. Titik!”
Pintu mobil yang terbuka.
Teriakan.
Cahaya menyilaukan.
Dan benturan keras.
Aku terengah. Oksigen di hidungku sungguh tak berguna.
Semua keputusan kecil yang kuambil semalam, sekarang terasa seperti jebakan.
Aku yang memutuskan ke Bandung.
Aku yang memilih mengetuk pintu itu.
Aku yang memaksa menyetir untuk menjauh.
Aku yang menepi.
Aku yang membiarkan Yupi turun.
“Iyal…” Mama menggenggam tanganku lebih erat. “Iyal kenapa, Nak? Jangan dipikirkan dulu, Sayang. Iyal?”
Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya?
Adikku ikut denganku.
Adikku ada di kursi sebelahku.
Adikku yang sempat bilang ingin membelikanku minum.
Dan sekarang Papa sedang mengurus jenazahnya.
Jenazah.
Aku tercekat, tenggorokanku terasa sakit.
Selang oksigen kulepas.
Tubuh ini kupaksa terangkat.
“Yupi!” seruku, meski nyaris tak ada suara yang terdengar.
“Iyal, mau ke mana, Nak?”
“Yupi!”
“Dokter? Dokter tolong,” tangis Mama sambil berusaha menahanku.
“Yupi!”
Aku menangis.
“Iyal!” seru Mama panik.
Kaki kiriku turun lebih dulu ke lantai. Dingin keramik IGD menembus telapak kakiku. Lalu kaki kanan menyusul. Tubuhku nyaris oleng jika bukan karena Mama yang menahan.
“Iyal mau lihat Yupi, Ma!”
“Iyal, jangan, Nak! Jangan!” tangis Mama.
Aku tak peduli. Pandanganku liar, menyapu setiap sudut ruangan seolah adikku akan muncul dari balik tirai pembatas atau dari pintu mana pun.
“Lepas, Ma.”
“Dokter! Tolong!” tangis Mama pecah semakin keras.
Dua orang tenaga medis masuk ke bilik, mereka menahanku dari kanan dan kiri. Seseorang mencoba memasang kembali selang oksigen ke wajahku. Seseorang lain memintaku tenang, namun suaranya terdengar jauh. Sangat jauh.
Aku tetap memaksa turun dari ranjang sepenuhnya. Aku harus melihat adikku. Ia celaka karena aku.
Kedua kakiku akhirnya menapak lantai dengan sempurna.
Namun begitu aku mencoba mengambil langkah pertama, dunia langsung berputar.
Ruangan bergoyang.
Telingaku berdenging.
Lampu putih di atas kepalaku pecah menjadi lingkaran-lingkaran kabur.
Suara tangis Mama.
Suara perawat yang berusaha menaikkanku kembali ke ranjang.
Gema lain di sekitar yang rasanya terlalu ramai.
Semuanya bertumpuk.
Kemudian kian menjauh.
Tubuhku kehilangan tumpuan.
Sesuatu terasa menekan kepalaku dari dalam.
Pandanganku akhirnya menggelap.
Dan di batas kesadaran, aku masih berusaha memanggil adikku.
“Yu.…”
Lalu... gelap kembali menelanku.
***
Pelayat memenuhi pemakaman saat kami tiba menjelang siang hari. Karangan bunga berjajar. Wajah-wajah prihatin menatap kami, menunjukkan simpati. Kalimat yang sama diulang-ulang: sabar, kuat, takdir Allah.
Beberapa jam lalu, Dokter mengizinkanku pulang sambil menyerahkan surat pengantar perawatan lanjutan di Jakarta. Cedera Kepala Ringan dan Luka robek scalp, demikian yang tertulis di dokumen tersebut.
Aku tak langsung turun dari kendaraan ini. Tatapanku masih tertuju ke jasad Yupi. Papa di sampingku, menggenggam tanganku, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirnya sedari tadi. Kami sama-sama berharap ini semua hanyalah sekadar mimpi buruk.
Lalu, pintu terbuka. Sanak saudara kami berdiri di sana, sigap untuk menerima keranda adikku.
‘Ya Allah, kenapa bukan aku saja yang Kau ambil?’
“Bapak dan si Aa turun dulu,” ujar petugas ambulans.
“Ayo, Yal,” ujar Papa.
Aku mengangguk.
Namun tubuhku tak langsung bergerak.
Tanganku masih menggenggam sisi keranda. Besinya dingin. Aku khawatir terlalu dingin untuk seseorang yang beberapa jam lalu masih bernapas, masih berbicara, masih duduk di sampingku.
Papa akhirnya turun lebih dulu. Genggamannya di tanganku terlepas perlahan. Aku masih bergeming sebentar lagi di dalam ambulans, memeluk keranda sambil membayangkan tubuh Yupi yang hangat dan tawa cerianya. Adikku yang senang sekali menempeliku.
“Iyal?” panggil Papa lagi.
Aku menghela napas pelan, lalu melangkah turun dari ambulans. Telapak kakiku menyentuh tanah pemakaman yang kering dan berdebu. Kepalaku terasa terlalu ringan, seolah dunia bergoyang di sekelilingku.
Seseorang memegang lenganku. “Pelan-pelan, Nak,” ujar beliau.
Aku menyapukan pandangan, mendapati seorang perempuan yang menahan tangisnya.
Amanda.
Kekasih adikku.
Mereka bahkan belum lama bersama.
Usapan lembut di bahuku kembali membuatku menoleh, menatap Om Ian—Ayah Amanda—yang masih menahanku agar tak limbung.
Aku mengangguk singkat. Mulut dan lidahku rasanya terkunci.
Keranda Yupi diturunkan dari ambulans. Keluarga juga teman-teman adikku yang menyambut dan mengangkat.
Aku tak bergerak.
Bukan karena tak mau.
Dokter melarangku mengangkat apa pun. Om Ian bahkan menahanku, memastikan aku tak ikut mengangkat keranda.
Aku hanya bisa berdiri.
Menonton.
Melihat tubuh adikku dibawa menuju masjid kecil di sisi pemakaman untuk dishalatkan.
Langkah orang-orang itu terasa terlalu cepat.
Aku ingin menyuruh mereka berjalan lebih pelan.
Memberiku waktu sedikit lagi.
Namun keranda itu terus bergerak menjauh.
Sesak menghantam lagi. Pusing datang kembali.
Aku menatap langit sejenak. Matahari seolah meredam teriknya. Awan-awan memenuhi langit yang sedikit kelabu. Suara pelayat terdengar laksana gema jauh di telinga.
“Kuat, Yal?” tanya Om Ian.
Aku hanya mengangguk.
Padahal aku sendiri tak tahu apa arti kata kuat sekarang.
Kami berjalan menuju masjid.
Orang-orang memberi jalan saat Papa lewat di depan keranda. Beberapa menepuk bahunya. Beberapa memeluk Mama yang tampak begitu lelah.
Aku mengikuti dari belakang.
Di dalam masjid, jasad Yupi diletakkan di depan saf.
Orang-orang mulai berbaris untuk shalat jenazah.
Aku berdiri di barisan pertama, tepat di belakang Papa yang menjadi imam.
Sejenak, aku menoleh ke belakang. Masjid ini penuh. Bahkan terasnya ikut sesak.
Takbir pertama dikumandangkan. “Allahu akbar.”
Aku mengangkat tangan.
Ummul Qur’an kulantunkan dalam hati.
Takbir kedua. “Allahu akbar.”
Shalawat Nabi.
Takbir ketiga. “Allahu akbar.”
‘Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.’
Takbir keempat. “Allahu akbar.”
‘Allahumma laa tahrimnaa ajrahu wa laa taftinnaa ba'dahu waghfir lanaa walahu.’
“Assalamu'alaikum wa rahmatullah.”
‘Assalamu’alaikum wa rahmatullah. Assalamu 'alaikum wa rahmatullah.’
Shalat selesai. Papa mengangkat kedua tangannya, memimpin doa.
Setelahnya, orang-orang mulai bergerak lagi.
Keranda kembali diangkat.
Kali ini menuju liang yang sudah digali beberapa meter dari masjid.
Aku mengikuti dari belakang. Kali ini Papa berjalan bersamaku.
Langkahku sedikit goyah. Papa menoleh menatapku, berhenti sejenak, memastikan aku masih bisa berjalan. Aku mengangguk singkat.
Liang itu sudah menunggu.
Tanahnya masih basah.
Papa turun ke dalamnya bersama dua sahabatku yang sama sekali tak kusadari kehadiran mereka sedari tadi; Mehdi dan Nino.
Jenasah Yupi diturunkan perlahan.
Orang-orang memperhatikan, imam masjid di tempatku tinggal memberi panduan dari atas.
Lalu... Papa mengumandangkan adzan. Suaranya parau. Tak bisa kubayangkan bagaimana hancurnya beliau. Ia yang mengazankan kami saat lahir, dan kini ia pula yang mengazani salah satu dari kami yang pulang lebih dulu.
Dadaku terasa semakin sesak.
Aku menggenggam ujung kemejaku tanpa sadar.
Mehdi dan Nino sudah berdiri mengapitku, merangkul hangat. Mereka tak bicara.
Tanah mulai dimasukkan. Tubuh adikku perlahan tertimbun.
Aku menatap liang di depanku.
Di sanalah adikku sekarang.
Yang semalam masih bersikeras ikut denganku meski aku sudah mencoba melarangnya.
Yang semalam bilang ia ingin membelikanku kopi.
Yang semalam berkata ia ingin aku bahagia.
Namun kini... ia tak akan pulang bersamaku lagi.