“Kang? Akang nggak apa-apa?”
Aku menoleh. Adikku menatapku dengan ekspresi cemas.
Jupiter Alexander Ihsan. Belum lama kami berhenti memanggilnya Alex. Sekarang semua orang menyebutnya Yupi.
Aku menghela napas panjang. “Urang bubaran sama Erin,” lirihku.
Yupi membelalak. “Hah? Kenapa, Kang?”
Aku tak menjawab, namun cengkeramanku di roda kemudi kian menguat.
Adikku juga memberi jeda, tak bersikeras mencecar seperti normalnya.
Hingga... beberapa menit berlalu. Satu lagu berdurasi tiga menit baru saja selesai mengalun dari radio mobil.
“Kang…” Yupi kembali menegurku, ragu. “Akang bubaran karena Papa?”
Keningku sontak mengerut. “Kok karena Papa? Maksud maneh apa?”
Yupi menggaruk kepalanya, ekspresinya bimbang.
Aku menatapnya penuh tanda tanya. “Pi?”
Ia menghela napas pelan. “Gue pernah nggak sengaja dengar Papa ngobrol sama Mama.”
“Terus?”
“Papa nanya ke Mama… kalau Papa nggak lanjut investasi tahap dua ke perusahaan keluarganya Kak Erin, Akang bakal marah nggak.”
Aku terdiam.
“Papa juga bilang… dia takut hubungan Akang sama Kak Erin jadi bermasalah kalau kerja sama bisnisnya nggak lanjut.” Yupi mengambil jeda sejenak. “Padahal manajemen mereka yang nggak sehat,” tambahnya.
Aku menghela napas panjang, mengusap wajahku. “Kok maneh baru cerita sekarang?”
Yupi menaikturunkan bahu. “Gue kan nggak ngerti urusan bisnisnya Papa sama Om Bima, Kang. Mau nanya Papa juga pasti nggak akan dijawab, yang ada gue malah disuruh belajar aja. Lagian… gue kira nggak penting-penting amat. Nggak mungkin ada hubungannya dengan lo dan Kak Erin.”
Ia berhenti sejenak, sorot matanya berubah, jelas penasaran.
“Memangnya ada, Kang?”
Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu.
Namun apa pun alasan di balik keraguan Papa, kurasa beliau harus tahu jika hubunganku dengan Erin sudah berakhir.
Kutatap kembali layar ponselku, membuka daftar panggilan, mengetuk ikon panggilan di nomor Papa.
Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
“Yal?” Papa menyapa lebih dulu. Suaranya terdengar parau, jelas baru terbangun dari tidur. Ia menarik napas pelan. “Kenapa, Nak?”
Aku menghela napas panjang. “Pa… Iyal putus sama Erin,” ujarku kemudian, tanpa basa-basi.
Hening menyusul di seberang sana.
Kuatur napasku, berusaha menjaga emosi dan kewarasanku tetap stabil.
“Keadaan kamu gimana?” tanya Papa kemudian.
“I’m broken, Pa,” lirihku.
Kekehan singkat lolos dari bibirku, yang lebih terdengar seperti ejekan untuk diriku sendiri.
“She’s slept with Juno,” ujarku lagi, mengadu, seperti anak kecil.
Yupi diam saja di sampingku, tak menimpali seperti biasanya.
“Good,” ujar Papa akhirnya.
Aku mengerutkan kening. Syok dengan tanggapan beliau.
“Tidak perlu memperjuangkan seseorang yang tidak peduli nilaimu, terlebih berkhianat,” lanjut ayahku.
Ada kelegaan yang tiba-tiba saja menyelip di sela rasa sakit, mungkin karena dukungan beliau. Aku diam saja. Jemariku terangkat, menghapus air mata yang menitik.
“Time will heal, Yal,” ujar Papa lagi.
“Iya, Pa,” tanggapku.
“So, apa perlu Papa jemput?”
Aku menggeleng, meski beliau tak mungkin melihatnya.
“Nginap aja dulu di sana,” ujar Papa kemudian, seolah tahu jawabanku barusan. “Take your time kalau masih kepingin sendiri.”
“Hmm.”
“Kita bicara lagi di rumah setelah kamu pulang.”
“Iya, Pa.”
“Oke. Yupi di situ? Papa mau bicara sebentar.”
“Ini, Pa.”
Kuserahkan ponsel kepada adikku.
Sementara mereka berbicara, aku menempelkan kening ke roda kemudi.
Aku masih sibuk mengatur napas agar nyeri yang menjalar ke seluruh tubuhku perlahan bisa teratasi.
Namun, ternyata tak mudah. Dadaku seolah ditekan sesuatu yang berat.
Air mataku menetes lagi.
Sungguh… aku merasa bodoh.
Aku mengangkat kepalaku, menoleh ke ujung gang di samping. Sialan! Bisa-bisanya aku berharap Erin muncul, terengah karena berlari, mengejarku, berusaha meminta maaf.
“Kang?” tegur Yupi.
Khayalanku pecah. Aku sontak menoleh.
Yupi menyodorkan ponsel padaku. “Kata Papa, jangan paksa pulang malam ini.”
“Hmm. Kita cari hotel aja,” tanggapku. “Di Bandung.”
Adikku menggaruk keningnya, seolah ingin mengusulkan kami mencari hotel di sekitar sini saja. Namun ia tahu aku ingin menjauh.
“Oke,” ujarnya akhirnya. “Gue aja yang nyetir, Kang?”
“Maneh belum punya SIM, Pi. Urang nggak apa-apa kok.”
“Apaan nggak apa-apa, Kang…” lirihnya.
“Kita jalan pelan-pelan aja,” sahutku.
Ia tak lagi mendebat.
Mobil kulajukan, perlahan menjauh dari kawasan yang begitu akrab dengan hidupku selama enam tahun terakhir.
Lampu-lampu jalan mulai jarang. Malam terasa semakin sepi.
Beberapa menit pertama tak ada yang salah.
Namun napasku kembali berantakan.
Dadaku terasa terhimpit lagi.
Jemariku gemetar di roda kemudi.
Aku mencoba memaksa fokus ke garis jalan. Kecepatan mobil. Rambu lalu lintas.
Namun pikiranku terus kembali ke satu tempat.
Jendela kamar itu.
Wajah Erin.
Ia yang disetubuhi.
Senyumnya.
Ciuman mereka.
Tatapannya yang kesal saat aku memergokinya.
Ia yang berlari mendekati Juno.
Lalu amarahnya.
Dan satu kata itu.
Anjing!
Ya Tuhan, apa yang salah dengan diriku?
“Kang, ada minimarket tuh,” ujar Yupi setelah sekitar lima belas menit kami berkendara. “Berhenti bentar dong. Gue haus.”
Aku mengangguk.
Lampu sein kunyatakan, mobil perlahan menepi di bahu jalan tepat di depan minimarket.
Area parkirnya sempit. Dua mobil berhenti seenaknya di dalam, membuat mobilku dan dua kendaraan lain harus parkir di luar.
Aku menarik tuas rem tangan.
Mesin mobil masih menyala.
Lampu-lampu kendaraan dari arah berlawanan melintas cepat.
Yupi membuka sabuk pengamannya. “Akang kopinya manis nggak?” tanyanya.
Aku tak langsung menjawab. Untuk mencerna pertanyaan sederhana seperti itu saja, aku membutuhkan waktu lebih lama.
Satu mobil lagi berhenti di belakang kami. Silau lampunya yang memantul dari kaca spion tengah membuatku memalingkan wajah sedikit.
“Kang?” tegur Yupi lagi.
“Oh… iya,” jawabku singkat.
Yupi membuka pintu sedikit, lalu menoleh lagi. “Akang mau pesan yang lain nggak? Biskuit kacang? Malkist? Wafer? Bakpao?”
Aku menggeleng. Tak ada yang menarik.
Yupi menghela napas pelan. “Semangat, Kang,” ujarnya. “Sedih da gue lihat Akang kayak gini. She doesn't deserve you.”
Aku tersenyum miris. “Then who does?”
“Pokoknya, gue mau Akang bahagia. Titik!”
Ia membuka pintu lebih lebar.
Namun belum sempat aku menanggapi ucapannya... sebuah teriakan memecah udara.
“AWAAAS!”
Seketika dunia seperti terhenti.
Lampu sorot putih begitu menyilaukan, memantul dari kaca spion ke iris mataku.
Lalu....
‘BRAAAK!’
Benturan keras menghantam bagian belakang mobil kami.
Mobilku terhentak keras ke depan.
Tubuh Yupi yang siap keluar dari mobil terlempar.
Kaca depan pecah dalam satu ledakan tajam.
Suara logam remuk memenuhi udara.
Tanganku refleks terulur, mencoba meraih adikku.
Terlambat.
Tubuhku sendiri terbanting ke depan.
Kepalaku menghantam roda kemudi.
Airbag baru terbuka sesaat setelahnya.
Sakit.
Ada cairan hangat mengalir di wajahku.
Teriakan orang-orang mulai terdengar dari luar.
Derap langkah berlari.
Seseorang memukul kaca mobil.
“A! A!”
Namun suara-suara itu semakin jauh.
Lampu-lampu berubah kabur.
Dingin.
Senyap.
Kelam.