Ririn melangkah tanpa tujuan, hingga matanya menangkap selembar kertas yang ditempel miring di tiang listrik. Kertas itu sudah agak kusam, ujungnya terlipat, mungkin sudah beberapa hari terkena panas dan hujan. Namun satu baris tulisan di tengahnya membuat langkah Ririn terhenti. Dicari tenaga kerja Untuk tempat makan Bersedia kerja serabutan Disediakan makan, tinggal dalam, dan gaji pokok Ririn membacanya pelan. Sekali. Lalu sekali lagi. Entah kenapa dadanya terasa sesak, lalu hangat-perasaan yang aneh, bercampur antara putus asa dan harapan kecil yang hampir tidak berani ia akui. “Kerja serabutan…” gumamnya. Dulu, ia pernah bermimpi bekerja di perusahaan besar. Mengenakan pakaian rapi, duduk di balik meja kantor, memanfaatkan semua pendidikan yang susah payah ia tempuh. Ia pern

