Pesawat yang kini mereka tumpangi membelah awan menuju Jakarta, membawa ketegangan yang masih tersisa dari Surabaya. Di kabin kelas bisnis yang mewah, Amindita duduk dengan punggung tegak, berusaha keras memasang topeng profesionalisme yang paling sempurna. Matanya menatap lurus ke arah jendela, menyaksikan gumpalan awan yang seputih salju, mencoba menghanyutkan rasa cemburu dan jengkel yang masih berdenyut di dadanya. Apa ia cemburu? Entahlah, yang jelas saat ini ia merasa tak nyaman. Meski kontrak dengan MHS Holding berakhir dengan hasil yang memuaskan—di mana Dialta Aryasatya secara pribadi memuji ketelitian Amindita dalam menyusun draf akhir—kemenangan profesional itu terasa hambar. Sebab, beberapa meter di depannya, pemandangan yang tersaji benar-benar menguji batas kesabarannya.

