Hawa dingin dari lantai marmer dapur tak lagi terasa. Atmosfer di ruangan itu telah berubah menjadi medan pertempuran gairah yang panas dan menyesakkan. Piama sutra putih Amindita kini tergeletak mengenaskan di sudut lantai, berserakan bersama kemeja Praditya yang hancur tanpa kancing. Amindita terduduk pasrah di atas meja dapur, tubuh polosnya terekspos di bawah pendar lampu pantry yang remang, hanya menyisakan celana dalam—undies—renda berwarna hitam pekat yang kontras dengan kulit beningnya. Di depannya, Praditya berdiri menjulang, bertelanjang d**a, menyisakan celana kain hitamnya yang sabuk kulitnya sudah terbuka dan menjuntai longgar di pinggang. Napasnya memburu, matanya yang gelap mengunci tatapan Amindita dengan intensitas pemujaan yang berbahaya. "Mas... jangan begini," bisik

