35

1269 Words

Suasana dapur yang dingin seketika memanas. Amindita terpekik kaget, suara tertahannya teredam oleh deru napas Praditya saat pria itu tiba-tiba mencengkeram pinggangnya dan mengangkat tubuh mungilnya ke atas meja marmer dapur yang keras dan dingin. "Mas! Lepas—!" Kalimatnya terputus. Amindita mencoba mendorong d**a bidang Praditya, namun tenaga pria itu jauh lebih besar. Dengan lancang, Praditya merangsek masuk ke sela paha Amindita yang terbalut piama sutra putihnya mengunci pergerakan wanita itu sepenuhnya hingga punggung Amindita membentur dinding kabinet. Tanpa sepatah kata maaf, tanpa penjelasan atas pemandangan menjijikkan siang tadi, Praditya justru menyerang bibir Amindita dengan ciuman yang brutal dan menuntut. Ada rasa frustrasi, rasa bersalah, dan gairah yang meledak-ledak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD