Amindita melepas kacamata bacanya dengan helaan napas panjang, lalu memijat pangkal hidungnya yang terasa pegal. Laporan detail mengenai poin-poin revisi kontrak MHS Holding akhirnya selesai, persis seperti yang diminta oleh Tuan Praditya—atasannya yang kaku itu. Dan sialnya suaminya sendiri. Sedari tadi, satu-satunya hal yang ia lakukan di dalam kamar ini adalah menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas digital. Itu adalah pelarian terbaik. Apalagi ia tahu betul, di balik pintu kamarnya, di ruang tengah Penthouse mewah ini, ada Widya—sang tunangan resmi—yang jelas sedang bersama dengan suaminya. Mengingat pemandangan menyakitkan tadi sore, saat Praditya dengan bekas kissmark di lehernya dan Widya yang hampir telanjang berada di ruangan yang sama, membuat d**a Amindita kembali berdenyut

