33

1130 Words

Praditya berdiri di depan cermin wastafel, napasnya memburu saat ia menggosok lehernya dengan kasar menggunakan handuk kecil. Matanya menatap tajam pantulan dirinya sendiri yang tampak berantakan. Di sana, di pangkal lehernya, terpampang jelas bercak merah—jejak kissmark paksa yang ditinggalkan Widya. "s**t!" umpatnya tertahan. Ia merasa kotor. Rasa jijik merayap di sekujur tubuhnya, seolah-olah sentuhan Widya adalah racun yang merusak kulitnya. Ia segera menyambar kemeja baru dari lemari, mengancingkannya dengan gerakan yang menahan amarah, berusaha menutupi jejak memuakkan itu sebelum ada orang lain yang melihatnya. Terutama Amindita. Istrinya. Dengan langkah tegap yang dipaksakan, Praditya keluar dari kamar utama. Ia berharap Widya sudah pergi, namun pemandangan di ruang tengah jus

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD