Sedari tadi ponselnya berdering di dalam saku jas mahalnya. Tak berniat menjawabnya sama sekali. Meski pembicaraan mereka saat ini sudah santai, tak terlalu serius seperti beberapa menit sebelumnya. Namun semakin lama Praditya tak menggubris. Panggilan itu terus bergetar membuatnya terusik. Dengan terpaksa, Praditya berpamitan pada Dialta dan Sena untuk mengangkat panggilan itu terlebih dahulu. Praditya melangkah lebar menjauh dari meja makan, sepatu pantofelnya mengetuk lantai marmer dengan irama yang mencerminkan kegusaran yang tertahan. Ia berdiri di sudut balkon restoran yang sepi, memunggungi keramaian, lalu menekan tombol hijau dengan kasar. "Ada apa, Wira? Kau tahu aku sedang di tengah jamuan makan siang dengan Dialta," desis Praditya, suaranya rendah namun tajam seperti sembil

