Bab 6

1094 Words
Angel kembali bukan ke mansion orang tuanya, melainkan apartemen kecil yang dulu sempat dibeli olehnya, beruntungnya dia pernah membeli apartemen saat ibunya masih memimpin perusahaan keluarganya, hanya saja bodohnya dia, dia hanya membeli apartemen kecil, Dia tidak mengira jika hidupnya akan berubah dan ayahnya akan berhianat dari ibunya dan malah membawa selingkuhannya beserta anaknya. Untuk itu dia hanya membeli apartemen biasa dan bahkan kecil hanya untuk dirinya dulu bersembunyi jika bosan di rumah. Tidak banyak tabungan Angel, namun dia masih memiliki barang-barang berharga yang mungkin nantinya dia bisa jual untuk keperluan dadakannya. "Setidaknya di sini aku lebih tenang dibandingkan di mansion, di sana banyak penghuni nerakanya." Gumam Angel. "Aku harus segera menjual barang-barangku, sepertinya aku harus mengajak Mama pergi dari sini lebih dulu, aku akan kembali jika situasinya sudah stabil dan akan merebut semuanya." Gumam Angel yang memikirkan rencana ke depannya. Dia tidak mau menikah dengan Ethan meskipun saat ini dia masih harus berpura-pura menerimanya, dia akan menjual barang-barangnya dan mungkin juga menjual apartemennya ini untuk pengobatan ibunya, setelah setidaknya ibunya melakukan beberapa terapi, mungkin dia akan membawanya jauh dari sini. Dia sebenarnya memiliki pemikiran untuk mencari pekerjaan, tapi dia belum memiliki pengalaman bekerja karena dia baru lulus kuliah, Rata-rata di perusahaan besar, dia harus memiliki pengalaman bekerja untuk bisa diterima oleh sebuah perusahaan tersebut. Angel melihat ke arah ponselnya dan ternyata memang banyak yang masih membutuhkan karyawan , hanya saja Angel tertarik dengan sebuah perusahaan tidak begitu besar namun sedang membutuhkan bagian yang sepertinya dia bisa. "Aku coba di sini saja, mana tau perusahaan kecil seperti ini banyak peluang aku langsung bisa masuk ke dalam sana, Kalau perusahaan besar jelas aku tidak akan masuk kriteria mereka." Gumam Angel. "Masa bodoh dengan mereka." Gumamnya. ***** Dante yang baru pulang dari urusannya, memilih untuk pulang ke mansion ayahnya karena sedari kemaren dia sangat cerewet dan ingin dirinya pulang ke mansion. "Hai, Dante! Lama sekali kau tidak pulang ke sini, Papa pasti sangat senang." Sapa Margaret dengan tersenyum. Dante tidak memperdulikannya dan memilih untuk langsung pergi dari sana. "Di mana sopan santunmu, Dante! Kakak iparmu menyapamu dan berbicara denganmu." Ucap Declan. Kakak dari Dante. "Aku memang tidak memiliki sopan santun, jadi aku tidak perlu menyauti perkataannya." Ucap Dante dengan santainya yang jelas membuat Declan marah. "Tidak! Jangan membuat keributan, Sayang! Biarkan saja." Ucap Margaret. Dante sangat malas meladeni drama di depannya, dia tidak membenci kakaknya, hanya saja dia menganggap kakaknya sangat bodoh, dia sangat tau bagaimana sikap kakak iparnya, sedari dulu, Dante tau jika Margaret menganggap Dante sebagai saingan karena warisan dari ayahnya. Apalagi jika saat diriny memiliki kekasih atau istri, dia tidak mau karena itu akan membuat mertuanya semakin banyak memberikan dia hartanya. Dante memilih pergi ke kamarnya namun ternyata pelayan mengatakan jika dirinya diminta untuk menemui ayahnya sekarang. "Apa si tua itu tidak bisa menunggu." Dante mengomel namun pada akhirnya dia menurutinya. Dante menuju ruangan ayahnya karena dia di tunggu di sana. "Apa kau menunggu ayahmu mati lebih dulu baru kau mau datang ke sini." Ucap Edwin yang membuat Dante malas karena ayahnya lagi-lagi berdrama. "Langsung intinya saja. Pa!" Ucap Dante yang tidak mau basa-basi. Edwin menghela nafas panjangnya karena putra bungsunya ini tidak berubah. "Cepat nikahi wanita atau kau tidak menerima warisan sepeserpun dariku." Ucqp Edwin. "Kau tau sedari dulu aku tidak tertarik dengan hartamu." Ucap Dante dengan santainya. "Aku akan memberikan semuanya kepada Declan dan putranya." Ucap Edwin. "Berikan saja! Aku tidak peduli asal mereka tidak menyenggolku." Jawabnya yang membuat Edwin semakin kesal. "Kapan kau berubah? Berhentilah dari anggota berbahaya mu itu, kau putra dari kelurga Sinclair, kau adalah keluarga terhormat." Ucap Edwin yang marah. "Kau tau jawabanku. Jadi aku tidak perlu menjawabnya." Ucal Dante. "Selama ini aku menjaga keluarga Sinclair, bukan malah menodainya seperti menantumu." Lanjutnya. "Dantee!" Edwin rasanya benar-benar habis kesabaran karena putranya ini memang tidak bisa di atur, dan yang bisa mengaturnya hanyalah ibunya. Edwin menghubungi istrinya di hadapan putranya yang membuat Dante terkejut. "Dia tidak bisa di atur! Tolong beritahu dia." Ucap Edwin lalu meletakkan ponselnya di meja. "Dante! Bagaimana kabarmu, Sayang." Ucap seorang wanita dengan lembut di seberang mana. "Bagaimana kabar mama?" Bukannya menjawab, Dante malah bertanya soal keadaan ibunya. "Aku baik-baik saja jika kalian juga baik." Ucap Rianna. "Dengarkan apa kata ayahmu, dia hanya ingin yang terbaik untukmu." Lanjutnya. "Aku memintanya untuk menikah, bukan memintanya untuk hal lain." Ucap Edwin menyauti. "Aku akan menjodohkannya jika dia tidak mau membawa wanitanya." Lanjutnya. "Tidak! Aku sudah memiliki wanitaku, hanya saja aku belum mengenalkannya karena dia masih sibuk." Ucap Dante. "Baiklah, jika sudah memilikinya, kenalkan dengan mama, mama juga ingin melihatmu menikah saat mama masih hidup." Ucap Rianna. "Mama akan tetap hidup sampai aku menikah dan memiliki anak." Ucapnya dengan mutlak. "Mama istirahat saja dan fokus dengan perawatan mama, jangan dengarkan papa, aku sudah memiliki calon istri." Ucap Dante. "Baiklah," ucap Anna terkekeh. Mereka tidak mengobrol lama, karena memang Anna juga ingin melakukan terapi. "Aku tau jika kau hanya membual tentang wanitamu, aku bisa memilihkan wanita yang tepat untukmu, tidak mungkin jika kau akan keduluan dengan keponakanmu." Ucap Edwin. "Cucu papa yang bodoh itu?" Ucap Dante tersenyum remeh. Edwin hanya diam saja karena memang yang dikatakan Dante benar. "Jangan terlalu memanjakannya atau dia akan menjadi pria yang gagal." Ucap Dante. "Calon istrinya akan merubahnya nantinya, dia adalah wanita yang baik dan berpendidikan." Ucap Edwin. "Ya, dan dia sangat tidak beruntung karena mendapatkan pria bodoh seperti dia." Ucap Dante, "Dia mau menikah dengan Ethan, Papa tidak memaksanya." Dante akhirnya hanya diam saja dan tidak menanggapinya lagi, dia sejujurnya baru tau jika ternyata mereka dijodohkan, dia tidak tau sebenarnya apa yang sudah terjadi karena dia tidak mencari tau yang sebenarnya, namun dia bisa melihat jika sepertinya ada yang tidak beres karena Angel saat itu mengajaknya tidur bersama, Setelah selesai mengobrol dengan ayahnya, Dante tidak ke kamarnya dan langsung ingin pergi dari sana. "Paman, kapan kau datang?" Ethan terkejut karena ada pamannya di mansion, di mana dia tidak pernah pulang karena sibuk dengan bisnisnya. Dante tidak menjawab dan sejujurnya dia terfokus dengan leher Ethan yang memiliki tanda merah, seketika tangannya mengepal dan entah kenapa dia marah, dia membayangkan Angel dan Ethan sedang b******u berdua, hal yang tidak bisa di terima olehnya. Dante tidak menjawab dan memilih untuk pergi dari sana. "Mungkin pamanmu sedang banyak masalah." Ucap Declan ketika melihat adiknya mengabaikan putranya. "Aku tau sifat paman Dante, aku tidak mempermasalahkannnya." Ucap Ethan. "Yang terpenting nantinya aku bisa mendapatkan kepercayaaannya dan bisa mendapatkan namanya agar aku juga dihormati di kalangan mafia." Batin Ethan tersenyum miring. Dia membayangkan jika dirinya nantinya akan menjadi bos besar dan di takuti oleh kalangan bawah, itu adalah impiannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD