Bab 87

2824 Words

Zenia menatap Matteo yang duduk di seberangnya. Lelaki itu tersenyum manis, senyum yang akhir-akhir ini terasa lebih hati-hati, seolah takut sedikit saja bergerak bisa kembali melukai perasaan Zenia. Senyum yang tidak lagi sombong, tidak lagi penuh keyakinan berlebihan, melainkan lembut dan menunggu. Zenia menghela napas kasar, lalu menunduk menatap meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan contoh dari pihak catering. Aroma rempah langsung menyeruak, membuat perutnya yang sejak tadi tegang sedikit mengendur. Ia mengambil sendok kecil, mencicipi rendang lebih dulu. Dagingnya empuk, bumbunya meresap sempurna. “Ini enak,” ucap Zenia akhirnya, suaranya datar tapi jujur. Matteo langsung mengangguk. “Aku tahu kamu pasti suka. Kamu selalu suka yang kaya rempah.” Zenia melirik singkat ke ar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD