Angin sore menyusup melalui celah jendela kamar Zenia. Tirai tipis bergoyang pelan, seolah ikut menghitung waktu yang tersisa. Di atas meja kecil dekat tempat tidur, sebuah kalender meja terbuka lebar. Angka yang dilingkari tinta merah tampak mencolok. 21 hari. Zenia duduk di tepi ranjang, menatap kalender itu tanpa berkedip. Jarinya menyentuh lingkaran merah tersebut, lalu menariknya perlahan, seakan angka itu bisa berubah jika disentuh cukup lama. “Dua puluh satu hari…” gumamnya pelan. Dadanya terasa sesak. Bukan karena ragu pada Matteo. Bukan karena ia tidak mencintainya. Tapi karena dunia di luar sana tidak pernah kehabisan suara. Ponselnya bergetar di atas meja. Notifikasi demi notifikasi bermunculan tanpa henti. Zenia menarik napas panjang sebelum meraih ponsel itu. Ia tahu apa

