Zenia dan Matteo duduk di depan deretan gaun pengantin yang dipajang di butik mewah itu, lampu-lampu kristal memantulkan cahaya keemasan pada setiap lipatan kain dan manik-manik yang menghiasi gaun. Zenia menatap dengan mata berbinar, memutar-mutar jari-jari tangannya di atas kain lembut, menyentuh satin dan tulle seolah mencoba merasakan energi di balik setiap gaun. Matteo berdiri di sampingnya, kedua tangannya tersilangkan, matanya memantau setiap gerakan Zenia dengan perhatian dan rasa ingin tahu. “Semua gaun ini… cantik sekali,” ucap Zenia lirih, matanya bersinar penuh kekaguman. “Aku… aku tidak tahu harus memilih yang mana. Semuanya tampak sempurna.” Matteo tersenyum tipis, menggeleng perlahan. “Zenia, aku ingin kau memilih satu yang benar-benar kau sukai. Yang membuatmu merasa sepe

