CHAPTER: 1

1293 Words

Tak semua hal bisa dilihat dengan mata, begitu pun dengan perasaan, hanya bisa dirasakan tanpa bisa dilihat
~Dafa Prajaya~


"Ini surat pengunduran diri saya pak Bagas," ucap Anes meletakkan surat pengunduran dirinya di meja Direktur perusahaan studio TV swasta tempatnya bekerja.


Anes dapat melihat tatapan penuh tanya dan bingung dari direkturnya yang masih muda, hanya berbeda beberapa tahun dari Anes.


"Kenapa kamu ingin keluar Anes? Apa ada masalah?"


"Masalahnya adalah mantan suami saya adalah pimpinan perusahaan ini! Dan saya belum Move On darinya!" teriak Anes hanya di hati, dan tidak akan pernah dia ungkapkan.


"Saya tidak bisa lagi bekerja di perusahaan ini pak, karena suatu masalah yang tidak bisa saya katakan," ucap Anes sopan dan lembut.


Pak Bagas hanya bisa mengangguk mengerti walaupun dirinya masih tak rela kehilangan jurnalis handal dan berbakat seperti Anes dan jauh di lubuk hatinya, Bagas pun menyukai Anes, tapi dia tidak berani mengatakannya langsung gadis di depannya ini.


"Baiklah, saya pun tak bisa memaksa kamu tetap di sini, tapi setelah keluar dari perusahaan ini, apa kita masih bisa saling bertemu?" tanya Bagas menatap penuh harap pada Anes.


Dalam hati Anes ingin sekali menolak bertemu Bagas, bukan karena Anes membenci Bagas namun karena Anes memang sulit berinteraksi non formal dengan pria mana pun setelah perceraiannya dengan Dafa. Namun melihat tatapan penuh harap Bagas, membuat Anes tak tega menolaknya.


"Iya pak."


Senyum Bagas melebar saat mendengar jawaban Anes lalu Anes pun pamit undur diri, karena sudah waktunya jam pulang kerja.


Anes menutup pintu ruang kerja Bagas, lalu berjalan ke arah lift menunggu pintu lift terbuka, merenungkan tindakannya yang kekanak-kanakan dengan mengundurkan diri hanya karena kehadiran Dafa.


"Nyatanya aku belum melupakan kamu kak, meskipun kamu sudah pergi meninggalkanku sendirian. Kamu memang wanita bodoh Anes, banyak pria kamu tolak karena masih mencintai pria yang sebentar lagi akan menjadi suami orang lain," ucap Anes pada dirinya sendiri lalu pintu lift pun terbuka.


Anes berniat masuk ke dalam lift namun langkahnya terhenti saat melihat Dafa berada di lift itu, perlahan tanpa sadar, Anes mulai mundur dan pergi dari hadapan Dafa.


Dafa langsung mengejar Anes saat Anes berjalan meninggalkan lift saat melihatnya, Anes merutuki dirinya yang bodoh dengan lari dari Dafa. Tindakannya ini pasti membuat Dafa bingung, atau mungkin saja membuat Dafa merasa keegeran.


"Anes tunggu saya!"


Anes tak peduli dengan teriakan Dafa dan terus berjalan cepat, namun langkahnya terhenti saat tangan besar Dafa mencekal pergelangan tangannya. Anes langsung melepaskan tangan Dafa dengan pelan.


"Maaf saya tidak bermaksud menyentuh kamu, tapi saya hanya bingung kenapa kamu pergi setelah melihat saya?" tanya Dafa menatap intens Anes namun Anes hanya menunduk.


"Saya lupa ada yang ketinggalan di ruangan saya, jadi saya pergi."


Dalam hati Anes bangga pada dirinya sendiri yang pandai bersilat lidah, sedangkan Dafa tak percaya dengan jawaban Anes karena gadis itu terus menunduk.


Satu dari sekian banyak kebiasaan Anes saat berbohong yang Dafa tahu dan masih ingat, yaitu Anes akan menunduk tak berani menatap lawan bicaranya saat berbohong.


"Kamu bohong ya?"


Anes langsung mengangkat pandangannya menatap Dafa yang juga menatapnya. Jari tangan Anes saling bertautan dan itu pun tak luput dari pandangan mata Dafa.


"Itu jawaban Anes kak, lagi pula kenapa kakak bertanya hal yang tidak penting? Anes mau pulang, sudah ingin malam, permisi kak."


Anes langsung pamit undur diri tanpa menunggu jawaban dari Dafa sedangkan Dafa hanya menatap punggung Anes yang kian menjauh lalu menghilang.


"Saya sendiri tidak tahu, kenapa saya masih saja memikirkan kamu Anes padahal sebentar lagi saya akan menjadi milik wanita lain, maafkan tindakan saya sembilan tahun lalu Anes."


~Mantan Suami~


Anes menutup pintu rumahnya dengan rapat, lalu tubuhnya jatuh merosot di depan pintu rumahnya.


Air mata mengalir deras di kedua pipinya, air mata ini menjadi pertanda bahwa dirinya selama ini gagal membenci Dafa, Anes masih mencintai Dafa namun Dafa sebentar lagi akan menjadi milik wanita lain.


"Aku cinta kamu kak, tapi kenapa kamu menceraikan aku hiks hiks."


Hati Anes teriris saat matanya bertemu dengan foto pernikahan dirinya dengan Dafa yang berukuran sangat besar.


"Kamu jahat kak, dari awal aku sudah mencegah kamu untuk menikahi aku. Karena aku tahu kalau kamu tak mencintai aku, tapi apa kamu memaksa menikahi aku, dan kamu juga yang menceraikan aku. KAK DAFA JAHAT!"


Anes menatap foto pernikahan tersebut dengan tatapan benci dan amarah lalu berjalan ke foto itu, mengambil foto besar itu dan melemparnya dengan kasar.


Pecahan kaca berhamburan di lantai, dan bingkai tersebut berubah menjadi retak tak terbentuk.


"Kak Dafa hiks hiks," tangis Anes pecah, tangannya meremas rambutnya dengan kuat hingga rambutnya rontok. Namun Anes tak peduli karena sekarang dia hanya ingin melupakan Bayangan Dafa dari otaknya.


"Pergi kak! Pergi dari hidup Anes! Anes tahu Anes hanya anak kecil yang tidak pantas untuk pria dewasa seperti kak Dafa! Pergi kak!" teriak Anes melempar barang-barang di sekitarnya ke tembok seakan tembok itu adalah Dafa.


Teriakan Anes itu membuat Bi Inah yang sedang memasak di dapur, langsung berlari ke ruang tamu untuk melihat kondisi majikannya yang sudah dia rawat sejak kecil bahkan ketika orang tuanya Anes meninggal, hanya Bi Inah lah satu-satunya orang tua Anes.


"Ya Tuhan, Non Anes kenapa?!" tanya dan teriak Bi Inah saat melihat kekacauan yang ditimbulkan oleh majikannya.


"Dia kembali Bi, Dafa kembali hiks hiks."


Bi Inah melotot tak percaya mendengar ucapan majikannya, Bi Inah langsung berlari memeluk majikannya, berusaha menyalurkan kekuatan kepada Anes.


Bi Inah adalah satu-satunya saksi dari hancurnya kehidupan Anes setelah orang tuanya meninggal dan Dafa, pria yang sangat dicintainya sekaligus suaminya menceraikannya dengan alasan Anes sudah bisa menjaga dirinya sendiri.


"Sabar Non, tenang. Jangan pernah mengingat masa lalu lagi Non, sudah cukup Non menangis demi pria brengsek itu. Ada Bibi yang selalu bersama Non," ucap Bi Inah sambil mengusap lembut punggung Anes yang bergetar hebat.


"Anes cinta Dafa Bi, tapi kenapa Dafa menceraikan Anes?" tanya Anes menatap Bi Inah. Bi Inah tak kuasa menahan tangisnya saat melihat air mata di pipi Anes yang sudah dia anggap putri sendiri.


Dafa salah jika merasa Anes sudah bisa menjaga dirinya sendiri, nyatanya Anes rapuh bahkan untuk menopang tubuhnya sendiri saja Anes tak mampu setelah Dafa menceraikannya.


Bahkan Anes divonis oleh dokter mengalami depresi tingkat berat karena Anes yang terus memikirkan Dafa, menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada pernikahannya, dan menganggap dirinya tidak pantas untuk Dafa sehingga Dafa menceraikannya.


Lalu berakhir dengan menangis dan merusak apa pun yang ada di sekitarnya. Bi Inah yang khawatir pun akhirnya membawa Anes ke salah satu Psikolog terkenal di kota ini dan selama sembilan tahun ini Anes terus berkonsultasi walaupun depresinya mulai berkurang namun dokter tetap menyarankan Anes berkonsultasi.


Karena Anes akan mulai menangis, dan menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya saat mengingat tentang Dafa dan perceraian mereka.


"Jangan menangis Non, ini sudah takdir Tuhan Non, mungkin Tuhan ingin mengatakan pada Non Anes bahwa Dafa tidak pantas untuk dicintai oleh Non Anes. Yang sabar Non, pasti ada pria baik-baik yang tulus mencintai Non bukan Dafa yang meninggalkan Non sendirian."


Hening beberapa saat, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga suara Anes memecah keheningan yang ada.


"Aku ingin menyusul Ayah dan Ibu Bi, setidaknya di sana aku tidak akan melihat kak Dafa lagi dan bisa melupakan rasa sakit ini."


"Ya Tuhan, Non ingat Tuhan Non, Tuhan membenci orang yang melakukan bunuh diri Non," ucap Bi Inah sedangkan Anes yang sudah merasa lelah dengan beban hidupnya hanya bisa diam termenung lalu kedua matanya tertutup perlahan dan tubuhnya jatuh di pelukan Bi Inah.


"Non Anes, bangun Non. Jangan tinggalkan Bibi Non, Non Anes!"


Selasa, 24 September 2019

..............


Jangan lupa vote dan komen ya


Aku upadetnya cepat banget baru malam minggu kemarin update cerita ini, sekarang upate lagi


Soalnya aku lihat respect kalian akan cerita ini lumayan bagus, jadi aku upadate deh.


Yang mau aku terus lanjut Anes dan Dafa, harus komen dan vote.


Jangan lupa follow akun aku ya biar jangan ketinggalan kalau ada cerita baru


Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd