Bab 24

1222 Words

Elmira duduk di ruang kerja kecilnya. Matanya menatap layar, tapi air matanya tidak keluar. Sudah terlalu sering ia dipukul dengan hinaan. Tapi kali ini… rasa sakitnya datang dari ketidakberdayaan. Apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak bisa menyalahkan orang karena tahu masa lalunya. Tapi narasi yang dipelintir... itu membuat segalanya terasa busuk. Pintu terbuka. Malik muncul dengan wajah tegang, tapi sorot matanya tak menunjukkan panik. “Aku sudah bicara dengan tim hukum. Kita akan laporkan ini sebagai pelanggaran privasi dan pencemaran nama baik.” Elmira menatapnya lemah. “Tapi semua itu benar, Malik. Aku memang tinggal di gang sempit. Aku memang pernah minta sisa makanan untuk nenek. Aku—” “Tapi itu bukan aib,” potong Malik cepat. “Itu bukti kalau kamu bertahan.” Ia berjalan mendek

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD