Elmira masih sibuk menghabiskan suapan terakhirnya saat Malik meletakkan garpunya. Ia hendak meraih tisu sendiri ketika tiba-tiba Malik bersuara pelan namun tegas. “Diam sebentar.” Elmira mengerjap bingung. “Apa—” Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Malik sudah condong mendekat. Gerakannya cepat namun terkontrol, membuat jarak di antara mereka nyaris tak ada. Ujung jarinya meraih tisu di meja, lalu dengan gerakan santai ia menyeka sudut bibir Elmira yang ternoda saus tomat. Elmira membeku. Jantungnya berdegup keras, panas merambat ke wajahnya tanpa bisa dicegah. Ia bisa merasakan napas Malik begitu dekat, aroma maskulin bercampur wangi kayu dari parfumnya membuat kepalanya berputar. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Elmira, suaranya hampir berbisik karena malu. Malik menarik

