Tawa mereka masih menggema meski mobil mewah yang mereka tumpangi telah meninggalkan gedung pesta. Jalanan malam menyala dengan lampu kota, menjadi latar sempurna untuk dua insan yang malam itu tak hanya mencuri perhatian, tapi juga mengguncang suasana dalam satu aksi gila yang tak terduga. Virion duduk santai di jok belakang, satu tangan menopang dagu sementara matanya masih menyimpan kilasan ciuman panas yang ia bagi dengan Liana di hadapan semua orang. Sementara itu, Liana di sebelahnya tertawa kecil, memegangi perutnya karena geli sendiri mengingat ekspresi Maria saat bunga itu jatuh tepat di tangannya. “Lihat wajahnya saat kau menciumku,” ucap Liana sambil tergelak. “Seolah-olah dunia sudah runtuh di sekelilingnya.” Virion menoleh, senyuman tak biasa menghiasi bibirnya yang biasany

