Bab 9

1060 Words

Cahaya matahari pagi menembus tirai tipis dan menyapu lembut kulit Liana yang masih terlelap. Udara di kamar itu terasa hangat, sisa dari malam yang penuh gairah dan bisikan yang seharusnya tak pernah diucapkan. Perlahan, kelopak matanya terbuka, membiarkan cahaya pagi masuk ke dalam kesadarannya. Ia menggeliat pelan, merasakan tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun, hanya tertutup selimut tebal beraroma maskulin yang tak asing lagi. Tatapannya menyapu ruangan kamar Virion yang sepi. Tak ada jejak keberadaan pria itu di sampingnya. Seketika, senyum kecil terbit di sudut bibir Liana, teringat akan malam sebelumnya, malam yang panas, dalam, dan terlalu nyata. Bukan sekadar tentang tubuh yang menyatu, tapi tentang perasaan yang tumbuh di luar kendalinya. Perasaan yang menyelinap, diam-diam,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD