Langit sore memudar menjadi malam ketika Harris menutup laci meja kerjanya. Tangannya masih menyentuh foto pudar itu beberapa detik lebih lama, seperti mengingat kembali setiap kenangan yang tercetak di kertas itu.
Harris.
Angga.
Renata.
Harris melangkah pelan ke sudut kantor, mengambil sebotol anggur yang biasa disimpannya untuk malam-malam yang ia lalui penuh gelisah. Ia menuang sedikit ke gelas, lalu menatap cairan marun itu seolah mencari jawaban di dalamnya. Tapi yang datang bukanlah ketenangan, melainkan cuplikan memori yang tak bisa ia usir.
Ia masih ingat betul hari ketika Renata pertama kali menatapnya dengan cara yang membuat lututnya tiba-tiba lemas. Renata bukan perempuan biasa, dia memiliki tawa yang menular, kecerdasan yang memikat, yang mampu menembus setiap topeng yang dikenakan oleh orang-orang di sekitarnya.
Harris sudah menyiapkan malam itu. Surat kecil, rencana kata-kata yang dipelajari di depan kaca, bahkan cincin sederhana yang dibelinya diam-diam. Ia ingin membuat segala sesuatunya menjadi sempurna. Ingin memberi Renata alasan untuk memilihnya.
Namun, situasi berbalik. Sebelum Harris sempat mengucap satu kata pun, ia mendapat kabar kalau Angga telah melangkah lebih cepat —dengan cara yang tak pernah Harris duga. Angga, sahabat yang besar bersama, bahkan tahu perasaannya kepada Renata, tiba-tiba mengutarakan duluan cinta pada perempuan yang cincinnya bahkan sudah Harris siapkan.
Sakit itu bukan hanya tentang cinta. Rasanya jauh lebih sakit bak ditusuk di tempat yang paling dalam, persahabatan. Harris merasa dikhianati oleh cinta dan persahabatan. Ia melihat mereka berdua tumbuh. Sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya, malah tidak memberinya kesempatan.
Kata orang, waktu akan menyembuhkan. Tapi, waktu justru menjadi saksi bagaimana luka di hati Harris malah menutup. Harris tenggelam dalam pekerjaan. Perusahaan yang ia rintis menjadi pelarian sekaligus benteng pertahanan untuknya. Ia memilik menyibukkan diri dalam banyak malam. Diisi dengan rapat dan rencana. Di antara tumpukan angka dan kontrak, ia menaruh harapan bahwa kesuksesan akan mengganti ruang kosong di hatinya.
Namun hidup memiliki caranya sendiri untuk membuka luka lama. Proyek besar yang ia percayakan —proyek yang bisa mengangkat nama perusahaannya, yang telah menguras tenaga, modal, dan reputasi —runtuh dalam semalam. Dokumen penting bocor, negosiasi yang sudah deal, tiba-tiba membuat pihak mitra pergi meninggalkan dirinya tanpa kejelasan. Kerugian bukan hanya soal uang, itu adalah kehancuran nama perusahaan yang pastinya akan sulit dipulihkan.
Di tengah investigasi internal, beberapa jejak menunjukkan adanya akses yang tidak semestinya — email yang dikirim dari akun yang seharusnya aman, panggilan telepon pada jam-jam penting, salinan dokumen yang tiba di tangan orang lain sebelum waktunya. Semua bukti itu mengerucut pada satu nama, satu sosok yang pernah dekat, Angga Wijaya.
Harris ingat betul bagaimana ia menatap kumpulan laporan itu pada malam itu. Jari-jarinya mengepal sampai kuku memutih. Ada kemarahan liar yang bukan sekadar masalah bisnis. Bukan hanya keuntungan yang diambil, itu adalah keyakinan yang dirampas. Harris melihat pola yang tak sekadar kebetulan—momen ketika Angga mendapatkan kesempatan, membuat Harris yakin bahwa sahabatnya itu adalah seorang pengkhianat.
Sejak saat itu, segala sesuatu tentang Angga menjadi kacau di mata Harris, sahabat yang ternyata menusuk, cinta yang diperebutkan, dan penyebab runtuhnya pekerjaan yang ia bangun. Di kepalanya, perasaan itu berubah menjadi satu, dendam. Dendam yang tidak ingin ia tunjukkan sebagai amarah. Dendam yang harus diatur, direncanakan, dan dieksekusi dengan baik sehingga ketika balasan itu datang, tidak ada lagi yang tersisa untuk si pengkhianat.
Renata meninggal beberapa bulan setelah proyek itu gagal. Sebuah kecelakaan yang membuat Harris merasa seluruh dunianya runtuh. Di pemakaman, ia berdiri di sisi tanah yang menggunung. Bukan sebagai pria yang sinis dan dingin seperti sekarang, melainkan sebagai manusia yang kehilangan kesempatan. Ia menatap tanah yang merah dan menggumamkan janji yang tak pernah terucap, jika Tuhan kembali memberinya kesempatan kedua, ia tidak akan membiarkan siapa pun lagi merebut apa yang ia anggap miliknya.
Sisa-sisa kemarahan itu membentuk pribadinya sekarang, rapi, terencana, dan tidak emosional. Harris menjadi seorang yang ahli strategi. Ia membangun jaringan, mengumpulkan informasi, menilai kelemahan orang-orang di sekitarnya. Ia belajar tentang bagaimana cara membaca musuh.
Kembali ke hidupnya sekarang, Karin adalah peluang yang tak pernah Harris duga, seperti sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka. Seorang perempuan muda yang adalah sekretarisnya, secara kebetulan dekat dengan Angga. Harris tidak berniat merebut. Ia hanya menungg momen dengan mengamati, sambil mengatur strategi. Bagaimana keterikatan emosional kedua insan itu berhasil membuat dendamnya terbalaskan.
Kini, gambar rencana itu jelas dalam benak Harris yakni membuat jarak antara Karin dan Angga.
Ia meneguk sedikit anggur, menutup mata sejenak, lalu membayangkan wajah Angga saat semua rencana berjalan. Ia membayangkan keheningan yang akan menggantikan tawa, keretakan yang akan menggantikan kebanggaan, dan keruntuhan yang akan menggantikan kemenangan masa lalu.
Namun Harris bukanlah pembalas dendam yang langsung melompat. Ia paham bahwa amarah butuh akal. Ia mengukur segala kemungkinan —siapa yang bisa ia gunakan, siapa yang bisa dijatuhkan lebih dulu. Ia tahu juga risiko jika mengaitkan nama Karin, bahwa perempuan itu sendiri bisa hancur berkeping-keping. Namun, dendamnya lebih menggebu dibanding rasa iba yang ia rasakan.
Ia menaruh fotonya kembali di laci. Merapikannya seperti menyimpan sebuah rahasia. Di balik wajah tegasnya, ada kepahitan yang tidak mau ia akui, yakni kehilangan Renata. Dan kini ia bertekad untuk kembali ke masa lalu, menuntaskan sesuatu yang menurutnya pantas dibayar.
Matanya menatap jam dinding. Waktu hampir dua dini hari. Di ruang itu hanya ada Harris, kertas-kertas, dan rencana-rencana yang mulai menari-nari di benaknya. Harris berdiri, mengangkat gelas yang tinggal setengah, lalu mematikan lampu. Kantor gelap, namun di kepalanya rencana itu semakin terang.
“Biarkan permainan dimulai,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri, tanpa menyesal, tanpa ada keraguan “Kali ini aku yang punya kendali.
Di sudut kota, di dalam salah satu rumah sederhana, Karin duduk di kamarnya dengan wajah muram. Sudah beberapa hari sejak ia mengutarakan niat mundur dan ditolak mentah-mentah oleh Harris. Rasanya ia seperti burung yang terjebak dalam sangkar.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama Angga kembali muncul di layar. Karin menutup mata ragu. Ia tahu apa yang akan terjadi kalau ia angkat. Namun jemarinya tetap menekan tombol hijau.
“Halo,” suaranya lirih.
“Karin, aku mohon." Suara Angga terdengar serak, seperti seseorang yang belum tidur berhari-hari. “Jangan lakukan ini. Jangan akhiri hubungan kita. Aku tidak bisa kalau harus kehilangan kamu.”
Karin menggigit bibir. Hatinya perih mendengar suara itu. “Angga, aku sudah bilang. Aku serius.”
“Kenapa, Rin?” suara Angga pecah. “Apa aku salah? Apa aku kurang? Kamu tinggal bilang, aku bisa berubah. Aku bisa apa saja buat kamu.”
Air mata Karin jatuh. Ia memalingkan wajah meski Angga tidak bisa melihat. 'Kalau kamu tahu, Ngga. Kalau kamu tahu apa yang sudah terjadi padaku, mungkin kamu akan membenciku.'
“Bukan itu, Ga,” ucap Karin akhirnya. “Kamu tidak salah. Aku cuma ... tidak bisa.”
“Kalau aku tidak salah, lalu apa?” Angga mendesah frustrasi. “Atau … apakah ada orang lain?”
Karin tercekat. Bayangan Harris menyelinap di kepalanya, membuat tubuhnya merinding. Ia buru-buru menutup rapat perasaannya. “Tidak. Tidak ada orang lain.”
“Lalu apa?” Angga memohon. “Aku ... aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa kamu, Rin. Lagipula, bukankah kita sudah berjanji akan melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius?”
Karin menekan dadanya, menahan sesak. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan kebenaran, tapi bibirnya terkunci oleh rasa malu dan takut. Ia tak mau Angga tahu ia pernah dilecehkan. Ia tak mau cinta Angga ternoda oleh rasa kasihan.
“Angga, aku mohon … jangan paksa aku.” Karin akhirnya menutup telepon cepat-cepat, lalu jatuh terduduk di lantai. Air matanya pecah tanpa henti.
***