"A-apa Om?"
Tiba tiba keberanian Aleska menciut ketika mendengar perkataan Gaharu. Bodohnya dia kenapa dia harus mengatakan itu pada Gaharu kemarin.
"Om, kapan pulang?"
Aleska berusaha mengalihkan pembicaraan mereka agar Gaharu tak mengingat apa yang dia ucapkan kemarin.
"Kenapa? Kau sudah kangen padaku? Aku sudah ada di depan mu sekarang."
Gaharu terus berjalan mendekati Aleska, begitu juga dengan Aleska yang terus berjalan mundur sampai dia tak sadar jika dibelakang nya ada meja kerjanya.
Duk....
Aleska terduduk di meja kerja dengan Gaharu yang sudah mengungkungnya.
Tatapan mata Gaharu mengunci tatapan Aleska saat ini.
"Kenapa? Kau menghindariku, atau kau masih ingat dengan pacar sialan mu itu?"
Aleska mengerjapkan matanya. Dia heran kenapa Gaharu tiba tiba membahas Luke saat ini. Bahkan terbesit dalam pikiran Aleska saja tidak nama laki laki itu.
Pikiran Aleska terfokus pada bibir Gaharu sejak tadi, karena tiba tiba dia mengingat mimpinya semalam yang tiba tiba berciuman dengan Gaharu. Tanpa sadar, Aleska menggigit bibir bawahnya. Yang membuat Gaharu menahan napas.
"Jangan di gigit sayang, nanti berdarah."
Aleska yang sejak tadi menunduk, akhirnya mengangkat wajahnya. Dan kedua mata indah itu bertubrukan langsung dengan mata Elang Gaharu. Entah siapa yang memulai, tangan Gaharu sudah berpindah di pinggang Aleska. Begitu juga dengan tangan Aleska yang berpindah di belakang kepala Gaharu.
Aleska dan Gaharu berciuman cukup intens. Satu sama lain sedang saling menikmati. Tangan Gaharu mengusap punggung Aleska pelan yang menciptakan gelenyar aneh di tubuh gadis itu. Ciuman Gaharu merembet pada leher Aleska, sementara tangan Aleska berpegangan pada pinggiran meja.
"Om... Aru....."
Deru napas Aleska mulai memburu ketika Gaharus terus menyerang leher jenjang Aleska.
Gaharu seolah lupa diri ketika dia mulai menyentuh Aleska.
Aleska memeluk Gaharu erat ketika Gaharu menarik pinggang nya agar tubuh mereka semakin dekat.
Tangan Gaharu bahkan sudah mengusap kaki Aleska yang semakin membuat tubuh Aleska merinding.
Gaharu menjauhkan tubuhnya untuk melihat wajah Aleska saat ini. Dan benar saja wajah Aleska merah, napasnya tersengal berusaha mengatur nya.
"Kau cantik sekali sayang." puji Gaharu.
Suara Gaharu terdengar serak dan berat. Belum sempat Aleska menjawab, Gaharu kembali menciumnya. Kali ini ciumannya lebih menuntut dari pada sebelumnya. Tangan Gaharu mengusap lembut bagian tubuh Aleska yang bisa di sentuhnya.
Aleska yang selalu mengenakan gaun di atas lutut dengan atasan yang menunjukkan pundak mulusnya mempermudah Gaharu melancarkan aksinya.
Kecupan kecil mendarat di tukang selangka Aleska yang kembali membakar tubuh Aleska.
Aleska tak pernah merasakan ini sebelumnya. Anehnya ketika dulu Luke memintanya berciuman Aleska langsung menolak. Namun berbeda dengan saat ini, Aleska bahkan hanya pasrah ketika Gaharu terus mendaratkan ciumannya pada setiap inci tubuh Aleska yang dijangkaunya.
Gaharu perlahan menarik turun gaun Aleska dan menampilkan sesuatu di dalamnya yang masih tertutup rapat. Gaharu meneguk ludahnya kasar melihat kulit putih dan bersih Aleska.
Saat ini Aleska, menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya yang ada di meja. Roknya juga tersingkap ke atas karena Gaharu menyela di antara kedua kakinya. Perlahan tangan Gaharu menyentuh bagian itu dengan lembut. Sementara bibirnya masih terus bergerak menciumi tukang selangka dan pundak Aleska.
"Om.....Uh....."
Suara desahan Aleska membuat darah Gaharu semakin mendidih. Suhu Ac yang semula dingin seolah tak ada rasanya untuk Gaharu.
"Om..... ahhhh......"
Desahan itu kembali keluar ketika tangan Gaharu berhasil masuk dan bersentuhan langsung dengan benda bulat itu. Pas sekali di tangan Gaharu.
"Sayang..... ini indah....." ucak Gaharu serak.
Aleska benar benar membiarkan Gaharu menikmatinya. Imajinasi liarnya tiba tiba keluar bersama Gaharu. Mimpi itu jadi nyata. Dan sialnya, Aleska menikmati itu semua.
"Om... jangan di lihat.... aku malu...." cicit Aleska.
Aleska ingin menutupinya, tapi tangan Gaharu mencegahnya.
"Ini indah sayang.... Aku tak akan melakukan lebih dari ini... Aku janji ....."
Aleska menatap Gaharu yang matanya penuh kabut gairah.
Perlahan Aleska menganggukkan kepalanya yang membuat Gaharu tersenyum senang.
Kembali Gaharu mencium Aleska dengan terus bermain dengan benda bulat itu. Dua jari menyentuh puncak kecil yang mencuat dan menantang.
Lalu Gaharu mendekati telinga Aleska.
"Sayang, nikmati ini. Jangan menolakku. Karena aku akan membuatmu terus mengingat hari ini." bisik Gaharu.
Aleska tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Gaharu. Tapi detik berikutnya, Aleska memekik tertahan ketika tiba tiba Gaharu melahap apa yang sejak tadi dia mainkan. Perlahan tubuh Aleska terbaring di atas meja dengan Gaharu di atasnya. Dia terus bermain seperti bayi yang sedang kehausan.
Tak hanya itu, tangan Gaharu mulai merembet ke bawah, mengangkat satu kaki Aleska. Jari Gaharu menyusuri kulit mulus Aleska yang membuat Aleska meremas rambut Gaharu.
"Om.... tidak......ahhh......"
Aleska menjerit, tapi bukan jerit kesakitan melainkan desahan yang akan membuat Gaharu ketagihan.
"Lagi sayang. .." bisik Gaharu.
Tapi jarinya menekan sesuatu benda mungil yang membengkak itu.
"Ahhh....Om aku......"
to be continued