Gaharu menatap tajam pada Asila yang ingin menampar Aleska.
Dia langsung menghempaskan tangan Asila.
Asila terkejut karena Gaharu tiba tiba ada disana.
"Tu-tuan Gaharu? Kenapa Tuan ada disini?"
Asila menatap Gaharu dan Aleska bergantian.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, ini masih jam kerja, kenapa kau ada disini dan ingin menampar Aleska? Apa kau lupa, jika bukan karena Aleska kau tak bisa masuk ke perusahaan ku. Bahkan hanya dengan kemampuan mu itu saja tak akan cukup masuk ke perusahaan ku. Lalu ini balasan mu pada orang yang pernah menolong mu?"
Asila menjadi gelisah, terlebih ketika melihat Aleska yang hanya diam saja dan tak membelanya seperti biasa.
"I-itu, tadi aku ingin meminta tolong pada Aleska untuk tak ambil apartemen ku dan mobilku." jawab Asila gugup.
"Hah? Itu punya ku Asila, kenapa kau bilang kalau itu punyamu? Kau bilang aku ini sahabat mu, kenapa bisa kau melakukan ini padaku? Apa karena selama ini aku terlalu baik padamu sampai kau jadi tak tahu diri begini?"
Aleska menjadi kesal karena Asila benar benar tak tahu diri. Dia baru saja jika sifat Asila menjijikkan.
Asila menatap tak percaya jika Aleska mengatakan semua itu kepadanya. Selama ini Aleska selalu menurutinya apapun itu. Termasuk yang milik Aleska juga miliknya.
"Aleska.... kenapa kau harus jahat padaku seperti ini?"
Asila menampilkan wajah memelas nya yang membuat Aleska mual dan ingin muntah.
"Sudahlah, ternyata ini sifat aslimu. Selama ini aku menganggap mu keluargaku. Membantu mu karena kau bilang kau menghidupi keluargamu. Aku meminjamkan semua barang barang ku dan juga mencarikan mu pekerjaan, tapi kau sejak tadi malah bilang aneh aneh. Lebih baik setelah ini kita tak perlu berteman lagi. Jadi sekarang kembalikan juga kartu kredit milikku yang kau bawa."
Aleska menengadahkan tangannya pada Asila untuk meminta kartu kreditnya yang selama ini di pinjam oleh Asila.
Mata Asila membola, jika kartu kredit itu diminta dia tak akan bisa memanfaatkan Aleska lagi.
"Tidak, jangan lakukan itu. Aku sudah tak punya tempat tinggal."
"Tapi kau masih bekerja dan kau punya gaji. Jadi mulai sekarang belajar lah mandiri. Aku sudah tak ingin membantumu lagi."
Setelah mengatakan itu, Aleska berbalik pergi sana. Sementara Asila ingin mengejar Aleska naik ke ruangannya.
"Kau masih ingin disini atau ku pecat nona Asila?"
Asila berbalik, dia melupakan Gaharu bosnya.
"A-aku akan kembali ke kantor. Tolong jangan pecat saya Tuan Gaharu." jawab Asila ketakutan.
"Bagus, kalau begitu. Aku sudah meminta HRD untuk menurunkan posisimu menjadi karyawan biasa di bagian pemasaran. Aku mendapatkan laporan kalau kau jarang sekali masuk ke kantor. Begitu juga dengan Luke. Kalian pikir perusahaan ku tempat bermain?"
Tubuh Asila terhuyung ke belakang mendengar lagi. Jika dia di turunkan posisinya menjadi karyawan biasa otomatis gajinya juga akan menjadi lebih kecil.
"Tidak, Tuan Gaharu jangan lakukan itu. Aku akan kembali ke kantor dan bekerja lagi sebaik mungkin. Aku butuh posisi itu!"
Asila ingin menyentuh tangan Gaharu, tapi Gaharu mengangkat tangannya pertanda jika dia tak ingin disentuh.
"Baik kalau begitu ...."
Asila yang mendengar itu langsung tersenyum lebar, wajahnya menjadi sumringah kembali.
"Terima kasih Tuan Gaharu, aku yakin juga Tuan Gaharu tak akan tega menurunkan jabatan saya. Karena saya punya kemampuan. Benar kan?" ucap Asila dengan percaya diri. Sementara Gerald yang ada di belakang Gaharu sudah menahan tawanya sejak tadi. Pasalnya dia tahu sekali bagaimana kinerja Asila dan Luke selama ini. Tak ada yang benar dan itu hanya menyisakan semua timnya. Tapi Gaharu tetap mempertahan mereka karena Aleska.
"Ya, kau punya kemampuan untuk langsung pindah ke bagian cleaning service. Dan Gerald langsung urus semuanya. Jika dia menolak menjadi bagian cleaning service, dia harus membayar denda dua ratus juta karena lalai dalam pekerjaan nya!"
Wajah Asila menjadi pias, dia masih syok mendengar semua penuturan Gaharu barusan. Di turunkan menjadi cleaning service?
Bruk.....
Tubuh Asila terjatuh, dia menatap kosong ke depan. Dia tak menyangka jika keinginannya memaksa Aleska malah akan membuat Gaharu menurunkan jabatannya.
"Tidak, ini tidak mungkin....."
Gerald sudah mengkonfirmasi putusan Gaharu pada bagian HRD dan langsung di setujui.
Sementara itu, Gaharu yang baru saja mengatakan semua itu pada Asila beranjak pergi dari sana menyusul Aleska tanpa ada yang tahu.
Semua orang masih fokus pada Asila.
("Kau kembalilah ke apartemen, besok kita baru ke kantor. Dan urus wanita sialan itu, jangan biarkan dia membuat ulah disini. Seret dia!")
Gerald melihat pesan dari Gaharu, tanpa membalasnya, Gerald langsung menyuruh anak buahnya menyeret Asila pergi.
"Maaf untuk semua keributan yang ada disini. Tuan Gaharu akan membayar semua roti yang kalian beli." ucap Gerald.
Orang orang disana langsung tersenyum senang, mereka langsung mengantri di kasir.
Sementara Gerald mengatakan pada karyawan Aleska untuk tak mengganggu bos mereka hari ini..
"Tolong buatkan kue dan roti kesukaan Tuan Gaharu. Nanti kirim ke alamat ini, dan tolong jangan ganggu mereka."
Karyawan Aleska tentu saja paham dengan apa yang dimaksud oleh Gerald.
"Baik, Tuan Gerald."
#
Sementara itu, Aleska sudah menggerutu karena kesal.
"Ih, kesal sekali. Aku dulu bodoh sekali karena mau membantu dia. Bisa bisanya aku buta!!"
Aleska mondar mandir di ruangannya tanpa sadar jika sejak tadi ada yang memperhatikannya dari ambang pintu.
"Kau tak lelah sejak tadi mengomel terus?"
"Capek, kan kesal pagi pagi udah ada yang ganggu. Mana Om Aru juga tiba tiba muncul sudah seperti hantu....."
Langkah Aleska terhenti, satu detik, dua detik.....
"Eh, tadi siapa yang bertanya?"
Aleska baru sadar jika dia tak sendiri. Lalu ketika dia berbalik matanya membola ketika melihat sosok Gaharu sudah ada disana.
Aleska langsung cengengesan. Dia menjadi salah tingkah saat ini.
"O-om Aru kenapa masuk kesini?" tanya Aleska gugup.
Dia meneguk ludahnya kasar karena melihat Gaharu berjalan ke arahnya.
"Aku hanya ingin bertemu dengan seseorang yang kemarin mengatakan padaku kalau dia merindukanku."
to be continued