Aleska membuka matanya dengan napas tersengal. Dia melihat wajah Gaharu tepat di depannya.
"Om..... itu.... tadi....."
Aleska tak bisa melanjutkan perkataannya karena Gaharu lebih dahulu mengangkat tubuhnya.
"Om.... mau dibawa kemana aku?"
"Kamar mandi....."
Aleska menggigit bibir bawahnya, dia merasa jika terlalu berbahaya bersama Gaharu lama lama.
"Astaga... tadi Om Aru seperti mau memakanku? Mommy tolong..... Aleska takut." teriak Aleska dalam hati.
Gaharu sempat melirik Aleska sekilas, senyum samar tercetak di wajah tampannya. Hanya saja Aleska tak bisa melihat itu.
"Bersihkan dirimu, kau ada pakaian ganti bukan?"
Aleska mengangguk setelah Gaharu menurunkannya perlahan di kamar mandi. Sementara Gaharu kembali ke ruangannya. Menunggu Aleska selesai membersihkan dirinya.
Gaharu melihat sekilas pintu kamar mandi yang tertutup. Mata Gaharu kembali datar, dia mengambil ponselnya lalu menghubungi Gerald.
("Gerald, laporkan semua pada ku apa yang Asila dan Luke lakukan setelah ini. Aku yakin mereka merencanakan sesuatu yang baru untuk Aleska agar Aleska mau membantu mereka lagi.")
Setelah mengatakan itu, Gaharu menutup sambungan telfonnya. Dia juga meminta salah satu karyawan Aleska membawakan makanan dan minuman ke ruangan Aleska.
Gaharu berhasil menahan dirinya untuk tak membobol Aleska saat itu juga.
"Bisa bisanya aku langsung menerkamnya seperti itu? Apa dia akan takut kepadaku nanti?" batin Gaharu.
Berkali kali dia menghela napas panjang karena mengingat apa yang dia lakukan tadi. Selama ini Gaharu pandai sekali mengontrol dirinya sendiri tapi entah ketika bersama Aleska pertahanannya selalu runtuh dalam sekejap.
Ceklek....
Gaharu menoleh ketika mencium aroma sabun. Terlihat Aleska yang berjalan keluar dari kamar mandi dengan kepala yang terus menunduk.
Dia berdiri di depan Gaharu, tak berani menatap mata calon tunangan nya itu.
Gaharu tersenyum tipis, doa meraih dagu Aleska dengan jari telunjuknya. Akhirnya mata Aleska kembali bertubrukan dengan mata Gaharu.
"Kenapa menunduk saja? Kau tak ingin melihat wajahku?"
Aleska berkedip, dia masih canggung karena kejadian tadi.
Belum Aleska menjawab, Gaharu sudah menarik tangan Aleska dan di bawanya untuk duduk di sofa. Tapi bukan sekedar duduk biasa, melainkan Aleska duduk di atas pangkuan Gaharu.
"Om, kenapa harus di pangku? Aku bisa duduk sendiri...." protes Aleska kesal.
Gaharu menekan pinggang Aleska yang membuat mata Aleska membola.
"Om....." pekik Aleska.
"Jangan bergerak terus sayang, aku tak bisa menahan diri lebih dari tadi."
Glek.....
Aleska menelan ludahnya kasar. Dia akhirnya diam dan tak lagi bergerak sembarangan.
"Kapan kau akan memutuskan hubungan mu dengan laki laki itu?"
Aleska yang sejak tadi pikirannya bercabang kemana mana langsung menoleh.
"Aku baru saja mengambil apa yang menjadi milikku. Kalau bisa secepatnya, tapi jika aku tiba tiba memutuskan nya rasanya kurang seru. Bagaimana kalau Om Aru bantu aku ...."
Jari telunjuk Aleska bergerak menyentuh d**a bidang Gaharu dari balik kemeja Gaharu.
Gaharu menyeringai, gadisnya benar benar nakal. Bisa bisanya dia berubah menjadi kucing nakal ketika baru saja di selingkuhi.
Gaharu langsung menggenggam jari Aleska ketika jari itu mulai turun ke bawah.
"Jangan nakal sayang, kau tahu jika aku bisa melakukan hal yang lebih gila dari pada tadi."
Aleska tersenyum, dia menaruh kepalanya di d**a bidang Gaharu.
Sementara Gaharu mengusap lembut Surai milik Aleska. Gaharu suka sekali rambut panjang Aleska.
"Aku tahu, dan aku baru tahu jika melakukan itu membuat adrenalin terpacu. Pantas saja jika Luke bersama dengan Asila yang bisa memberinya apa saja. Terutama tubuhnya. Entah sejak kapan mereka melakukan nya, aku pun tak tahu. Tapi jika ingat itu, bukannya aku beruntung....."
Sebelah alis Gaharu tertarik. Dia penasaran kenapa gadis kecilnya bisa mengatakan jika dia beruntung. Rasanya tak ada sedih sedihnya sama sekali.
Yah, hanya sekali Gaharu melihat Aleska menangis. Selebihnya Aleska kembali menjadi gadis tengil dan lebih energik.
"Kenapa kau bisa beruntung?"
Aleska menegakkan kembali tubuhnya. Lalu duduk dengan benar dengan kedua tangannya berada di pundak Gaharu.
Mata Aleska berkedip lucu yang membuat Gaharu semakin gemas dengan nya.
Karena tak tahan akhirnya Gaharu mencium sudut bibir gadis itu.
"Om.... kenapa di cium?" protes Aleska.
"Kau menggemaskan, jadi katakan padaku. Apa yang membuatmu bisa beruntung seperti itu?"
"Aku kembali menjadi diriku, kembali fokus pada diriku sendiri. Dan tentunya aku tak akan keluar uang sama sekali karena calon suami ku kaya sejak lahir dan hartanya tak akan habis tujuh turunan."
Kedua alis Aleska naik turun menggoda Gaharu.
Sementara Gaharu langsung tergelak melihat tingkah laku Aleska.
"Hahahha..... "
"Sekarang kau pintar sekali merayu. Nakal....."
Gaharu mencolek hidung Aleska yang membuat Aleska tersenyum lebar.
"Bukan pintar sekarang, aku sudah pintar sejak dulu. Hanya saja, aku terlalu percaya dengan cerita sedih orang lain. Aku punya segalanya, harusnya aku lebih menyenangkan diriku sendiri dari pada memikirkan orang lain. Tapi dulu kenapa aku bisa tertipu oleh mereka? Apa mungkin aku di pelet oleh mereka?"
Gaharu melongo tapi detik berikutnya dia menyentil kening Aleska yang tiba tiba bicara sembarangan.
"Sakit....." Ringis Aleska.
"Sembarangan kalau bicara...."
Tak lama, pintu ruangan itu di ketuk. Aleska turun dari pangkuan Gaharu lalu membuka pintu ruangannya. Ternyata di depan pintu sudah ada karyawannya yang menenteng beberapa paper bag yang berisi makanan.
"Ini untuk siapa? Aku tak pesan......"
Karyawan itu memberi kode dengan matanya, barulah Aleska mengangguk.
"Bilang terima kasih pada Tuan Gaharu karena dia juga membelikan semua karyawan makan siang, Nona."
"Ah. . baiklah.... ku sampaikan pesannya."
Aleska masuk menenteng beberapa paper bag itu.
"Kenapa pesan makanan nya banyak sekali?
"Agar badanmu kembali berisi dan juga......"
Gaharu tak melanjutkan perkataannya tapi matanya menatap sesuatu yang ada pada Aleska.
Aleska yang awalnya bingung mengikuti arah pandang Gaharu. Matanya seketika membola, kedua tangannya reflek menutupi dadanya.
"Yak.... Om Aru.... kenapa melihat ini. m***m sekali!!" teriak Aleska kesal.
Gaharu tergelak, dia sampai memegangi perutnya karena terbahak melihat tingkah Aleska.
"Ayolah sayang, aku sudah melihat, menyentuh bahkan merasakannya. Hanya saja, aku belum merasakan milikmu sepenuhnya."
to be continued