Chapter 04

1014 Words
Sudah mau cerai pun Caleb masih harus menyakitinya. Entah apa pria itu merasa bahagia melihat Willow terus-menerus terluka. Meskipun Willow akhirnya sadar bahwa ia tidak mungkin terus menunggu cintanya dibalas, tetap saja rasa kecewa itu menusuk. Apa dirinya memang sebegitu tidak berharga sampai Caleb memperlakukannya sekasar itu? Untuk menenangkan hati yang sudah babak-belur, Willow pergi ke mall terbesar di Herlington setelah keluar dari pengadilan—mall termewah yang dulu hanya bisa ia lewati tanpa pernah benar-benar masuk. Ia ingin menonton film di bioskop, sesuatu yang dulu sangat ia sukai… sesuatu yang sudah tak pernah ia lakukan lagi sejak menjadi istri Caleb. Ia pernah mengatakan pada Caleb, pada hari ulang tahunnya sendiri, bahwa ia ingin sekali menonton film romantis sambil makan popcorn dan minum milktea. Keinginannya sederhana… tapi Caleb malah menyuruhnya pergi bersama pelayan. Seperti permintaannya tidak layak diberikan waktu. Akhirnya Willow mengurungkan niat itu. Jadi siang ini, ia ingin melakukannya sendirian. Tidak terlalu buruk—sebentar lagi ia juga akan kembali menjadi seorang single, dan akan melakukan apapun seorang diri. Mall tidak begitu ramai karena weekday. Willow tidak perlu mengantri sama sekali untuk membeli tiket. Sebelum masuk studio, ia membeli popcorn dan milktea—keinginan kecil yang dulu selalu ia simpan rapat-rapat. Rasanya mood yang sebelumnya dihancurkan Caleb perlahan membaik, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Dengan langkah tenang, ia mencari kursinya sesuai nomor di tiket. Namun di dalam studio yang remang-remang itu… dunia seakan berhenti. Willow tidak menyangka akan melihat Caleb dan Meisie duduk berdempetan, masing-masing memegang popcorn dan milktea. Persis seperti yang dulu ia impikan untuk dilakukan bersama suaminya sendiri. Tiba-tiba, popcorn dan minuman di tangan Willow terasa seperti batu besar yang menarik seluruh tubuhnya ke dasar. Ia membeku. Seluruh persendiannya seperti terkunci. Mata Willow menolak berkedip meski ia sama sekali tidak ingin menyaksikan Meisie mencondongkan kepala di bahu Caleb. Sedetik. Dua detik. Atau lebih. Ia tidak tahu. Sampai akhirnya, dengan napas yang tercekat di tenggorokan, Willow memutuskan untuk berbalik dan berjalan ke arah pintu exit. Setiap langkah terasa seperti pecahan kaca yang diinjak dengan kaki telanjang. Sepertinya memang tidak bisa diselamatkan lagi. Willow tidak pernah, tidak akan pernah, berhasil memahami Caleb. Semua hal yang dulu ia impikan dilakukan bersama suaminya… justru menjadi hal-hal yang Caleb lakukan dengan Meisie. Apa pun yang Willow suka, langsung Caleb belikan untuk Meisie. Apa pun yang Willow ingin lakukan, Caleb akan temani Meisie melakukan itu. Lucu, bukan? Sebenarnya yang menjadi istri Caleb itu siapa? Ternyata dengan status istri bukan jaminan Willow akan diperlakukan layaknya seorang istri, terkadang menjadi selingkuhan lebih bisa diperlakukan dengan baik. Semua seperti dengan sengaja dilakukan untuk menyakitinya. “Ya Tuhan… selama ini aku benar-benar bodoh.” Willow memarahi dirinya sendiri dalam hati. Merasa muak. Merasa hancur. Merasa ditampar kenyataan yang selama ini ia tutupi dengan cinta yang tidak dibalas. Dan untuk pertama kalinya… ia merasa marah bukan pada Caleb—melainkan pada dirinya sendiri karena masih mencintai seseorang yang dengan mudahnya menghancurkannya. Langkah Willow tak lagi ringan. Rasa sesak di dadanya seperti beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Ia ingin menangis—meraung-raung, dengan air mata terurai tanpa malu—tapi tidak bisa. Mungkin… air matanya sudah habis. Air mata itu terkuras setiap kali Caleb berbohong tentang lembur dan perjalanan dinas—padahal sebenarnya ia sedang menghabiskan waktu bersama Meisie. Air mata itu habis saat Willow harus menelan kekecewaan karena melihat Caleb mengajak Meisie ke tempat berlibur yang selama ini hanya bisa ia impikan. Dan air mata itu semakin habis setiap kali Meisie datang, dengan senyum penuh kemenangan, memamerkan barang-barang pemberian Caleb—barang-barang yang Willow inginkan. Bukan barang mahal. Karena Willow tidak kekurangan uang. Dan ia tidak pernah menyukai kemewahan. Yang ia inginkan hanyalah hal-hal kecil. Seperti kue coklat strawberry dari Happy Bakery. Toko itu hanya menjual jumlah terbatas setiap hari. Saat itu Willow sedang PMS, ingin makan sesuatu yang manis. Ia sudah mengantre panjang, berdiri di bawah terik matahari, menunggu dengan sabar. Lalu tiba-tiba saja… Meisie dan Caleb datang. Dengan nada santai—bahkan terdengar bangga—Caleb mengatakan kepada semua orang yang mengantre bahwa istrinya sedang hamil dan ingin memakan kue coklat strawberry itu. Tanpa ragu. Tanpa sedikit pun menoleh ke arah Willow. Ia membeli semuanya. Berdiri di bawah matahari yang membuat kepalanya pusing. Kakinya mulai terasa dingin meski aspal panas. Dan Caleb tidak buta. Ia tahu itu. Saat Willow memprotes, suaranya tidak meninggi. Tidak ada marah. Tidak ada drama. Ia hanya ingin dimengerti. Namun Caleb menatapnya dengan wajah lelah—seolah Willow adalah masalah—dan berkata, “Ini cuma kue. Kenapa kamu merengek seperti anak kecil?” Dan saat itu—seperti biasa—Willow kembali menjadi pihak yang salah. Selalu Willow. Tidak cuma itu. Saat Willow baru saja sakit dan sedang dalam masa pemulihan, ia meminta pelayan membuatkan sup burung walet. Mulutnya masih pahit, perutnya belum bisa menerima makanan lain. Ia hanya ingin sesuatu yang hangat. Sesuatu yang tidak membuatnya mual. Namun Caleb datang—bersama Meisie. Dengan suara yang tidak memberi ruang untuk membantah, Caleb berkata, “Mengalahlah pada Meisie. Dia sedang banyak kerjaan dan butuh stamina bagus.” “Tapi aku baru sakit… dan belum bisa makan apa-apa,” Willow mencoba berargumen. Suaranya kecil. Hati-hati. Seperti takut membuat kesalahan. “Willow, jadi perempuan itu jangan manja! Makan saja roti atau sop tomat—bukannya sama saja!” hardiknya. Kalau Meisie butuh stamina, itu wajar. Kalau Willow yang habis sakit, ia disebut manja. Perbedaan sikap itu sangat mencolok. Sangat telanjang. Dan tetap saja… saat itu Willow belum pergi. Sebenarnya, bukan karena ia tidak sadar kalau Caleb tak pernah mencintainya, tapi karena ia yang terlalu mencintai. Willow berhenti melangkah sejenak, ia harus menempelkan telapak tangannya ke dinding agar tidak jatuh. Pandangan matanya sempat mengabur karena air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Detak jantungnya tidak teratur, ada rasa mual yang naik dari perut ke tenggorokan mengingat bagaimana Meisie bergelayut manja dan menempelkan tubuhnya ke Caleb. Ia menarik napas… tapi tidak terasa masuk. Mungkin…bukan hanya air matanya yang habis, dan mungkin ia sudah terlalu lama menahan diri untuk tidak runtuh. Dan sekarang…retakan itu sudah terlalu besar untuk disembunyikan. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan atau dipertimbangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD