Chapter 05

1273 Words
Malam itu, Caleb pulang lebih larut dari biasanya. Tidak ada Willow di ruang tamu. Tidak ada sosoknya yang duduk di sofa dengan buku terbuka di pangkuan, menunggu dengan mata setengah mengantuk seperti malam-malam sebelumnya. Rumah terasa… aneh. Terlalu sunyi. Caleb langsung menuju kamar. Di dalam kamar, ia melihat sedikit cahaya keluar dari lampu baca. Willow duduk bersandar di headboard, selimut tipis menutup separuh tubuhnya. Di telinganya terpasang headset, sementara tablet ada di tangannya. Jarinya bergerak pelan, teratur—menggambar karakter animasi dengan fokus penuh, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Ia tidak menoleh. Bahkan saat pintu kamar dibuka. Seakan kehadiran Caleb tidak lagi layak mendapat perhatian. Willow tenggelam di dunianya sendiri. Menggambar adalah satu-satunya cara agar kepalanya tidak terlalu berisik. Satu-satunya terapi yang ia miliki. Jika sebagian orang menenangkan diri dengan menulis, melukis, atau mendaki gunung— Willow mendapatkan ketenangannya dengan menciptakan karakter animasi. Dunia kecil yang bisa ia kendalikan, ketika hidupnya sendiri terasa di luar kuasa. Punggungnya bersandar pada headboard, bahunya rileks. Untuk sesaat—hanya sesaat—ia terlihat damai. Namun ketenangan itu direnggut begitu saja. Caleb melangkah mendekat dan tanpa peringatan menarik headset dari telinganya. “Kamu—” Willow hampir meledak. Kata itu sudah di ujung lidahnya. Amarah, kesal, lelah—semuanya bercampur jadi satu. Namun ia menahannya. Ia tidak ingin terlihat bodoh lagi di hadapan Caleb. Tidak ingin terlihat seperti perempuan yang masih berharap diperhatikan. Dengan gerakan tenang—terlalu tenang—Willow kembali memasang headset ke telinganya dan melanjutkan menggambar. Seolah Caleb tidak ada di sana. “Apa kamu tidak melihat suamimu pulang?” tanya Caleb dingin. Tidak ada jawaban. “Aku bicara denganmu, Willow!” gertak Caleb. Willow berhenti menggambar. Perlahan, ia meletakkan tablet di atas nakas, melepaskan headsetnya. Ia menatap Caleb—tatapan yang dingin, datar, dan terlalu tenang untuk seseorang yang sudah terlalu lama disakiti. “Jangan berteriak seperti itu,” ucap Willow pelan. “Aku bisa mendengarnya.” Nada suaranya tidak menantang. Tidak juga memohon. Hanya… kosong. Tak ada emosi appaun di dalamnya. Caleb berdiri angkuh di hadapannya, rahangnya mengeras. Tatapan kesal itu kembali muncul—tatapan yang selama ini selalu membuat Willow mengecil. “Kamu sengaja bersikap seperti ini?” tanya Caleb tajam. “Sejak kapan kamu jadi kurang ajar?” Willow menatapnya lama. Ada waktu—dulu sekali—di mana pertanyaan itu akan membuatnya gemetar. Membuatnya minta maaf. Membuatnya menyalahkan diri sendiri. Dia sangattakut menyinggung apalagi membuat Caleb marah. Tapi malam itu… tidak. “Sejak aku memutuskan untuk tidak lagi menjadi istrimu,” jawab Willow singkat. Caleb terdiam sejenak. “Hah?” Willow menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa nyeri, tapi ia bertahan. “Aku lelah berpura-pura tidak apa-apa, karena kenyataannya aku sudah tidak tahan lagi dengan pernikahan ini,” lanjutnya, suaranya tetap rendah, namun sarat kelelahan yang tak lagi bisa disembunyikan. “Lelah menunggumu setiap malam seperti itu kewajibanku. Lelah dianggap tidak ada hanya karena aku istrimu.” “Kamu dramatis,” dengus Caleb. “Aku bekerja, kamu juga yang menikmati! Dan jangan pernah bicara tentang perceraian lagi di hadapanku!” Kalimat itu seperti palu yang menghantam kesabaran terakhir Willow. Ia langsung menyibak selimut yang menutupi separuh tubuhnya dan berdiri berhadapan dengan Caleb. Gerakannya tegas, matanya menyala—bukan oleh amarah yang meledak, melainkan oleh tekad yang tertahan. “Tidak bisa!” ucap Willow. “Aku sudah mengisi formulirnya. Kamu tinggal tanda tangan. Berikan ID kamu dan sertifikat pernikahan—aku bisa urus sendiri kalau kamu terlalu sibuk!” Nada suaranya serius. Tidak lagi bergetar. Tidak lagi memohon. “Tidak,” jawab Caleb cepat. “Setidaknya sampai hari ulang tahun nenekku.” Willow terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya—pahit dan mengejek. Tentu saja bukan karena dia mencintai Willow atau mempertahankan pernikahan mereka. “Jadi begitu,” katanya. “Kamu takut sama nenek. Bukan karena kamu tidak ingin cerai.” Di keluarga Stirling, satu-satunya orang yang Caleb takuti dan dengarkan omongannya hanyalah Nenek Margareth. Caleb pasti takut. Takut jika di hari ulang tahun neneknya ia tidak membawa Willow pulang—karena nenek sangat menyukai Willow. Bagi Nenek Margareth, meskipun dulu Willow yang mengejar-ngejar Caleb, ia melihat sesuatu yang tidak dimiliki banyak perempuan: hati yang murni dan tulus. Nenek Margareth bukan tidak pernah bertemu Meisie. Tentu saja pernah. Caleb bahkan sempat membawanya pulang, meski hanya dikenalkan sebagai sekretaris. Namun komentar Nenek Margareth cukup membuat Caleb gentar untuk membawa Meisie kembali. Dari sorot matanya saja, kata Nenek Margareth, bisa terlihat kalau Meisie manipulatif dan bukan perempuan baik-baik. Dan tentu saja—Caleb membelanya mati-matian. “Willow, jangan lupa,” Caleb mengungkit lagi, suaranya menekan, “kamu dulu yang menginginkan pernikahan ini!” “Aku nggak lupa, Caleb,” sahut Willow cepat. “Aku ingat saat aku mencintaimu dengan bodoh. Tiga tahun mengejarmu. Dan saat kamu mabuk, membuatmu meniduriku, lalu kamu menganggap aku menjebakmu. Aku ingat semuanya. Nggak perlu kamu ingatkan!” “Kamu sudah mencintaiku selama enam tahun,” Caleb menatapnya tajam, “dan sekarang ingin bercerai? Kamu yakin?” “Sangat yakin.” “Kenapa begitu ingin cerai, Willow?” Caleb mendekat setapak. “Apakah ada lelaki lain?” Willow menghela napas panjang. Lelahnya terasa sampai ke tulang. “Nggak. Nggak ada,” jawabnya. Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara dingin, “Tapi ada wanita lain.” “Kamu menyeret Meisie lagi dalam pertengkaran kita?” bentak Caleb. “Berhenti menyalahkanku terus-menerus!” “Begitu?” Willow tersenyum tipis, mengejek. “Kalau begitu, supaya kamu bisa menjaganya dengan baik… kenapa kamu nggak sekalian nikahin dia? Kan biar bisa menjaga dengan maksimal.” “Willow, berhenti membuat drama seolah aku berselingkuh!” Caleb menggeram. “Kamu ingin cerai, aku akan kabulkan. Tapi tidak sekarang!” Kalimat itu jatuh berat di udara. Willow menatap Caleb tanpa berkedip. Tidak ada air mata. Tidak ada kemarahan yang meledak. Hanya satu kesadaran dingin yang semakin mengeras di dadanya— bahkan keinginannya untuk pergi pun masih harus menunggu kenyamanan orang lain. Willow tidak menjawab lagi. Ia tidak merasa perlu. Ia hanya menunduk, meraih tablet di atas nakas, lalu mengenakan kembali headset-nya. Gerakannya tenang, nyaris terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dihancurkan oleh kalimat suaminya sendiri. Caleb berdiri di sana beberapa detik, menunggu—mungkin berharap Willow akan berteriak, menangis, atau setidaknya membantah. Tapi tidak ada apa-apa. Yang ada hanya punggung Willow yang kembali bersandar pada headboard, jari-jarinya bergerak pelan di layar tablet. Karakter animasi yang tadi sempat terhenti kini kembali terbentuk—garis demi garis, rapi, terkendali. Dunia kecil yang tidak melukainya. Caleb mendengus pelan, merasa diabaikan, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar. Pintu ditutup tanpa dibanting—tapi cukup keras untuk menandai bahwa pembicaraan mereka selesai. Atau setidaknya… menurutnya. Willow menatap layar tablet tanpa benar-benar melihat apa yang ia gambar. Bentuknya mulai melenceng, garisnya tidak lagi simetris. Tangannya gemetar. Ia menekan undo. Lagi. Dan lagi. Seperti hidupnya. Lalu tiba-tiba, setetes air jatuh ke layar. Willow terdiam. Ia menyentuh pipinya. Basah. Jadi… air matanya belum habis. Ia tertawa kecil tanpa suara. Tawa yang terdengar lebih seperti retakan. Di layar, karakter animasi itu memiliki mata kosong—tanpa ekspresi. Willow menatapnya lama, lalu tanpa sadar menghapus bagian wajahnya. Ia tidak ingin membuat apa pun yang menyerupai dirinya lagi. Willow mematikan tablet. Melepas headset, ia membiarkan dirinya rebah menyamping—membelakangi sisi ranjang yang kosong. Tangannya bergerak ke perutnya, menekan pelan, mencoba meredakan sesak yang kembali naik. “Sedikit lagi,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Sedikit lagi saja. Bertahanlah, Willow!” Dan malam itu, di kamar yang sama, di ranjang yang sama, Willow tahu satu hal dengan sangat pasti—ia tidak lagi menunggu Caleb berubah apalagi mencintainya. Ia hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar menghilang dari hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD