Bab 12. PPSM

1089 Words
"Bahu kamu kenapa ini, Betari?" Pertanyaan Mama Rosa menggantung di udara. Jari-jarinya yang dihiasi kutek merah merona masih mencengkeram ujung kerah daster Betari, menariknya sedikit ke samping hingga tanda kemerahan yang masih segar itu terlihat jelas di bawah terangnya cahaya lampu kristal ruang tamu. Betari merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya menguap. Kakinya gemetar hebat, dan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. "I-itu ... anu, Nyonya Besar ...." "Anu apa? Jawab yang jelas! Jangan gagap begitu!" bentak Mama Rosa, matanya memicing penuh selidik. "Merah-merah bulat begini ... seperti bekas digigit atau bekas ciuman. Kamu habis ngapain siang-siang begini di rumah ini, hah?!" Di sudut sofa, Aryuda tetap duduk dengan posisi tegaknya. Wajahnya datar tanpa ekspresi, seolah-olah dia hanyalah penonton. Namun, jemari tangannya diam-diam mengepal kuat, menahan gejolak adrenalin yang mendadak naik. Otaknya yang cerdas berputar cepat, mencari cara untuk menjinakkan bom waktu yang hampir meledak ini. "S-saya ... tadi habis membersihkan gudang atas, Nyonya Besar," jawab Betari akhirnya, suaranya bergetar menahan tangis yang hampir pecah. "Di sana gelap dan kotor. Pas saya lagi memindahkan kardus, tiba-tiba ada serangga besar ... sepertinya tawon, langsung menyengat bahu saya. Rasanya perih sekali, makanya jadi merah begini." Mama Rosa mendengus kencang, melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Betari dengan gerakan jijik. "Tawon? Makanya jadi pembantu itu yang resik! Gudang kotor kok kamu masuki tanpa dibersihkan dulu luarnya, bikin jorok saja! Kalau kamu sakit-sakitan, nanti malah menyusahkan anakku Elisa!" Sebelum Mama Rosa melanjutkan omelan panjangnya, Aryuda berdeham lumayan keras, memotong ketegangan. "Gudang atas memang banyak tawon kertas, Ma. Kemarin sore saya juga hampir tersengat saat mengecek instalasi kabel di atas," bohong Aryuda dengan santai dan logis. Pria itu melirik ke arah pelayan tua di sebelahnya. "Sum, ambilkan minyak tawon di kotak obat untuk Betari. Biar lukanya tidak bengkak dan mengganggu kerjanya." Mbok Sum yang sejak tadi berdiri mematung langsung tersentak. Matanya membelalak kecil mendengar pembelaan dari sang majikan. Otak tuanya yang sejak siang tadi sudah menyimpan teka-teki tentang "jejak kaki basah" di kamar mandi utama mendadak terhubung dengan tanda merah di bahu Betari. Mbok Sum tahu persis ada yang tidak beres, namun ketakutannya pada wibawa Aryuda membuat wanita tua itu memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat. "I-gih, Tuan. Baik. Mari Betari, ikut si Mbok ke dapur," ajak Mbok Sum cepat, menarik lengan Betari yang lemas untuk segera menjauh dari ruang tamu. Begitu tiba di dapur, Betari langsung menyandarkan tubuhnya ke pinggiran lemari piring. Air matanya menetes satu per satu karena syok. Jantungnya masih berdegup kencang. "Nduk, diam dulu. Jangan menangis, nanti suaramu terdengar sampai ke depan," bisik Mbok Sum sambil buru-buru mengambil kotak obat. Wanita tua itu mendekati Betari, lalu dengan cekatan memasangkan sebuah peniti kecil dari bagian dalam kerah daster Betari agar potongan kainnya menyempit dan menutupi bahunya dengan rapat. "Mbok... saya takut..." cicit Betari sambil menghapus air matanya dengan ujung celemek. Dengan pelan, Mbok Sum mengoleskan sedikit minyak obat ke bahu Betari. Matanya menatap lekat-lekat tanda merah pekat itu. Dia mengembuskan napas panjang, lalu berbisik dengan nada yang sangat serius tepat di dekat telinga Betari. "Betari, kamu jujur sama si Mbok. Kamu tadi beneran ke gudang atas ... atau kamu habis dari kamar mandi Tuan Aryuda?" Deg. Betari merasa darahnya berhenti mengalir. Dia menatap Mbok Sum dengan tatapan horor. "M-Mbok ... saya ...." "Si Mbok ini sudah tua, nduk. Tadi siang si Mbok lihat ada jejak kaki basah dua pasang di depan kamar mandi Tuan. Si Mbok kira itu Nyonya Elisa, tapi sekarang ... melihat tanda di bahumu ini ...." Mbok Sum menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah cemas. "Kamu tahu kan taruhannya apa kalau sampai Nyonya Elisa tahu? Kamu bisa habis, Betari." "Sumpah, Mbok ... saya digigit serangga," kebohongan itu terpaksa keluar lagi dari bibir Betari yang bergetar. Dia tidak punya pilihan lain. Mengakui dosa besar itu sekarang sama saja dengan bunuh diri. Mbok Sum menatap Betari lama, mencari kebohongan di mata gadis desa itu. Akhirnya, pelayan tua itu hanya bisa menghela napas pasrah. "Yo wes, kalau kamu bilangnya begitu, si Mbok percaya. Sekarang hapus air matamu. Bawa teh hangat ini ke depan. Nyonya Elisa baru saja datang, suaranya sudah heboh di depan." Suasana di ruang makan mewah rumah Menteng siang itu terasa sangat ramai namun mencekam bagi Betari. Elisa memang baru saja tiba dengan wajah ceria, langsung menghambur memeluk kedua orang tuanya dan bermanja-manja di samping Aryuda. Mereka berempat kini sudah duduk mengelilingi meja makan marmer panjang yang dipenuhi dengan berbagai hidangan makan siang premium. "Aduh Mama, untung Mas Yuda mau menemani Papa sama Mama duluan. Aku tadi benar-benar gak bisa ditinggal, fotografernya cerewet banget," keluh Elisa sambil menyendokkan nasi ke piring Aryuda dengan gerakan manja. "Mas, dimakan ya dagingnya. Kamu pucat banget siang ini, kurang tidur ya semalam?" "Saya tidak apa-apa, Elisa. Hanya sedikit lelah karena urusan kantor," sahut Aryuda pendek. Matanya sesekali melirik ke arah area dapur, menunggu seseorang muncul. "Betari! Sini kamu!" panggil Elisa dengan suara meninggi. "Bawakan teko keramik putih yang isinya air es ke sini. Papa mau minum air dingin." "Baik, Nyonya," sahut Betari dari arah dalam. Gadis itu melangkah keluar dari dapur dengan kedua tangan yang memegangi teko keramik berukir emas yang ukurannya cukup besar dan terasa berat. Bahunya sudah tertutup rapat berkat peniti dari Mbok Sum, namun rasa perih dari bekas gigitan Aryuda masih terasa berdenyut setiap kali dia menggerakkan lengan kirinya. Betari berjalan menunduk, mendekati meja makan dengan hati-hati. Dia mulai menuangkan air es ke gelas Papa Elisa, lalu beralih ke gelas Mama Rosa. Semua berjalan lancar sampai akhirnya dia harus berdiri tepat di samping tempat duduk Aryuda untuk memenuhi gelas sang CEO. Aroma sabun mandi maskulin yang sangat familiar dari tubuh Aryuda langsung menyerbu indra penciuman Betari, mengingatkannya kembali pada keintiman panas di kamar mandi lantai atas tadi. Tangan Betari mulai sedikit gemetar karena gugup berada sedekat ini dengan Aryuda di depan istri sahnya. Tepat saat aliran air es dari teko keramik itu mulai mengisi setengah gelas Aryuda, sebuah kejadian tak terduga terjadi. "Aduh!" Sendok Aryuda mendadak tergelincir dari tangannya dan jatuh ke atas lantai tepat di samping kaki Betari. "Ah, maaf. Sendok saya jatuh," ucap Aryuda santai. Pria itu kemudian merundukkan tubuh tegapnya ke bawah meja untuk memungut sendok tersebut. Namun diluar dugaan, tangan Aryuda sama sekali tidak mengarah pada sendok. Dengan gerakan berani dan cepat, telapak tangan Aryuda yang hangat langsung mencengkeram dan mengelus lembut betis telanjang Betari yang berada di balik celemeknya. Sentuhan yang tiba-tiba itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi bagi Betari. Tubuhnya seketika menegang kaku bak batu, dan napasnya tertahan di tenggorokan karena terkejut setengah mati. "Ah—!" Betari tersentak, membuat tangannya yang memegang teko keramik kehilangan keseimbangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD