Bab 11. PPSM

1518 Words
Aryuda berdehem, meremas jemarinya untuk menetralkan gemuruh di dadanya, lalu mengangkat benda pipih itu. "Ya, Elisa? Ada apa?" tanya Aryuda, matanya langsung melirik tajam ke arah celah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Di dalam kamar mandi, Betari berdiri membeku. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau melompat keluar. Tangannya bergerak panik merapikan celemek kainnya yang sempat melorot. Namun, karena terlalu terburu-buru, kerah daster di balik celemeknya justru tertarik miring sebelah. Bahunya yang putih mulus serta tali pakaian dalamnya terekspos jelas di bawah cahaya lampu wastafel. Dari seberang telepon, suara Elisa terdengar melengking heboh, berlatar belakang suara bising khas lokasi pemotretan. "Mas! Untung kamu angkat! Kamu masih di rumah, kan? Nggak langsung ke kantor siang ini?" "Saya masih di rumah. Baru selesai mandi. Ada apa?" Aryuda menjawab pendek. "Aduh, untung deh! Mas, dengerin aku ya. Papa sama Mama mendadak menelepon katanya sudah di jalan menuju rumah Menteng!" seru Elisa panik. "Ada urusan bisnis mendadak di Jakarta pusat, jadi mereka sekalian mau mampir. Katanya sekitar tiga puluh menit lagi sampai!" Aryuda langsung menegang. Rahangnya mengeras seketika. "Papa dan Mama? Kenapa mendadak sekali?" "Ya mana aku tahu! Namanya juga orang tua," sahut Elisa dengan nada jengkel. "Masalahnya, aku masih terjebak di lokasi pemotretan agensi internasional ini. Gaun utamanya belum selesai difoto, Mas. Aku nggak bisa tinggalin lokasi sekarang juga. Jadi, kamu tolong sambut mereka dulu, ya? Jangan ketus-ketus sama Papa!" "Ya. Saya mengerti," jawab Aryuda dingin. "Inget ya, Mas! Suruh pembantu udik itu bikin teh yang benar, jangan bikin malu di depan Mama. Dan tolong pakai baju yang rapi, jangan pakai kaus oblong. Aku menyusul pulang secepatnya. Dah, Mas!" Sambungan telepon diputus sepihak. Aryuda menurunkan ponselnya, lalu mengumpat pelan. Sisa waktu mereka benar-benar habis, dan suasana intim yang baru saja terbangun harus bubar seketika demi formalitas menyambut mertua. Aryuda melangkah lebar kembali ke dalam kamar mandi, lalu menutup pintunya dengan sekali sentakan. Tatapannya langsung mengunci tubuh Betari yang masih berdiri gemetar di depan wastafel. "T-Tuan ... Nyonya Elisa bicara apa?" bisik Betari ketakutan, matanya bergerak liar menatap handuk putih yang masih melilit pinggang Aryuda. Aryuda tidak langsung menjawab. Pria itu justru melangkah maju, mengikis jarak hingga d**a bidangnya yang hangat kembali menempel pada tubuh mungil Betari. Dia mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua tangannya yang bertumpu pada dinding marmer di sisi kepala Betari. "Mertua saya mau datang. Tiga puluh menit lagi mereka sampai di sini," bisik Aryuda serak, tepat di depan wajah Betari. "Hah?! Tuan ... Tuan jangan bercanda!" Pekikan Betari tertahan di tenggorokan, wajahnya yang tadi merah mendadak pucat pasi. "Kalau begitu lepaskan saya, Tuan! Saya harus turun ke bawah sekarang! Kalau mereka lihat saya di sini—" "Diam dulu, Betari," potong Aryuda cepat. Tatapan matanya turun, menatap lekat-lekat bahu mulus Betari yang terekspos karena potongan dasternya yang miring sebelah. Pakaian dalamnya yang licin berkilau pelan terkena cahaya. "Tuan Aryuda... Saya mohon ..." Betari meremas d**a bidang Aryuda yang polos, mencoba mendorongnya, namun tenaganya sama sekali tidak berarti. "Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah membuat saya sekacau ini sejak semalam?" guman Aryuda berbisik dalam. Bukannya melepaskan, Aryuda justru merundukkan kepalanya. Dia mengabaikan rintihan lemah Betari. Alih-alih mencium bibir gadis itu yang bisa meninggalkan bekas kentara, Aryuda memilih memiringkan wajahnya ke arah bahu Betari yang terbuka. Dia mendaratkan kecupan basah yang kuat di sana, menghirup aroma tubuh Betari dalam-dalam, lalu sengaja menggigit kecil kulit lembut itu sebagai tanda "ganti rugi" karena urusannya diganggu. "Ah—Tuan ...." Betari mendesah tertahan, matanya terpejam erat sambil mencengkeram bahu kokoh Aryuda. Rasa panas menjalar dari bahunya, meninggalkan sebuah jejak kemerahan yang cukup pekat di kulit putihnya. Aryuda menjauhkan wajahnya, menatap mahakaryanya di bahu Betari dengan senyuman puas. "Itu hukuman karena kamu mencoba kabur. Sekarang, turun ke bawah. Bersikap biasa saja dan jangan memancing kecurigaan." Begitu kungkungan tubuh Aryuda terlepas, Betari langsung membenahi celemeknya. Dia tidak sempat memeriksa cermin lagi, hanya memikirkan cara menyelamatkan diri. "S-saya turun sekarang, Tuan!" cicit Betari dengan suara bergetar. Dengan jantung yang rasanya mau copot, Betari menyelinap keluar dari kamar utama lewat pintu belakang yang terhubung langsung dengan tangga servis khusus pelayan. Dia berlari setengah berjingkat menuruni anak tangga, napasnya tersengal-sengal sampai tiba di area dapur di lantai bawah. Di dapur, Mbok Sum ternyata sedang duduk bersandar sambil memijat betisnya. Begitu melihat Betari muncul dengan wajah pucat dan napas ngos-ngosan, wanita tua itu langsung melonjak kaget. "Astaga, Nduk! Kamu itu dari mana saja toh? Datang-datang kok mukanya kayak habis dikejar genderuwo begitu?" tanya Mbok Sum heran, menatap Betari dari ujung kepala sampai ujung kaki. "M-Mbok ... itu ...." Betari terbata-bata, memegangi dadanya yang naik turun. "Mertua Tuan Aryuda ... orang tua Nyonya Elisa mau datang! Tiga puluh menit lagi sampai!" "Hah?! Sing bener kamu?!" Mbok Sum langsung berdiri tegak, rasa pegal di kakinya hilang seketika digantikan kepanikan. "Aduh mampus! Ndoro Putri sama Ndoro Kakung mau ke sini mendadak? Kenapa ndak bilang dari subuh toh?!" "Nyonya Elisa baru telepon Tuan Aryuda tadi, Mbok! Nyonya masih di lokasi pemotretan, jadi kita yang harus siapkan semuanya di bawah!" seru Betari, mencoba mengalihkan perhatian Mbok Sum agar tidak jeli melihat penampilannya. "Ya Gusti, ya sudah! Betari, kamu cepat ambil stoples kue kering premium yang di lemari atas itu! Cepat dilap wadahnya biar mengilat! Siapkan cangkir keramik yang ada ukiran emasnya, jangan pakai gelas beling yang buat harian!" perintah Mbok Sum heboh, mulai menyalakan kompor untuk merebus air. "Aduh, Ibu Ndoro itu orangnya perfeksionis banget, nduk. Salah sedikit saja bisa habis kita diomeli!" "B-baik, Mbok! Saya ambil sekarang!" Suasana dapur yang tadinya tenang mendadak berubah jadi arena balap darurat. Betari sibuk naik-turun mengambil stoples kue, sementara tangannya sesekali meraba bahu kirinya yang terasa agak perih dan berdenyut hangat akibat ulah Aryuda tadi. Dia benar-benar berdoa dalam hati agar celemek dan kerah dasternya bisa menutupi tanda itu dengan aman. Tepat dua puluh lima menit kemudian, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di pekarangan depan rumah. "Itu mereka, nduk! Cepat, cepat!" bisik Mbok Sum panik, mematikan kompor dan merapikan kain batiknya. Dari arah tangga tengah, Aryuda turun dengan langkah yang tenang dan berwibawa. Pria itu sudah berganti pakaian, mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru gelap yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memancarkan aura CEO yang matang dan sangat berkuasa. Wajahnya kembali datar, seolah-olah kejadian panas di kamar mandi lantai atas beberapa menit lalu tidak pernah terjadi. Aryuda berjalan menuju pintu depan tepat saat ketukan pintu terdengar. Mbok Sum dan Betari mengekor di belakang dengan kepala menunduk hormat. Aryuda membuka pintu kayu ek besar itu. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita paruh baya yang berpenampilan glamor. Rambutnya disanggul rapi, mengenakan setelan blazer sutra, lengkap dengan kacamata hitam yang langsung dia turunkan ke hidung begitu pintu terbuka. Di sampingnya, berdiri sang suami yang tampak berwibawa dengan kemeja batik sutra. Mereka adalah orang tua Elisa. "Papa, Mama. Selamat siang," sapa Aryuda, mengangguk hormat lalu mencium tangan kedua mertuanya bergantian. "Siang, Yuda. Aduh, Jakarta siang ini panas sekali, ya," keluh Ibu Elisa, Mama Rosa, sambil mengipasi lehernya dengan tangan yang dihiasi cincin berlian besar. "Elisa mana? Katanya tadi sudah mau pulang?" "Elisa masih ada sedikit urusan di lokasi pemotretannya, Ma. Tapi dia sedang dalam perjalanan ke sini. Mari, silakan masuk dulu," ucap Aryuda sopan, menggeser tubuhnya untuk memberi jalan. Mama Rosa melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang megah, diikuti suaminya. Matanya yang tajam bak elang langsung memindai seisi ruangan, memeriksa apakah ada debu atau tata letak barang yang tidak sesuai dengan seleranya yang tinggi. Mbok Sum langsung maju setapak sambil menunduk dalam. "Selamat siang, Ndoro Ibu, Ndoro Bapak. Silakan duduk, teh hangatnya sedang disiapkan." "Iya, Sum. Tolong buatkan yang tidak terlalu manis, ya," sahut Mama Rosa ketus. Namun, saat Mama Rosa hendak melangkah menuju sofa kulit mewah di ruang tengah, langkah kakinya mendadak berhenti. Pandangan matanya yang tajam beralih, terkunci lurus pada sosok gadis muda yang berdiri di belakang Mbok Sum. Betari berdiri membeku, menunduk menatap ujung sandalnya sendiri. Jarinya meremas ujung celemek. Dia mencoba menyembunyikan sisi kiri tubuhnya, namun karena dia berdiri agak menyamping, potongan kerah dasternya jadi agak bergeser karena sedikit longgar. Mama Rosa memicingkan matanya yang dilapisi riasan tebal. Dia maju satu langkah mendekati Betari, membuat suasana di ruangan itu mendadak hening dan mencekam. Aryuda yang melihat pergerakan mertuanya itu hanya diam berdiri. "Kamu ... pembantu baru yang diceritakan Elisa lewat telepon minggu lalu itu, ya?" tanya Mama Rosa, suaranya terdengar dingin dan penuh selidik. "I-iya, Nyonya Besar. Nama saya Betari," jawab Betari dengan suara yang bergetar menahan takut. Mama Rosa tidak langsung menjawab. Dia berjalan memutari tubuh Betari dengan perlahan, mengamati penampilan gadis desa itu dari atas sampai bawah. Saat berada di posisi samping kiri Betari, mata tajam Mama Rosa mendadak menangkap sesuatu di balik celah kerah dasternya. Wanita itu menghentikan langkahnya tepat di samping Betari. Dia mengangkat satu alisnya, lalu mengulurkan tangannya yang berkuku merah merona, menyentuh kerah daster Betari dan menariknya ke samping hingga tanda merah di bahu itu terlihat jelas. Deg. Jantung Betari rasanya benar-benar berhenti berdetak saat itu juga. Ia bahkan tak bisa bergerak saking kakunya. "Bahu kamu kenapa ini, Betari?" tanya Mama Rosa dengan nada suara yang meninggi, penuh selidik. "Merah-merah begini ... seperti bekas gigitan atau ciuman. Kamu habis ngapain siang-siang begini di rumah ini, hah?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD