Mata Betari membelalak, panik luar biasa hingga wajahnya pucat. "Tuan! Mbok Sum mau ngepel ke sini!"
Aryuda mengumpat pelan dalam hati. Dengan refleks yang super cepat, dia mencengkeram pergelangan tangan Betari, menyeret pelan gadis itu masuk ke dalam kamar mandi mewah yang terletak di dalam kamar utama, lalu menutup pintunya rapat-rapat tanpa menimbulkan suara.
"Sttt ... Kita diam dulu di sini."
Kini, di dalam kamar mandi yang sempit dan beruap hangat itu, Aryuda dan Betari berdiri menempel di balik pintu. Napas mereka memburu berkejaran dengan waktu, sementara di luar, suara ember pel Mbok Sum terdengar diletakkan tepat di depan pintu kamar mandi tempat mereka bersembunyi.
Suara kain pel yang menyapu lantai di luar terdengar jelas bagi Betari. Dia benar-benar menahan napasnya sampai dadanya terasa sesak.
"Hih, bocah ini kalau ketemu nanti benar-benar tak jewer kupingnya," gerutu Mbok Sum lagi di luar, masih sibuk mengomel sambil mengayunkan tongkat pelnya ke kanan dan ke kiri. "Jam segini pembantu baru sudah kelayapan entah ke mana. Malah bikin kerjaan orang tua makin numpuk saja."
Betari di dalam kamar mandi langsung membekap mulutnya sendiri rapat-rapat dengan kedua belah tangan. Dia melirik Aryuda dengan tatapan bersalah sekaligus ketakutan. Rasanya memalukan sekali namanya dijelek-jelekkan sebagai pemalas tepat di depan telinga bos besar yang menggajinya.
Aryuda yang berdiri tepat di depan Betari hanya bisa menyunggingkan senyum geli. Mata elangnya menatap lurus ke bawah, menikmati kepanikan luar biasa dari gadis itu. Situasi ini benar-benar gila, tapi entah mengapa, Aryuda justru merasa adrenalinnya tertantang.
Gerakan kain pel Mbok Sum makin mendekat ke arah area depan pintu kamar mandi. Namun, saat wanita tua itu menunduk untuk menjangkau sudut lantai di dekat keset kamar mandi, gerakannya mendadak berhenti. Matanya yang agak rabun menangkap sesuatu yang basah di atas permukaan marmer kelabu yang mengilat.
Ada dua pasang jejak kaki basah yang tercetak jelas di sana. Jejak itu membentang dari arah tempat tidur dan menghilang tepat di bawah celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Satu pasang jejak kaki berukuran besar dan lebar, sementara satu pasang lagi adalah jejak kaki telanjang yang jauh lebih mungil.
Mbok Sum terdiam sejenak di luar. Dia memicingkan matanya yang keriput, menatap jejak kaki basah itu bergantian dari kiri ke kanan. Bukannya curiga, sebuah senyuman penuh arti bercampur geli mendadak terukir di wajah tuanya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan dengan suara berbisik yang sayangnya masih bisa terdengar menembus pintu kayu kamar mandi.
"Oalah ... Tuan Aryuda sama Nyonya Elisa toh yang ada di dalam?" gumam Mbok Sum sambil tersenandika sendiri. Dia mengira kamar itu kosong sejak tadi karena suasananya yang sunyi senyap tanpa suara obrolan.
"Pantesan saja dari tadi kamarnya sepi banget, rupanya lagi berduaan di dalam toh ... Wah, kalau dilihat-lihat, jejak kaki Nyonya Elisa ternyata mungil banget ya. Ya namanya juga model kelas atas, badannya kurus kecil begitu. Pantesan saja Tuan Aryuda sampai kesemsem berat dan betah banget berduaan di kamar mandi siang-siang begini. Dasar pengantin baru, tidak kenal waktu," bisik Mbok Sum lagi sambil terkekeh geli.
Deg.
Mendengar celetukan polos dari Mbok Sum yang mengira dirinya adalah Nyonya Elisa, seluruh darah di tubuh Betari rasanya langsung berdesir naik ke kepala. Wajahnya seketika menghangat, berubah menjadi merah pekat seperti kepiting rebus karena malu yang teramat sangat. Dia menatap Aryuda dengan tatapan horor, seolah-olah memohon agar bumi mendadak terbelah dan menelannya hidup-hidup saat itu juga agar dia tidak perlu menghadapi situasi memalukan ini.
Sementara itu, Aryuda yang mendengar kata "kesemsem" dari balik pintu justru sama sekali tidak merasa terganggu. Sebaliknya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman nakal yang teramat seksi. Ucapan Mbok Sum barusan seolah menjadi bahan bakar baru bagi gairah terlarang yang sempat tertunda di luar tadi. Tensi di dalam ruangan sempit itu mendadak naik drastis, berubah menjadi begitu pekat dan panas.
Karena ukuran kamar mandi yang terbatas, posisi mereka berdua menjadi tanpa jarak. d**a bidang Aryuda yang semi basah dan berotot menempel sempurna pada d**a Betari yang terbungkus celemek kain tipis. Setiap kali pria itu mengembuskan napas rendah, Betari bisa merasakan kehangatan yang menjalar langsung menembus pakaiannya.
Aryuda perlahan memajukan tubuhnya lagi, makin mengunci pergerakan Betari hingga punggung gadis itu membentur dinding marmer kamar mandi yang dingin. Kontras antara dinginnya dinding dan kehangatan kulit polos Aryuda membuat tubuh Betari bergetar hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"T-Tuan ... jangan ... Mbok Sum masih di luar," bisik Betari nyaris tanpa suara. Matanya membelalak panik saat melihat wajah Aryuda mulai merunduk ke arah lehernya. Tangannya yang mungil coba mendorong d**a bidang pria itu, namun tenaganya sama sekali tidak berarti apa-apa bagi kekuatan Aryuda.
"Dia tidak akan dengar, Betari. Suara pelnya lebih keras," sahut Aryuda dengan bisikan pelan di dekat telinga Betari, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika.
Aryuda mengabaikan penolakan lemah itu, dia mulai mendaratkan kecupan-kecupan hangat di sepanjang garis leher Betari, menghirup aroma tubuh alami gadis itu yang selalu berhasil membuatnya lepas kendali sejak malam itu. Setiap sentuhan bibir Aryuda di kulit lehernya terasa seperti sengatan listrik yang membuat lutut Betari lemas seketika. Rasa takut tertangkap basah dan debaran gairah yang meluap-luap bercampur menjadi satu, mengaduk-aduk emosi Betari hingga dia hanya bisa pasrah mencengkeram lengan kekar Aryuda.
Di luar, suara seretan pel Mbok Sum akhirnya mulai terdengar menjauh kembali ke arah pintu keluar kamar utama. Wanita tua itu tampaknya sudah selesai dengan tugasnya di area tersebut.
"Yo wes lah, si Mbok ndak mau mengganggu pengantin baru yang lagi pacaran siang-siang begini," seru Mbok Sum dengan suara keras yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh orang di dalam kamar mandi, sambil mulai mengangkut ember pelnya. "Tuan Aryuda, Nyonya Elisa ... si Mbok keluar dulu, ya! Pintunya ndak si Mbok kunci, cuma dirapatkan saja seperti tadi!"
Mendengar langkah kaki Mbok Sum yang akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu luar dan suasana kamar kembali hening, Betari mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Pertahanannya nyaris runtuh karena ketegangan gila yang baru saja lewat. Dia menyandarkan kepalanya di d**a Aryuda dengan lemas.
"Syukurlah ... Mbok Sum sudah pergi ...."
Namun, kelegaan itu hanya bertahan sepersekian detik. Begitu situasi di luar dipastikan aman, Aryuda sama sekali tidak berniat melepaskan mangsanya. Gairah yang sudah terlanjur membakar mereka berdua di dalam ruangan remang-remang itu membuat Aryuda makin posesif dan tidak terkendali.
"Tuan—"
"Sekarang giliran kita melanjutkan yang tadi, Betari," potong Aryuda dengan tatapan mata yang menggelap penuh tuntutan.
Tanpa aba-aba, Aryuda mencengkeram pinggang ramping Betari, lalu dengan satu gerakan mudah yang penuh tenaga, dia mengangkat tubuh mungil gadis itu dan mendudukkannya di atas meja wastafel marmer yang dingin. Betari terpekik tertahan, tangannya refleks mencengkeram bahu kokoh Aryuda yang agak basah untuk mencari pegangan agar tidak terjatuh.
Sentuhan jemari Aryuda bergerak cepat ke bagian belakang leher Betari, membuat tali celemeknya mulai terasa longgar dan terlepas. Pakaian atas Betari sedikit tersingkap di bawah tatapan lapar Aryuda yang berjarak begitu dekat. Betari hanya bisa menggigit bibir bawahnya, bersiap pasrah pada apa pun yang akan dilakukan oleh pria berkuasa di depannya ini.
Namun, tepat saat atmosfer di dalam kamar mandi itu mencapai titik paling panas, sebuah suara nyaring memecah keheningan dari arah kamar luar dengan sangat tiba-tiba.
Ponsel milik Aryuda yang tertinggal di atas meja nakas kamar mendadak berdering keras. Memantul ke seluruh sudut ruangan yang sunyi, menghancurkan keintiman yang baru saja terbangun.
Aryuda menghentikan gerakannya seketika. Matanya terpejam erat selama beberapa detik, rahangnya mengeras menahan geram karena interupsi yang terjadi bertubi-tubi hari ini. Dia mengembuskan napas kasar, lalu perlahan menjauhkan tubuhnya dari Betari.
"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana," perintah Aryuda dengan suara berat yang masih dipenuhi sisa gairah.
Pria itu berbalik dan melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit pas di pinggangnya untuk memeriksa panggilan telepon tersebut.
Betari, dengan napas yang masih tersengal-sengal segera merapikan kembali celemeknya yang melorot. Dia melompat turun dari atas wastafel, lalu berjalan perlahan untuk mengintip dari balik celah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
Dari celah itu, Betari bisa melihat Aryuda sudah berdiri di samping meja nakas dan memungut ponsel pintarnya. Namun, detik berikutnya, Betari menyadari ada yang aneh. Ekspresi wajah sang CEO yang tadinya tampak kesal karena diganggu, mendadak berubah menjadi tegang dan dingin saat menatap layar ponsel.
Layar ponsel itu terus berkedip-kedip tanpa henti, menampilkan sebuah nama dengan huruf kapital yang lagi-lagi siap menghancurkan posisi mereka berdua saat itu juga: ELISA CALLING.