Keesokan harinya, sekitar jam sebelas siang, suasana di dalam rumah mewah kawasan Menteng itu sunyi senyap. Elisa sudah pergi sejak pagi buta dengan tergesa-gesa karena ada meeting mendadak dengan agensi modeling internasionalnya.
Betari, yang sejak pagi mengira Aryuda juga sudah berangkat ke kantor sejak subuh, perlahan menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Tangannya meremas jam tangan Rolex perak di dalam saku celemeknya. Jantungnya berdegup agak kencang. Dia hanya ingin meletakkan jam tangan itu dengan cepat di kamar utama, lalu segera turun sebelum ada orang yang melihatnya.
"Nggak apa-apa, Betari. Tuan Aryuda kan jam segini pasti sudah di kantor. Nyonya Elisa juga pergi. Aman," bisik Betari menenangkan dirinya sendiri.
"Ya Tuhan ... Semoga aku berhasil." Langkah kakinya yang beralaskan sandal swallow hampir tidak bersuara saat berhenti tepat di depan pintu kamar sang CEO. Pintu kayu ek besar itu ternyata tidak dikunci rapat, menyisakan celah beberapa sentimeter. Suasana di dalam sangat hening.
"Permisi... Tuan? Nyonya?" panggil Betari dengan volume suara yang sangat pelan.
Satu detik, dua detik, tidak ada sahutan sama sekali.
Meyakinkan diri bahwa kamar itu kosong melongpong, Betari memberanikan diri mendorong pintu itu dan melangkah masuk ke dalam kamar yang super luas dan harum. Aroma parfum mawar mahal milik Elisa langsung menyengat indra penciumannya. Betari tidak mau berlama-lama. Dengan gerakan cepat, dia berjalan menuju meja nakas di samping tempat tidur raja milik majikannya.
Tepat saat dia meletakkan jam tangan mewah itu, sebuah pergerakan kilat dari arah belakang membuatnya membeku seketika.
Sepasang lengan yang masih terasa basah dan hangat tiba-tiba melingkar erat di pinggang ramping Betari dari arah belakang, menarik tubuh mungilnya hingga menempel tanpa jarak pada d**a seseorang.
"Kyaaa—!"
Pekikan kaget Betari langsung teredam karena pria di belakangnya dengan cepat membalikkan tubuh Betari, menguncinya di antara tepian kasur dan tubuh tegapnya sendiri. Betari benar-benar terkepung.
"Ngapain kamu ke kamar saya, Betari? Mau mencuri?" tanya Aryuda dengan suara rendah, serak, dan teramat seksi.
Betari langsung spontan menutup mukanya rapat-rapat dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya memerah padam sampai ke leher, rasanya panas seperti terbakar. Melalui sela-sela jarinya, dia bisa melihat dengan sangat jelas kalau Aryuda baru saja selesai mandi. Pria itu hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya, sementara rambut hitamnya yang basah mengalirkan tetesan air ke d**a bidangnya yang berotot dan perutnya yang kotak-kotak. Tubuh semi basah sang CEO yang begitu atletis terlihat sangat mempesona di bawah siraman cahaya matahari siang.
"S-saya tidak mencuri, Tuan! Sumpah demi Tuhan saya tidak mencuri!" seru Betari panik setengah mati, badannya gemetar karena takut dikira macam-macam. "Itu ... jam tangan Tuan ketinggalan di dapur semalam! Saya cuma mau mengembalikannya!"
Aryuda melihat kepolosan luar biasa dari gadis desa di depannya. Wajah panik Betari yang menutup muka dengan tangan justru terlihat sangat menggemaskan di matanya. Rasa penat dan stres akibat urusan kantor mendadak hilang entah ke mana.
Aryuda terkekeh pelan, yang jarang sekali didengar oleh orang luar. "Kamu benar-benar polos, lucu banget. Siapa juga yang beneran menuduh kamu mencuri?"
"T-Tuan ... tolong lepaskan. Tidak enak kalau ada yang lihat," cicit Betari, masih tidak berani membuka matanya dan menatap tubuh polos pria itu.
"Siapa yang mau lihat? Elisa sedang pergi rapat sampai sore," Aryuda justru makin nakal. Dia memegang kedua pergelangan tangan Betari, menurunkan tangan gadis itu dari wajahnya secara perlahan, memaksa Betari untuk menatap langsung ke dadanya yang bidang dan basah. "Lalu ... kalau bukan jam tangan ini yang mau kamu curi, apa lagi? Hm?"
"Tuan Aryuda, jangan bercanda ...."
"Saya tidak bercanda, Betari," bisik Aryuda, suaranya mendadak berubah intens dan dalam. Dia memajukan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Aroma sabun mandi maskulin dari tubuh Aryuda membuat kepala Betari mendadak pusing karena gairah. "Sejak semalam, saya tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Kamar ini terasa dingin tanpa kamu."
Jantung Betari berdegup gila-gilaan. Sentuhan tangan Aryuda di pinggangnya yang tanpa sekat celemek terasa seperti menyalurkan energi panas yang membakar seluruh pertahanannya. Saat Aryuda kembali memiringkan kepala untuk menuntut bibirnya, sebuah suara dari arah luar kamar membuat mereka berdua tersentak kaget.
Suara seretan kain pel basah di atas lantai koridor terdengar jelas, disusul suara nyanyian yang sangat familiar.
"Isih terbayang-bayaaaaang ... Isih dadi kenangaaannn ... Duh, anak jaman sekarang itu memang suka ngeyel ya. Disuruh bantu malah menghilang. Kemana lagi si Betari itu jam segini. Pasti lagi tidur siang di kamar belakang. Malah si Mbok yang harus ngepel lantai atas. Awasnya nanti kalau ketahuan,," omel Mbok Sum dari balik pintu luar yang sedikit terbuka. Suara langkahnya makin mendekat menuju kamar utama.