Bab 8. PPSM

1208 Words
"Mas? Mas Aryuda? Kamu di mana sih?" Suara serak khas orang baru bangun tidur milik Elisa terdengar makin dekat. Langkah kakinya yang lambat berjarak hanya beberapa meter saja dari sekat pintu dapur. Di dalam ruang pantry yang tak ada tempat cukup lowong untuk bersembunyi, Betari sudah seperti orang yang mau pingsan. Matanya membelalak menatap Aryuda dengan panik. Tubuhnya gemetar hebat. "Tuan ... Nyonya kemari! Bagaimana ini?" bisik Betari dengan suara yang nyaris habis di tenggorokan. Bibirnya yang masih terasa basah dan sedikit bengkak akibat ciuman panas mereka beberapa detik lalu bergetar hebat. "Kalau Nyonya lihat kita ...." Aryuda tidak punya waktu untuk berpikir jernih. Dalam hitungan tiga detik sebelum siluet Elisa benar-benar berbelok di koridor dapur, tangan kekar Aryuda bergerak nekat. Dia sengaja menyenggol teko kaca tebal berisi air dingin di atas meja pantry dengan sikutnya hingga terdorong ke tepian. PRANK! Suara pecahan kaca yang memekakkan telinga itu berdentang keras, membelah keheningan malam yang sunyi. Air dingin di dalamnya langsung muncrat ke mana-mana, disusul jeritan kaget dari Betari yang refleks melompat mundur agar kakinya tidak terkena beling. Tepat pada detik itu, Elisa melangkah masuk ke area dapur. Matanya masih setengah terpejam, wajahnya kusut, dan rambut panjangnya agak berantakan. "Astaga, Mas! Suara apa itu?!" Elisa memekik histeris. Dia memegangi dadanya yang naik turun karena kaget setengah mati. Matanya mendadak terbuka lebar begitu melihat pemandangan kacau di depannya. "Ya ampun, berantakan banget!" Aryuda berdiri tegak, berusaha bersikap tenang. Dia memegangi punggung telapak tangan kanannya, berpura-pura kesakitan. Sementara di bawahnya, Betari sudah berlutut di lantai dengan wajah pucat pasi, dikelilingi pecahan kaca besar dan genangan air yang berceceran. "Maaf, Sayang. Aku tadi pusing banget terbangun," ucap Aryuda. Suaranya dibuat senatural mungkin, terdengar datar khas dirinya, meski sebenarnya jantungnya berdegup gila-gilaan di dalam d**a. "Aku mau ambil air minum, tapi tangan aku malah gemetaran sampai menyenggol teko ini." Elisa mengembuskan napas frustrasi yang panjang. Dia melangkah mendekat dengan sandal rumah berbulu miliknya, berhati-hati menghindari air. "Ya ampun, Mas! Kamu ini pusing atau gimana sih? Di kamar bikin kesal karena tidur miring terus, pas turun ke bawah malah bikin rusuh jam dua dini hari begini!" omel Elisa sambil berkacak pinggang. "Kenapa nggak bangunin aku atau panggil pembantu sih?" "Saya tidak sengaja, Elisa. Tidak perlu dibesar-besarkan," sahut Aryuda pendek, mencoba meredam kekesalan istrinya. Mata tajam Elisa yang dihiasi sisa maskara semalam kemudian beralih ke bawah. Dia menatap Betari yang sedang memunguti serpihan kaca dengan tangan yang gemetar. Rasa kantuk Elisa mendadak menguap, berganti dengan rasa jengkel yang langsung dia tumpahkan pada pelayan mudanya itu. "Heh, Betari! Kamu ngapain aja dari tadi, hah?!" bentak Elisa. Suaranya melengking tinggi terdengar menusuk telinga. "Ada suara ribut begini bukannya cepat ambil sapu atau kain lap di belakang, malah bengong kayak orang bego di lantai! Kuping kamu disumpal apa, ya?!" "M-maaf, Nyonya ... saya tadi ...." Betari terbata-bata, kepalanya makin menunduk dalam sampai hampir menyentuh lantai. Air matanya nyaris luruh karena rasa takut campur rasa bersalah yang teramat besar pada istri sah di depannya. "Saya baru mau ambil sapu di belakang, Nyonya. Saya tidak tidur karena haus juga." "Alasan aja kamu! Pembantu baru tapi kelakuannya manja banget, lelet!" Elisa mendengus kasar, wajahnya menampakkan raut jijik. "Jam segini bukannya tidur di kamar belakang malah kelayapan di dapur, bikin tidur aku keganggu aja!" Elisa mengabaikan Betari, lalu beralih meraih tangan kanan Aryuda dengan cepat. "Sini lihat, tangan kamu ada yang luka nggak, Mas? Kamu kan besok ada meeting penting pagi-pagi." "Enggak, Elisa. Cuma tergores sedikit, tidak apa-apa," jawab Aryuda tenang. Saat Elisa sibuk membolak-balik telapak tangan Aryuda untuk memeriksa luka dan posisinya benar-benar membelakangi Betari, Aryuda memanfaatkan momen gila itu. Ujung kaki telanjang Aryuda sengaja bergeser maju ke depan. Dia menyentuh lembut jemari tangan Betari yang sedang mengumpulkan pecahan kaca di lantai. Deg. Betari tersentak, merasakan kontak fisik terlarang yang tiba-tiba itu tepat di bawah hidung istri sah Aryuda. Sentuhan kulit kaki Aryuda yang hangat seolah memberikan ketenangan rahasia, sekaligus memicu debaran panas yang menaikkan adrenalin tingkat tinggi di seluruh tubuh Betari. Dia ketakutan setengah mati kalau Elisa mendadak menunduk ke bawah, tapi di sisi lain, tatapan mata Aryuda yang mengunci wajahnya dari atas terasa begitu posesif dan penuh gairah yang belum tuntas. "Udah ah, nggak ada yang berdarah kok. Kamu aja yang lebay, Mas," ucap Elisa akhirnya, melepaskan tangan Aryuda dengan wajah cemberut karena suaminya tampak tidak fokus. Dia melirik Betari lagi dengan tatapan mengancam. "Heh, udik! Bersihkan lantai ini sampai mengilat, ya! Jangan sampai ada air tersisa. Kalau besok pagi kaki aku sampai kena beling sedikit aja, kamu aku potong gajinya bulan ini!" "Baik, Nyonya. Segera saya bersihkan sampai rapi," jawab Betari parau, suaranya serak menahan tangis. "Ayo, Mas, naik lagi ke kamar. Ngapain masih berdiri di sini, biarin si udik ini yang beresin semuanya," Elisa menarik lengan kekar Aryuda dengan manja, bersandar pada bahu suaminya saat mereka mulai berjalan keluar dari dapur belakang. "Kamu tuh lagian aneh-aneh aja, mau minum tinggal bangunin aku kan bisa, atau panggil dia dari awal." Aryuda terpaksa melangkah mengikuti tarikan istrinya. Namun, tepat sebelum berbelok di koridor, matanya sempat melirik ke belakang untuk terakhir kali. Dia menatap Betari yang masih meringkuk di lantai marmer yang dingin dengan pandangan gelap yang sulit diartikan. Setelah suara langkah kaki Elisa dan Aryuda benar-benar menghilang di tangga atas, suasana dapur kembali senyap dan mencekam. Betari akhirnya terduduk lemas di lantai marmer, tidak peduli lagi pada sisa genangan air yang membasahi kain dasternya. Dia mengambil selembar tisu dapur yang ada di atas meja untuk mengelap sisa air di tangannya. Sambil menghela napas panjang, tanpa sengaja, dia mengusap bibirnya sendiri yang masih terasa sedikit perih dan berdenyut akibat pagutan kasar Aryuda tadi. Saat melihat tisu di tangannya, Betari mendadak terpaku. Ada bekas noda lipstik merah yang menempel di sana meski tipis. "Lipstik Nyonya ...." Lipstik yang tadi sempat menempel di sudut bibir Aryuda saat pria itu bermesraan dengan istrinya di kamar atas, dan kini, noda itu berpindah ke bibir Betari melalui ciuman panas yang diberikan Aryuda beberapa menit lalu di dapur ini. Air mata Betari runtuh seketika nembasahi pipi. Dia meremas tisu itu dengan erat, dadanya terasa sangat sesak seperti diremas-remas oleh kenyataan yang menghantamnya. “Bodoh kamu, Betari ... Kamu benar-benar sudah jadi wanita simpanan yang menjijikkan. Kamu berbagi pria dengan nyonyamu sendiri,” rutuk batinnya kejam. Dia merasa harga dirinya hancur berkeping-keping sejalan dengan pecahan teko di depannya. Dia menangis tanpa suara, takut terdengar sampai ke lantai atas. Dengan sisa-sisa tenaga dan perasaan yang hancur, Betari mulai memunguti pecahan kaca yang besar satu per satu untuk dimasukkan ke dalam tempat sampah. Namun, saat tangannya meraba di dekat kaki meja pantry yang gelap, jemarinya menyenggol sebuah benda keras. Betari memungut benda itu dan membawanya ke bawah cahaya lampu. Dia tertegun. "Jam tangan Rolex, Tuan Aryuda." Pria itu pasti melepasnya dan meletakkannya begitu saja di atas meja pantry saat mereka sedang berciuman panas tadi, lalu jam tangan itu terjatuh akibat kepanikan luar biasa saat mendengar suara Elisa datang mendadak. Betari menimang jam tangan mewah yang terasa dingin di telapak tangannya itu. Perlahan, dia mengusap permukaan kacanya dengan lembut, meresapi sisa aroma parfum maskulin Aryuda yang masih menempel di sana. Dengan gemetar, dia menyimpan benda berharga itu di dalam saku dasternya. "Besok ... besok pagi saya harus mencari cara untuk mengembalikan ini langsung pada Tuan Aryuda," bisik Betari dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD