Bab 7. PPSM

1433 Words
"Mas... sini dong. Kok malah melamun di depan cermin terus?" Suara serak manja Elisa memecah keheningan kamar utama yang luas itu. Wanita itu menepuk-nepuk sisi kasur di sebelahnya, menatap Aryuda dengan sepasang mata yang berkilat menuntut. Gaun malam dari sutra merah transparan yang baru dibelinya di Milan melekat ketat, membungkus lekuk tubuhnya yang ramping. Rambut panjangnya yang sengaja digerai menebarkan aroma mawar yang seketika menyengat indra penciuman Aryuda. Pria itu melangkah menjauhi wastafel kamar mandi, memaksakan sebuah senyuman, walau jemarinya diam-diam meremas pinggiran handuknya sendiri. "Iya, Sayang. Ini baru selesai." "Lama banget sih mandinya. Sengaja ya, biar aku lumutan nungguin kamu?" Elisa terkekeh seksi. Begitu Aryuda naik dan duduk di tepi ranjang, Elisa langsung merangkak mendekat. Tubuhnya langsung bergelayut manja di d**a bidang sang suami. Jemarinya yang berkuku lentik bergerak nakal, membuka satu per satu kancing piyama satin Aryuda. "Saya cuma agak gerah tadi, makanya mandinya agak lama," sahut Aryuda, suaranya terdengar kaku di telinganya sendiri. "Alasan aja." Elisa mendongak, menatap dagu kokoh Aryuda sebelum mencondongkan wajahnya ke leher pria itu. "Aku kangen banget tahu, Mas. Seminggu di Milan itu rasanya kayak setahun tahu. Kamu nggak kangen apa sama aku?" "Tentu saja kangen, Elisa." Aryuda berbohong lagi. Kalimat itu lolos begitu saja demi menunaikan kewajibannya sebagai suami. Dia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Elisa, membiarkan wanita itu mengambil kendali malam mereka. Elisa mendesah puas. Dia mendaratkan gigitan-gigitan kecil yang manja di sepanjang rahang Aryuda, ritual yang biasanya selalu berhasil menyulut gairah suaminya dalam sekejap. Sedetik kemudian, dia menuntut lebih. Elisa membungkam bibir Aryuda dengan ciuman panas, menekan tubuhnya secara sensual tepat di atas pangkuan suaminya. Namun, tepat di tengah-tengah pergulatan yang seharusnya membakar itu, otak Aryuda mendadak mogok. Setiap kali dia memejamkan mata untuk merespons lumatan Elisa, memori di kepalanya justru berkhianat. Yang muncul di pelupuk matanya bukanlah wajah cantik sang istri sah, melainkan bayangan Betari. Otaknya memutar ulang aroma sabun Betari yang segar, serta kehangatan alami kulit padat gadis itu yang terasa begitu nyata, sangat kontras dengan tubuh kurus Elisa yang malam ini terasa asing dan dingin di pelukannya. Seketika itu juga, gairah Aryuda menguap tanpa sisa. Tubuhnya mendadak kaku bak batu, menolak untuk bergerak lebih jauh di bawah kungkungan istrinya. Elisa langsung menyadari perubahan drastis itu. Dia menghentikan ciumannya dengan sentakan kasar, lalu duduk tegak tepat di atas perut Aryuda. Keningnya berkerut dalam, menatap suaminya dengan wajah cemberut. "Mas! Kamu ini kenapa sih?" protes Elisa, napasnya naik turun menahan dongkol. "Kenapa apa, Elisa?" Aryuda membuang muka, menghindari tatapan menyelidiki istrinya. "Keledai aja tahu kalau pasangannya lagi nggak napsu, Mas! Kok kamu kayak nggak niat banget sih?! Pikiran kamu ke mana dari tadi, hah?" Elisa memukul d**a Aryuda pelan dengan telapak tangannya. "Aku udah pakai baju seksi begini, bela-belaian dandan buat kamu, tapi kamu malah kayak patung!" Aryuda mendesah berat. Dia memegang pinggang Elisa, menuntun wanita itu perlahan agar turun dari tubuhnya. Aryuda ikut duduk, membetulkan kancing piyamanya yang sudah terbuka setengah dengan canggung. "Maaf, Elisa. Kepala saya mendadak pusing sekali. Rasanya berdentum-dentum dari tadi." "Pusing atau bosan?" todong Elisa, nadanya meninggi. Dia melipat tangan di d**a, menatap Aryuda tak puas. "Nggak mungkin tiba-tiba pusing pas lagi begini, Mas. Biasanya kamu nggak pernah kayak gini." "Saya serius, Elisa. Urusan pemecatan Doni di kantor tadi siang benar-benar menguras energi saya," Aryuda memijit pelipisnya, mencoba menjual alibi terbaiknya malam ini. "Tekanan pekerjaan lagi tinggi-tingginya, dan tindakan Doni tadi siang membuat saya syok. Saya tidak bisa fokus malam ini. Maafkan saya, ya?" Elisa mendengus keras, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Doni lagi yang disalahin. Memangnya seberapa parah sih kelakuan dia sampai bikin CEO Perkasa Grup jadi lemes begini di tempat tidur? Dia korupsi atau jangan-jangan dia jual rahasia ranjang kita?" "Dia melakukan pelanggaran fatal terkait dokumen rahasia perusahaan, Elisa. Sudah, tidak perlu dibahas lagi, ini urusan internal kantor," potong Aryuda cepat, sengaja menyudahi topik sebelum istrinya bertanya lebih jauh. "Ya tapi nggak harus mengorbankan malam kita juga, kan? Aku ini istri kamu, Mas. Baru pulang dari luar negeri!" Elisa menarik selimut dengan kasar, membungkus tubuhnya sendiri sampai ke d**a, lalu membalikkan badannya memunggungi Aryuda. "Kamu aneh banget sejak aku pulang. Kayak ada yang sengaja kamu sembunyiin dari aku." Aryuda menatap punggung Elisa yang bergerak naik turun karena menahan amarah. Tenggorokannya tercekat, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membantah kalimat itu. "Saya tidak menyembunyikan apa pun. Saya cuma butuh istirahat." "Terserah kamu lah, Mas! Pusing aku lama-lama," ketus Elisa dari balik selimut. Aryuda akhirnya menarik napas pendek, lalu merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang lain, menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Dia mematikan lampu tidur di sampingnya, menenggelamkan kamar mewah itu dalam kegelapan. Sambil menatap langit-langit kamar yang gelap gulita, d**a Aryuda terasa kian sesak. Kebohongan demi kebohongan ini perlahan-lahan mulai menggerogoti sisa pernikahan yang sudah berjalan lima tahun. Namun, hal yang paling menakutkan bagi Aryuda malam itu bukanlah ketakutan akan ketahuan oleh Elisa—melainkan sebuah kesadaran baru yang menghantam batinnya dengan keras. Bahwa hatinya kini justru tertinggal di kamar pelayan yang sempit di bagian belakang rumahnya. Sekitar jam dua dini hari, rasa sesak di d**a Aryuda tak kunjung hilang. Gelisah, dia akhirnya memutuskan turun ke lantai bawah untuk mengambil air minum. Lorong rumah begitu sunyi. Namun, saat melewati dapur belakang, remang-reman ia melihat berkas cahaya lampu yang masih menyala. Langkah Aryuda terhenti di ambang pintu pantry. Di sana, Betari sedang duduk melamun di atas kursi kayu. Gadis itu mengenakan daster katun usang berwarna pudar. Tangan kanannya memegang handuk kecil berisi es batu, menempelkannya perlahan pada tulang kering kakinya yang bengkak kebiruan akibat hantaman sepatu Elisa. "Kenapa belum tidur?" tanya Aryuda pelan, memecah kesunyian. Betari tersentak hebat hingga handuk es di tangannya hampir terlepas. Dia buru-buru berdiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "T-Tuan Aryuda ... Maaf, Tuan. Saya tidak bisa tidur karena ... kakinya agak senut-senut. Saya tidak bermaksud mengganggu." Aryuda tidak menjawab. Dia berjalan mendekat, merebut handuk es itu dari tangan Betari, lalu menarik kursi kayu lain untuk duduk tepat di hadapan gadis itu. Tanpa aba-aba, tangan kokoh Aryuda kembali meraih pergelangan kaki Betari dan mengangkatnya ke atas pangkuannya. "Tuan, jangan! Ini tidak pantas," bisik Betari panik, mencoba menarik kakinya. "Nanti kalau Nyonya Elisa turun dan melihat—" "Elisa sudah tidur pulas," potong Aryuda dengan suara berat yang menenangkan. Jemarinya menekan lembut handuk es itu ke atas memar Betari. "Diamlah. Biar saya bantu." Betari akhirnya pasrah. Tatapan matanya turun, memperhatikan jemari seorang CEO yang dengan telaten merawat memar di kakinya. Rasa hangat menjalar dari sentuhan tangan Aryuda, membuat jantung Betari bertalu-talu. "Tuan ... soal siang tadi," ucap Betari lirih, memutus keheningan yang terasa begitu intim. "Kenapa Tuan membela saya di depan Nyonya? Harusnya Tuan biarkan saja saya dimarahi, biar Nyonya tidak curiga." Aryuda menghentikan gerakannya. Dia mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Betari yang berkaca-kaca di bawah temaram lampu dapur. "Kamu pikir saya tega melihat kamu diinjak-injak seperti itu setelah apa yang kita lakukan semalam?" "Tapi saya memang cuma pelayan di sini, Tuan. Harga diri saya tidak sepenting rumah tangga Tuan," air mata Betari menetes, jatuh tepat di atas punggung tangan Aryuda. Aryuda menghela napas, meletakkan handuk es itu ke meja, lalu menangkup wajah Betari dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap air mata di pipi gadis itu. "Jangan pernah bicara seperti itu lagi, Betari. Kamu tidak tahu seberapa tersiksanya saya di atas sana malam ini." "Maksud ... Tuan?" "Saya bersama Elisa di atas kasur itu," bisik Aryuda, suaranya parau penuh kejujuran. Dia memajukan wajahnya hingga napas hangatnya menerpa bibir Betari. "Tapi setiap kali saya menutup mata, hanya wajah kamu yang ada di pikiran saya. Sentuhannya terasa asing, Betari. Saya menginginkan kamu." Betari terkesiap. Sebelum akal sehatnya sempat mengambil alih, Aryuda sudah memiringkan kepala dan meraup bibir Betari ke dalam sebuah ciuman yang dalam, lembut, namun sarat akan keputusasaan dan gairah yang tertahan. Betari melenguh pelan, jemarinya refleks meremas kaus tipis yang dikenakan Aryuda. Ciuman di dapur malam itu terasa jauh lebih panas karena didorong oleh rasa bersalah dan kenyamanan yang nyata. Aryuda mengangkat tubuh Betari perlahan, mendudukkannya di atas meja pantry, memutus jarak di antara mereka sepenuhnya. Pagutan mereka semakin menuntut, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di area terbuka yang bisa terlihat oleh siapa saja. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar samar dari arah lorong utama. "Mas? Mas Aryuda? Kamu di mana sih?" Suara serak khas orang bangun tidur milik Elisa menggema dari kejauhan, perlahan bergerak mendekati arah dapur. Betari membelalakkan mata, langsung mendorong d**a Aryuda dengan panik hingga tautan bibir mereka terlepas. "Tuan ... Nyonya bangun!" bisiknya dengan napas terengah-engah dan wajah pucat pasi. Aryuda membeku, jantungnya berdegup gila-gilaan. Langkah kaki Elisa terdengar makin dekat, hanya berjarak beberapa meter dari sekat pintu dapur. Di sana, mereka berdua benar-benar terkunci tanpa jalan keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD