"Jadi kamu pikir, foto buram ini bisa bikin kamu jadi Direktur Operasional di perusahaan saya, Doni?"
Aryuda melemparkan ponselnya ke atas meja kerja kantor dengan cukup keras. Matanya menatap tajam pria muda berkacamata yang berdiri di depannya dengan senyum penuh percaya diri. Doni, sekretaris pribadinya yang selalu tampak penurut, hari ini melangkah masuk ke ruangan CEO tanpa mengetuk pintu.
Doni terkekeh pelan, melonggarkan sedikit dasinya. "Saya rasa itu penawaran yang adil, Pak Aryuda. Dibandingkan reputasi Perkasa Grup hancur, karena CEO-nya kedapatan meniduri pembantu baru di rumahnya saat istrinya yang seorang model internasional baru pulang dari Milan. Berapa kerugian saham Anda kalau ini bocor ke media gosip? Jauh lebih mahal dari jabatan direktur, kan?"
Aryuda menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, wajahnya tetap tenang, tapi justru mematikan. Dia sudah melacak nomor misterius semalam, dan dugaannya tidak meleset. Hanya Doni yang tahu dia mabuk, dan hanya Doni yang tahu letak jendela ruang kerja pribadinya di rumah Menteng.
"Kamu cerdas, Doni. Tapi sayangnya, kamu juga bodoh," ucap Aryuda dengan nada dingin yang datar.
Doni mengernyitkan kening. "Maksud Anda?"
Aryuda membuka laci mejanya, mengeluarkan selembar map dokumen tebal, lalu melemparkannya tepat ke d**a Doni. "Itu surat pemecatan tidak hormat kamu. Detik ini juga, kamu angkat kaki dari gedung ini."
"Anda gila?!" Doni berteriak, wajah tenangnya langsung berubah panik. "Anda tidak takut foto ini saya sebar sekarang juga ke Nyonya Elisa atau ke media?!"
Aryuda berdiri, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Postur tubuh Aryuda yang tegap dan tinggi mengintimidasi Doni sepenuhnya. "Sebarkan saja. Hari ini kamu sebar, besok pengacara saya akan menjebloskan kamu ke penjara atas kasus pemerasan dan pelanggaran hak privasi. Dan satu hal lagi, Doni ..." Aryuda menepuk bahu mantan sekretarisnya itu dengan keras. "Saya pastikan, setelah kamu keluar dari pintu ini, tidak akan ada satu pun perusahaan di negara ini yang mau menerima karyawan bermental pemeras seperti kamu. Saya akan black-list nama kamu di seluruh jaringan korporat."
Wajah Doni mendadak pucat pasi. Surat di tangannya bergetar hebat. Rahangnya mengeras, menatap Aryuda dengan mata merah yang memancarkan dendam kesumat yang amat dalam. "Anda keterlaluan, Pak Aryuda. Anda menghancurkan karier saya!"
"Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri karena serakah," balas Aryuda ketus. "Sekarang, keluar dari ruangan saya sebelum sekuriti menyeret kamu seperti anjing."
Doni membalikkan badannya dengan kasar, mencengkeram map pemecatan itu hingga remuk. Sebelum membuka pintu, dia menoleh sedikit dengan senyum getir yang penuh ancaman. "Kita lihat saja nanti, Aryuda. Roda itu berputar. Suatu hari, saya yang akan tertawa melihat Anda mengemis di kaki saya."
Pintu ruangan dibanting keras.
Aryuda mengembuskan napas panjang, mendadak merasa kepalanya pening luar biasa. Masalah Doni selesai untuk sementara, tapi dia tahu, dia baru saja menanam bom waktu.
Sore harinya, Aryuda pulang ke rumah dengan beban pikiran yang teramat penat. Suasana rumah Menteng sepi karena Elisa sedang pergi ke salon kecantikan bersama teman-teman sosialitanya.
Saat melewati dapur belakang untuk mengambil air dingin, langkah Aryuda terhenti. Dia melihat Betari sedang mencuci piring dengan lesu. Gadis itu berjalan pincang, sesekali meringis pelan sambil memegangi tulang kering kaki kanannya.
Melihat pemandangan itu, ada rasa nyeri yang aneh menghantam d**a Aryuda. Ketulusan gadis ini yang menahan sakit demi melindunginya benar-benar mengusik nuraninya.
Aryuda melangkah mendekat, lalu tanpa suara, dia merebut piring basah dari tangan Betari.
"T-Tuan Aryuda ...?" Betari tersentak, buru-buru mundur satu langkah dengan wajah panik. "Maaf, Tuan, saya tidak dengar Tuan datang. Biar saya selesaikan cuci piringnya—"
"Ikut saya," potong Aryuda lembut tapi tidak menerima bantahan. Dia menarik pergelangan tangan Betari, membawanya ke area sudut dapur belakang yang sepi di dekat pantry.
Aryuda mendudukkan Betari di atas kursi kayu kecil, lalu tanpa diduga, sang CEO muda itu ikut berlutut di lantai marmer tepat di depan kaki Betari. Dia menyambar kain kompres air hangat yang tergeletak di atas meja.
"Tuan, jangan! Tidak sopan Tuan berlutut di depan saya," Betari panik, mencoba menarik kakinya menjauh.
"Diam, Betari. Jangan membantah," ujar Aryuda. Tangannya yang besar dengan perlahan menyingkap sedikit bagian bawah rok Betari hingga sebatas betis, memperlihatkan kulit mulus yang kini dihiasi memar kebiruan yang cukup besar.
Aryuda menempelkan kain hangat itu ke memar Betari dengan sangat hati-hati. Betari mendesis menahan perih, jemarinya refleks mencengkeram bahu tegap Aryuda yang berada di depannya untuk menyalurkan rasa sakit.
"Maafkan saya," bisik Aryuda tiba-tiba, matanya mendongak menatap langsung ke dalam manik mata Betari yang kecokelatan. "Maaf untuk kejadian kemarin siang. Kata-kata saya di depan Elisa yang menyebut kamu pembantu udik ... saya terpaksa, Betari. Saya harus membuat dia percaya agar dia tidak curiga."
Air mata Betari mendadak menggenang mendengar ucapan tulus itu. Sentuhan tangan Aryuda yang hangat di kakinya seolah menghapus semua rasa sakit hati akibat hinaan Elisa kemarin.
"Saya tahu diri, Tuan. Apa yang dikatakan Nyonya Elisa memang benar. Saya cuma pembantu miskin di sini. Tuan tidak perlu minta maaf."
"Kamu bukan sekadar pembantu, Betari," serak Aryuda. Pria itu berdiri, mengikis jarak di antara mereka hingga Betari terdesak di antara kursi dan tubuh tegap Aryuda. Aromanya yang maskulin kembali mengunci panca indra Betari. "Ketulusan kamu menjaga rahasia ini ... bikin saya merasa bersalah sekaligus ... nyaman."
Betari menahan napasnya. Jantungnya berdentum gila-gilaan. Tatapan mata Aryuda yang sayu penuh kerinduan terlarang membuat pertahanan batin Betari runtuh lagi. “Ingat Betari, cinta ini salah, pria ini milik orang lain!” tapi getaran aneh di dadanya menolak untuk menjauh.
Sebelum suasana di sudut dapur itu makin tak terkendali, suara klakson mobil dari lobi depan membuyarkan segalanya. Elisa sudah pulang. Betari buru-buru menurunkan roknya, sementara Aryuda melangkah mundur dengan napas yang agak memburu, merutuki dirinya yang lagi-lagi hampir kehilangan kendali di depan gadis belia itu.
Belum sempat Aryuda membetulkan posisi berdirinya yang kaku, terdengar suara ketukan hak tinggi yang cepat di atas lantai marmer. Langkah itu tidak menuju tangga atas, melainkan langsung mengarah ke dapur belakang.
"Bi ... Mbok Sum! Tolong bawakan barang-barang aku di bagasi mobil dong!" teriakan Elisa menggema, disusul kemunculan sosoknya di ambang pintu dapur.
Langkah Elisa mendadak terhenti begitu melihat suaminya berdiri di dekat wastafel dapur, berdampingan dengan Betari yang menunduk dalam-dalam. Atmosfer aneh yang tertinggal di ruangan itu membuat alis Elisa bertaut rapat.
"Mas Aryuda?" Elisa menatap suaminya dengan kening berkerut. "Kamu ... ngapain di dapur belakang jam segini? Kok belum ganti baju kantor?"
Aryuda berdeham keras, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar gugup. "Saya ... saya tadi mau ambil air dingin, Elisa. Haus."
Mata jeli Elisa beralih ke tangan Aryuda yang memegang kain kompres basah, lalu turun menatap kaki Betari yang tampak agak gemetar. "Terus itu kain buat apa? Kenapa pembantu ini mukanya pucat begitu?"
"Ini ...." Aryuda melirik Betari sekilas, otaknya langsung memutar alibi baru. "Tadi Betari hampir jatuh pas mau ambil gelas buat saya. Kakinya kesenggol pinggiran meja dapur sampai memar. Karena saya ngerasa bersalah sudah bikin dia buru-buru, saya ambilkan kain kompres ini buat dia."
Elisa melangkah maju, mendekati Betari dengan tatapan mengintimidasi. Dia melipat tangan di d**a, memperhatikan Betari dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu teledor lagi?" tanya Elisa, suaranya dingin dan ketus. "Kemarin numpahin kopi sampai baju kamu robek, sekarang mau ambil gelas saja hampir jatuh. Kamu niat kerja di sini nggak sih?"
"M-maaf, Nyonya ... saya teledor. Saya mohon maaf," bisik Betari parau tanpa berani mendongak. Air matanya nyaris luruh karena tekanan itu.
"Elisa, sudah. Dia sudah saya tegur tadi," sela Aryuda, mencoba menengahi agar Elisa tidak memperpanjang urusan ini.
Elisa mendengus, lalu menoleh ke arah suaminya dengan senyum sinis. "Kamu tuh terlalu baik, Mas. Pembantu manja kayak gini kalau dituruti terus malah ngelunjak. Pakai dikasih kain kompres segala sama CEO Perkasa Grup. Kamu sadar nggak sih status kamu apa, Mas?"
"Saya cuma kasihan, Elisa. Lagipula dia cedera di rumah kita," balas Aryuda, suaranya agak berat menahan kekesalan.
"Kasihan boleh, tapi jangan menurunkan harga diri kamu, Mas. Urusan kaki pincang begitu biar diurus Mbok Sum nanti," Elisa meraih lengan Aryuda, menarik suaminya agar menjauh dari Betari. "Ya sudah, ayo ke kamar atas. Aku capek banget habis dari salon. Temani aku, Mas."
Aryuda menatap Betari yang masih berdiri mematung dengan kepala tertunduk. Ada rasa tidak tega yang teramat besar, tapi dia tidak punya pilihan lain. "Iya, ayo."
Sebelum melangkah pergi mengikuti tarikan tangan istrinya, Aryuda menyodorkan kain kompres itu ke atas meja pantry di dekat Betari. "Kompres kakimu sendiri. Setelah itu langsung istirahat, jangan teruskan kerjaan dulu."
"Terima kasih ... Tuan," jawab Betari pelan.
Elisa hanya memutar bola matanya malas, lalu menarik Aryuda keluar dari dapur belakang, meninggalkan Betari sendirian dalam keheningan dapur yang menyiksa hatinya.