Bab 5. PPSM

1287 Words
"Ini kancing baju perempuan. Baju siapa yang robek di ruang kerjamu, Aryuda? Kamu bayar perempuan di sini?!" Suara Elisa meninggi, melengking tajam membelah keheningan ruang kerja. Matanya melotot, menatap bergantian antara kancing biru muda di tangannya dan amplop cokelat tebal berisi uang di atas meja. Aryuda merasa jantungnya seolah melompat keluar dari d**a. Otaknya yang biasa dipakai untuk negosiasi bisnis miliaran rupiah mendadak dipaksa berputar secepat kilat dalam hitungan detik. Dia harus mencari alibi yang masuk akal, atau hidupnya tamat siang ini juga. Melihat Elisa yang mulai tersulut emosi, Aryuda sengaja menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. Dia mengubah taktik. Pria itu memasang wajah tersinggung dan ikut mengerutkan kening dengan galak. "Kamu ini bicara apa, Elisa? Bayar perempuan?" Aryuda mendengus, suaranya dibuat sengaja meninggi untuk menggertak balik. "Jaga bicaramu! Jangan karena kamu keseringan gaul sama model-model di Milan, kamu jadi hobi menuduh suamimu yang bukan-bukan!" Elisa tersentak melihat reaksi keras Aryuda. Biasanya, kalau Aryuda bersalah, pria itu akan diam. Tapi kali ini suaminya justru balik membentak. "Lalu ini apa, Mas? Jelaskan ke aku! Kancing baju siapa ini?!" "Itu kancing baju Betari, pembantu baru kita!" sahut Aryuda akhirnya, melempar nama asisten rumah tangganya tanpa ragu sebagai tameng hidup. Sedangkan di bawah meja kerja, Betari mendongak dengan mata membelalak. Namanya disebut. Jantungnya berdegup makin kencang, menanti kebohongan apa lagi yang akan keluar dari mulut pria yang baru saja menciumnya itu. "Betari?" Elisa mengernyit. "Pembantu udik yang baru kerja beberapa bulan itu?" "Iya! Semalam saya pulang mabuk berat karena pertemuan bisnis. Otak saya sudah tidak karuan," Aryuda mulai mengarang cerita, tangannya bergerak frustrasi ke rambutnya sendiri. "Dia masuk ke sini mau mengantarkan kopi hangat. Tapi dasar anak kampung teledor, jalannya tidak lihat-lihat sampai kopinya tumpah ke berkas laporan penting yang sedang saya pegang! Kamu tahu kan saya paling benci orang teledor kalau urusan kerjaan?" Elisa mengangguk pelan. Dia tahu betul suaminya adalah pria perfeksionis yang mengerikan jika urusan bisnisnya diganggu. "Terus?" "Saya marah besar. Saya bentak dia, lalu saya tarik berkasnya dengan kasar dari tangannya. Sialnya, baju murahan yang dia pakai itu ikut tersenggol dan langsung robek sampai kancingnya lepas ke meja ini!" Aryuda menunjuk ke arah permukaan meja dengan ekspresi dongkol yang dibuat-buat. "Anak itu langsung menangis ketakutan setengah mati. Saya jadi tidak tega sekaligus pusing mendengarnya." "Terus uang lima puluh juta ini?" Elisa mengangkat amplop cokelat itu lagi, tapi kali ini kecurigaannya agak mereda. Aryuda mendengus. "Itu uang bonus bulanan yang belum sempat saya setorkan ke bank. Karena saya malas urusan ini jadi panjang, dan saya tidak mau dia mengadu ke kamu atau ke orang kampungnya kalau majikannya melakukan tindakan fisik, saya kasih aja uang itu di dalam amplop. Saya suruh dia ambil sekalian buat ganti rugi bajunya yang rusak, asal dia tutup mulut dan tidak mengganggu saya lagi dengan tangisannya. Kamu paham sekarang?" Air mata Betari kembali menetes. d**a gadis itu rasanya sesak luar biasa. Dia mendengar langsung bagaimana dirinya digambarkan sebagai seorang pembantu udik yang teledor, cengeng, dan harga dirinya bisa disumpal dengan uang ganti rugi. Rasa bersalahnya pada Elisa mendadak terkikis, berganti dengan rasa terluka yang teramat dalam karena sikap kejam Aryuda yang menjadikannya tameng. "Tega sekali, Tuan Aryuda," batin Betari dalam hati. Elisa terdiam sesaat, lalu mendadak tawa kecilnya terbit. "Ya ampun, Mas ... hahaha! Kamu ini ada-ada saja." Ketegangan di wajah model papan atas itu mencair sepenuhnya. Elisa melemparkan kancing biru muda itu kembali ke atas meja dengan remeh. "Lagian kamu kasar banget sih jadi orang. Tapi ya ampun, baju norak begitu kamu kasih ganti rugi lima puluh juta? Kemurahan banget dia dapat uang segitu cuma karena kancing copot!" Elisa mengejek, suaranya terdengar jelas di telinga Betari yang meringkuk di bawah sana. "Dasar orang miskin, dikasih uang segitu pasti langsung girang dan menganggap kamu dewa penolong. Lain kali kalau dia teledor lagi, pecat saja, Mas. Nggak usah pakai dikasih uang segepok segala." Aryuda melirik ke arah kolong meja dengan sudut matanya. Ada rasa bersalah yang amat sangat menyelusup ke dadanya saat mendengar istrinya menghina Betari sedemikian rupa, padahal gadis di bawah meja itulah yang semalam menyelamatkannya dari rasa sepi. Namun, Aryuda terpaksa menahan diri dan tetap memasang wajah dingin. "Sudahlah, yang penting masalahnya selesai," gumam Aryuda pendek. Melihat suaminya yang tampak masih kesal dan lelah, sifat manja Elisa kembali muncul. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka, lalu dengan sengaja duduk di pangkuan Aryuda yang berada di kursi kerjanya, tepat di depan meja. "Udah dong marah-marahnya, Sayang. Kan aku baru pulang," bisik Elisa seksi, jemarinya mulai merayap di d**a Aryuda, membuka satu kancing teratas kemeja suaminya. "Aku kangen banget tahu." Aryuda menelan ludah. Posisi ini benar-benar gila. Di pangkuannya ada istrinya yang sedang merayu, sementara di bawah kakinya, ada Betari yang sedang menangis tanpa suara. Untuk benar-benar membuang sisa kecurigaan Elisa dan menyuruh wanita itu segera keluar dari ruang kerja, Aryuda tahu dia harus meladeni permainan istrinya. Aryuda mendadak melingkarkan tangannya di pinggang ramping Elisa, menarik tubuh istrinya hingga menempel erat pada dadanya dengan agresuf. "Mas ..." Elisa melenguh kaget sekaligus senang dengan perubahan sikap Aryuda yang mendadak liar. Aryuda langsung memiringkan kepalanya dan mencium bibir Elisa dengan intens dan menuntut. Ciuman sandiwara itu terasa panas dan menggebu demi pengalihan isu. Dari bawah sana, Betari terpaksa melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Dia bisa melihat kaki Elisa yang telanjang bergesekan dengan celana Aryuda, mendengar deru napas berat Aryuda yang sedang melayani istrinya, dan suara kecupan mereka. Di sela-sela ciuman panas itu, Aryuda sempat sedikit menunduk, menatap langsung ke arah celah di bawah meja. Pandangannya bertemu dengan mata Betari. Ada kilatan gairah, sekaligus permohonan maaf di mata Aryuda saat dia terpaksa mendekap istrinya sendiri, namun seluruh fokus dan pikirannya justru tertuju pada gadis yang bersembunyi di bawah kakinya. Ciuman itu berlangsung beberapa saat sampai Elisa kehabisan napas. Dia melepaskan tautan bibir mereka dengan senyum puas dan wajah yang merona merah. "Gila ... kamu agresif banget siang ini, Mas," bisik Elisa manja sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan. Dia mengecup pipi Aryuda sekali lagi sebelum akhirnya berdiri dari pangkuan suaminya. "Ya sudah, aku tunggu di kamar atas ya. Mandi dulu, ganti baju, langsung susul aku ke atas. Jangan lama-lama." "Iya, Sayang. Sepuluh menit lagi saya ke atas," jawab Aryuda parau. Elisa berjalan anggun menuju pintu, menyambar tas mewahnya, lalu keluar dari ruang kerja sambil bersenandung kecil. Pintu ditutup dari luar. Begitu suasana kembali senyap, Aryuda seolah kehilangan seluruh tenaganya. Dia langsung merosot dari kursi, berlutut di lantai marmer yang dingin, dan menunduk untuk melihat ke bawah meja. "Betari ... keluar," panggil Aryuda pelan, suaranya sarat akan rasa penyesalan. Betari tidak bergerak. Gadis muda itu masih meringkuk, memeluk lututnya dengan tubuh yang lemas. Dia menatap Aryuda dengan mata yang bengkak. "Tuan puas sudah membuat saya sehancur ini?" bisik Betari parau, ia kembali menangis. "Mengejek saya di depan Nyonya ... membuat saya seperti barang yang bisa dibeli." "Saya terpaksa, Betari! Kalau saya tidak bilang begitu, Elisa pasti akan memeriksa kolong meja ini!" Aryuda membela diri, mencoba meraih lengan Betari untuk membantunya keluar. Namun, sebelum tangan Aryuda menyentuh kulit Betari, sebuah suara getaran dari atas meja kerja memotong pembicaraan mereka. Aryuda mendongak, lalu berdiri untuk meraih ponselnya. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dengan kening berkerut, Aryuda membuka pesan tersebut. "Apa apaan ini?!" Pesan itu berisi sebuah foto—foto siluet yang diambil dari arah taman samping luar ruangan. Di dalam foto itu, terlihat sangat jelas siluet Aryuda yang sedang menekan Betari ke sofa dan menciumnya dengan panas semalam. Di susul dengan sebaris pesan : "Alibi yang bagus di depan istri Anda, Tuan CEO. Tapi sepertinya foto ini punya harga yang jauh lebih tinggi daripada uang lima puluh juta di atas meja itu. Kita bicara besok." Aryuda melongo, ponselnya nyaris terlepas dari genggaman. Rahasia terkutuk itu ternyata sudah berada di tangan orang lain. "Sialan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD