Bab 4. PPSM

1003 Words
"Mas Aryuda? Kok dikunci dari dalam? Kamu di dalam, kan?" Suara manja Elisa terdengar tepat di balik pintu, disusul bunyi gagang pintu yang digerakkan dengan paksa. Refleks, Aryuda langsung membekap mulut Betari dengan telapak tangannya, menahan napas gadis itu agar tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Mata mereka beradu dalam kepanikan yang sudah sampai ubun-ubun. Sisa gairah yang baru saja membakar mereka mendadak menguap, berganti keringat dingin yang mengucur deras. "Mas? Kamu lagi ngapain sih di dalam?" Pintu di ketuk lagi, kali ini lebih keras. "I-iya, Sayang! Sebentar, aku lagi ... lagi periksa berkas penting!" sahut Aryuda setengah berteriak, berusaha membuat suaranya terdengar senormal mungkin padahal dadanya bergemuruh hebat. Aryuda menunduk, menatap Betari yang badannya sudah gemetar dalam kungkungannya. Dengan gerakan cepat dan tanpa pilihan, Aryuda menarik lengan Betari, memaksanya merangkak jatuh ke lantai. "Masuk ke bawah meja. Sekarang! Jangan gerak, jangan bersuara!" bisik Aryuda persis di telinga Betari, suaranya penuh tekanan yang menakutkan. Meja kerja Aryuda terbuat dari kayu jati besar dengan bagian depan dan samping yang tertutup ornamen kayu ukir rapat. Sempurna untuk bersembunyi, tapi sekaligus menjadi perangkap yang menyesakkan. Betari yang ketakutan hanya bisa mengangguk pasrah. Dia merangkak masuk ke kolong meja yang gelap itu, meringkuk sekecil mungkin sambil mendekap lututnya sendiri ke d**a. Sementara itu, Aryuda buru-buru membetulkan kancing kemejanya, menghapus sisa basah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu memutar anak kunci. "Sabar ya, Sayang." Pintu pun terbuka, dan sosok Elisa Mahardika langsung menghambur masuk. Wangi parfum mahal Prancis yang menyengat langsung memenuhi ruangan, mengalahkan aroma sabun Betari yang sempat mendominasi. "Mas! Kangen banget!" Elisa langsung mengalungkan kedua lengannya di leher Aryuda, menjinjitkan kakinya yang memakai high heels merah, dan mencium bibir suaminya dengan innntim. Betari membekap mulutnya sendiri kuat-kuat dengan kedua tangan. Air matanya langsung jebol seketika. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mendengar dengan jelas suara kecupan hangat dan bagaimana lenguhan manja Elisa. d**a Betari rasanya seperti dihantam batu besar, ada rasa nyesek, perih, dan menghina harga dirinya sendiri. Baru beberapa menit lalu bibir itu menciumnya dan sekarang pria yang sama sedang meladeni wanita lain tepat di atas kepalanya. "Kamu kok tumben dikunci sih, Mas? Bikin kaget aja," ucap Elisa setelah melepaskan ciumannya. Dia menatap wajah Aryuda, lalu mengerutkan kening. "Kok kamu agak keringatan? AC-nya kurang dingin?" Aryuda memaksakan sebuah senyuman, meski tangannya di dalam saku celana sudah mengepal saking tegangnya. "Ah, enggak. Tadi cuma ... agak pusing habis periksa laporan keuangan bulanan. Kamu kok nggak bilang-bilang kalau pulang hari ini? Katanya masih seminggu lagi di Milan?" "Sengaja, mau kasih surprise buat suamiku yang super sibuk ini," Elisa terkekeh manja. Tanpa permisi, Elisa langsung mendudukkan bokongnya di atas meja kerja Aryuda, tempat dimana Betari bersembunyi. Dia menyilangkan kakinya yang jenjang, membuat ujung sepatu hak tingginya berayun-ayun di dalam kolong meja. Dan dugh! Ujung sepatu Elisa tidak sengaja menyenggol tulang kering Betari. "Hmph!" Betari membelalak ketakutan. Dia refleks menarik kakinya mundur sampai punggungnya menempel keras ke dinding bagian dalam meja, menahan pekikan agar tidak lolos dari tenggorokannya. Aryuda yang melihat gerakan kaki istrinya langsung menegang. Dia tahu kalau Elisa sampai menunduk sedikit saja ke bawah meja, tamat sudah riwayatnya. "Sayang, jangan duduk di meja. Nanti berkas-berkasnya berantakan," ucap Aryuda, berusaha memegang pinggang Elisa untuk menuntunnya turun. "Biarin sih, Mas. Kan kangen," Elisa malah makin manja. Dia meraih rahang Aryuda, mengelusnya perlahan sambil menatap suaminya penuh gairah. "Penerbangan dari Milan itu lama banget, bikin capek. Tapi pas lihat kamu, capekku mendadak hilang. Kamu nggak kangen ya sama aku? Kok mukanya kaku banget?" "Kangen, Elisa. Tentu saja kangen," bohong Aryuda. Suaranya terdengar berat. "Tapi ini masih siang. Lebih baik kamu ke kamar atas dulu, mandi, istirahat. Nanti malam kita makan di luar." "Nggak mau. Maunya sekarang aaja," bisik Elisa seksi. Dia memajukan tubuhnya, berniat mencium Aryuda lagi untuk menuntut haknya sebagai istri yang sudah lama berpisah. Di bawah meja, Betari memejamkan mata rapat-rapat. Dia meremas ujung gaunnya sampai buku-buku jarinya memutih. Rasa cemburu, bersalah pada sang nyonya, dan ketakutan akan ketahuan bercampur aduk jadi satu, menguras seluruh emosi dan tenaganya sampai dia merasa lemas. “Bodoh kamu, Betari!” rutuknya sendiri dalam hati. Aryuda memalingkan wajahnya sedikit, membuat ciuman Elisa meleset mendarat di pipinya. "Elisa, tolong ... saya benar-benar sedang tidak enak badan karena sisa mabuk semalam. Tolong mengerti." Elisa mendengus kesal, akhirnya menurunkan kakinya dari meja dan berdiri tegak dengan melipat kedua tangan di d**a. "Mabuk terus. Kamu tuh kalau aku tinggal selalu aja begitu. Sekali-kali dengerin aku dong, Sayang." Saat Elisa membalikkan badannya untuk menyambar tas mewahnya di atas meja, gerakannya mendadak terhenti. Matanya yang jeli menangkap seonggok benda yang tampak mencolok di antara tumpukan dokumen rapi milik suaminya. Sebuah amplop cokelat tebal ada di sana, memperlihatkan sekelebat warna merah dari lembaran uang seratus ribuan di dalamnya. "Mas, ini uang apa?" Elisa memungut amplop tebal itu, menimbangnya di tangan dengan kening berkerut. "Banyak banget. Cash lima puluh juta? Kamu mau bayar apa sampai cash begini di ruang kerja?" Aryuda menelan ludah yang terasa kasar. "Itu ... itu uang buat bayar vendor renovasi taman belakang, Elisa. Mereka minta cash." "Tumben. Biasanya kan semua lewat sekretaris kamu atau transfer," gumam Elisa, matanya menyipit penuh selidik. Elisa meletakkan kembali amplop itu dengan kasar. Namun, matanya malah menangkap benda lain yang tadinya tersembunyi di bawah amplop. Ada benda kecil berwarna biru muda terlihat mengilat diterpa lampu ruangan. Elisa mengulurkan jemarinya yang berkuku lentik, memungut benda itu, dan membawanya ke depan mata. "Mas ... kalau ini apa lagi?" tanya Elisa, suaranya mendadak berubah sedingin es. Nada manjanya hilang dalam sekejap. Aryuda membeku di tempat. "Itu ... cuma kancing biasa, mungkin dari kemeja saya yang lama." "Jangan bercanda, Mas. Kamu nggak punya kemeja warna biru muda norak kayak gini," Elisa berjalan mendekat ke arah Aryuda, menyodorkan kancing itu tepat di depan wajah suaminya dengan pandangan menyelidiki yang tajam. "Ini kancing baju perempuan. Baju siapa yang robek di ruang kerjamu, Aryuda?" Dalam diam, paru-paru Betari rasanya berhenti bernapas, menunggu bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan seluruh hidupnya dalam hitungan detik. "Kancing bajuku ... lepas lagi?" batinnya ketika sadar, melihat kancing atas bajunya yang hilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD