"Betari ... anu ... dia tadi saya suruh keluar lewat pintu depan, Mbok. Saya minta dia belikan obat sakit kepala di apotek seberang kompleks," ucap Aryuda cepat. Suaranya terdengar kaku di telinga sendiri, tetapi ia berusaha sekuat tenaga menekan nada panik di depan kepala pelayannya.
Mbok Sum mengerutkan kening, menatap majikannya dengan pandangan heran dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Oalah ... pantesan tidak kelihatan di dapur. Tapi kok jalan kaki, Tuan? Padahal kan bisa bangunin sopir di depan daripada jalan kaki pagi-pagi begini?"
"Saya yang buru-buru, Mbok. Kepala saya rasanya mau pecah sekarang juga," potong Aryuda sengaja mengalihkan perhatian, sebelum Mbok Sum menyadari keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. "Sudah, Mbok Sum tolong buatkan saya sup hangat atau apa saja di dapur. Perut saya tidak enak. Sekalian tolong bereskan area belakang, ya?"
Mata tua Mbok Sum sempat melirik ke arah lantai dekat kaki sofa. Di sana, sebuah kancing berwarna biru muda tergeletak tanpa tuan. Namun, sebelum wanita paruh baya itu sempat bertanya lebih jauh, Aryuda langsung berdeham keras.
"Uhuk! Tolong ya, Mbok. Sekarang," tegas Aryuda tidak ingin dibantah.
"Baik, Tuan. Saya buatkan sup ayam jahe dulu supaya pusingnya reda," jawab Mbok Sum akhirnya. Ia berbalik dan melangkah kembali ke arah dapur belakang sambil geleng-geleng kepala.
Begitu suara langkah sandal jepit Mbok Sum benar-benar menghilang, Aryuda langsung berbalik menghadap ke belakang sofa.
"Betari, cepat keluar. Masuk ke kamarmu lewat lorong samping sekarang juga! Jangan sampai Mbok Sum balik lagi," bisiknya setengah memerintah dengan nada mendesak.
Betari muncul dari balik celah sofa. Jas hitam milik Aryuda yang kebesaran membungkus tubuh mungilnya dengan sempurna, menyembunyikan gaunnya yang sobek. Tanpa berani menatap mata sang majikan, Betari mengangguk pelan.
"Baik, Tuan," bisik Betari lirih. Gadis itu berlari pelan, menyusuri koridor samping yang langsung tembus ke area kamar pelayan di bagian paling belakang rumah mewah tersebut.
Siang harinya, atmosfer di dalam rumah kawasan Menteng itu terasa mencekam, setidaknya bagi Aryuda dan Betari. Beruntung bagi mereka, Mbok Sum baru saja pamit untuk pergi ke pasar swalayan besar di luar kompleks untuk belanja bulanan. Rumah itu kini kembali sepi, menyisakan ketegangan yang belum tuntas.
Di dalam kamar pelayan yang sempit dan pengap, Betari duduk bersimpuh di tepi ranjangnya. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun lain seadanya. Di pangkuannya, ada jas hitam milik Aryuda yang sudah selesai ia lipat dengan rapi. Betari menghirup samar wangi maskulin yang masih menempel kuat di kain jas itu, merasakan dadanya sesak oleh campuran rasa berdosa dan debaran egois yang tak seharusnya ada.
"Betari?"
Ketukan keras di pintu kamarnya membuat Betari tersentak kaget. Ia buru-buru meletakkan jas itu di atas kasur dan membuka pintu, gugup. Aryuda sudah berdiri di sana. Pria itu telah berpakaian rapi dengan kemeja kasual, tetapi ekspresi wajahnya sedingin es batu.
"Ikut saya ke ruang kerja sekarang. Ada hal penting yang harus kita selesaikan," kata Aryuda tanpa basa-basi. Ia langsung berbalik dan berjalan duluan tanpa menunggu jawaban.
Betari menelan ludahnya yang terasa kelat, lalu mengekor di belakang tubuh tegap itu menuju ruang kerja pribadi Aryuda di lantai satu. Begitu mereka berdua masuk, Aryuda langsung memutar anak kunci, mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
Suara kunci itu sukses membuat bulu kuduk Betari meremang. Aryuda berjalan ke balik meja kerjanya, mengambil sebuah amplop cokelat yang cukup tebal, lalu melemparkannya begitu saja ke atas meja tepat di depan d**a Betari.
"Itu uang lima puluh juta," ujar Aryuda dingin, matanya menatap Betari lurus-lurus tanpa berkedip. "Ambil uang itu. Saya mau kamu pakai untuk apa saja yang kamu butuhkan, termasuk kirim ke kampungmu. Tapi ada satu syarat."
Betari menatap amplop tebal di depannya dengan tangan mengepal. "Syarat apa, Tuan?"
"Lupakan semua kejadian semalam. Anggap kita tidak pernah melakukan apa pun di rumah ini. Anggap itu cuma mimpi buruk," jawab Aryuda tegas tanpa beban.
Betari menatap amplop tebal itu, lalu beralih menatap wajah Aryuda. Rasa kagum dan cinta buta yang selama ini dia simpan rapat-rapat di dalam hatinya mendadak berubah menjadi rasa perih yang teramat sangat. Air matanya menggenang di pelupuk mata, tetapi kali ini dipicu oleh rasa sakit hati yang mendalam.
"Tuan pikir ... harga diri dan kesucian saya bisa dibeli begitu saja pakai uang ini?" tanya Betari, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak bangkit.
"Saya tidak bermaksud membeli harga dirimu, Betari! Jangan salah paham!" balas Aryuda, suaranya mulai meninggi karena frustrasi menghadapi situasi ini. "Saya cuma mau memastikan masa depanmu aman, dan pernikahan saya dengan Elisa juga tetap aman!"
"Aman bagi Tuan, tapi hancur lebur bagi saya!" Betari melangkah maju satu kali, menunjuk amplop cokelat itu dengan jari gemetar. "Saya memang miskin, Tuan. Saya cuma gadis desa yang merantau karena butuh uang untuk pengobatan Ibu di kampung. Tapi saya bukan perempuan murahan yang setelah dipakai bisa langsung Anda sumpal pakai segepok uang! Saya bukan pel acur!"
"Jaga bicaramu, Betari!"
Aryuda yang kehilangan sisa kesabarannya mendadak merangsek maju. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Betari dengan kuat, lalu mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya membentur dinding kayu ruang kerja dengan keras.
Napas Aryuda memburu tepat di depan wajah Betari. Jarak di antara mereka kembali terkikis habis, menyisakan kehangatan tubuh yang sama seperti malam terkutuk itu.
"Lalu kamu mau apa dari saya, hah?!" bentak Aryuda frustrasi, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Betari yang basah oleh air mata. "Kamu mau saya menceraikan Elisa? Itu mustahil! Pernikahan kami bukan cuma soal cinta, tapi melibatkan bisnis besar dua keluarga! Jadi ambil uang itu dan tolong tutup mulutmu!"
Betari menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Air matanya menetes pas mengenai ibu jari Aryuda yang sedang mencengkeram pergelangan tangannya.
"Saya tidak pernah meminta Tuan untuk cerai dengan Nyonya. Dari awal saya sudah bilang, saya tidak akan bicara apa pun pada Nyonya Elisa," bisik Betari di sela tangisnya. "Saya cuma mau Tuan menghargai saya sebagai manusia, bukan sebagai sebuah kesalahan menjijikkan yang harus cepat-cepat dilenyapkan dengan uang!"
Aryuda seketika tertegun. Kata-kata polos namun tajam dari gadis yang umurnya terpaut empat belas tahun di depannya ini menembus langsung ke bagian terdalam ego lakilakinya. Pria itu memandangi wajah Betari yang begitu dekat dari pandangannya. Napas gadis itu memburu hangat serta bibir ranumnya yang tanpa polesan lipstik, mendadak memicu kembali memori panas semalam di otak Aryuda.
Cengkeraman kuat Aryuda di pergelangan tangan Betari perlahan-lahan melonggar. Jemarinya menurun, menggenggam lembut jemari gadis itu. Tatapan mata Aryuda yang tadinya dipenuhi amarah, perlahan berubah menjadi sayu dan dipenuhi gairah yang ternyata belum tuntas sepenuhnya.
"Betari ...." gumam Aryuda, suaranya mendadak serak.
Betari terpaku di posisinya. Ia bisa merasakan perubahan atmosfer yang mendadak bergeser menjadi intim dan berbahaya. Sentuhan tangan Aryuda yang hangat membuat seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga. Alih-alih mendorong pria itu menjauh untuk menyelamatkan diri, Betari justru kembali terpaku pada pesona sang majikan yang kini menatapnya dengan pandangan lapar yang begitu kentara.
"Semalam ... saya memang mabuk berat," bisik Aryuda lagi. Wajahnya perlahan bergerak maju, mengikis sisa jarak di antara ujung hidung mereka hingga napas mereka saling beradu. "Tapi sekarang saya sadar sepenuhnya. Dan sialnya ... saya tidak bisa melupakan bagaimana rasanya mendekap tubuhmu semalam. Kamu membuat saya tidak bisa berpikir jernih."
"Tuan ... jangan ... ini salah," bisik Betari lemah, tetapi bibirnya justru sedikit terbuka, dan tangannya sama sekali tidak bergerak untuk menolak tubuh tegap yang kian merapat itu.
"Kamu terlalu seksi untuk ukuran seorang pelayan, Betari. Kamu bisa bikin saya gila kalau terus seperti ini," erang Aryuda pelan. Kehilangan seluruh kendali diri yang selama ini ia banggakan, Aryuda langsung memiringkan kepalanya dan membungkam bibir Betari dengan ciuman yang jauh lebih panas daripada malam sebelumnya.
Cup ... Ahh ....
Betari melenguh pelan di sela-sela pagutan bibir mereka yang kian dalam. Kedua tangannya yang bebas perlahan-lahan merayap naik, mencengkeram bahu Aryuda, lalu berpindah meremas rambut belakang pria itu demi mencari pegangan. Kali ini, tidak ada setetes pun alkohol yang bisa mereka jadikan kambing hitam. Mereka berdua melakukan maksiat ini dalam kondisi sadar sepenuhnya, menyerah pada sengatan gairah terlarang yang membakar ruang kerja yang sepi itu.
Aryuda memperdalam ciumannya dengan agresif. Tangannya merayap turun ke pinggang ramping Betari, meremasnya lembut lalu menarik tubuh padat gadis itu agar semakin menempel erat tanpa jarak pada tubuhnya sendiri. Ketegangan yang terus-menerus membara membuat mereka berdua lupa daratan, lupa dosa, dan melupakan fakta bahwa ada seorang wanita bernama Elisa di hidup mereka.
Tiba-tiba, suara nyaring klakson mobil mewah dari arah halaman depan rumah mendadak memotong paksa tautan bibir mereka yang sedang memanas.
Aryuda dan Betari tersentak kaget. Tautan mereka terlepas seketika. Suara deru mesin mobil yang sangat mereka kenal di rumah itu terdengar mati tepat di pelataran halaman.
"Tu—tuan ... itu ...." Betari berbisik, wajahnya pucat pasi, ketakutan setengah mati.
"Duh Gusti ... gawat," umpat Aryuda, buru-buru merapikan kemejanya yang sempat berantakan.
Belum sempat mereka berdua merapikan napas dan mengatur detak jantung yang menggila, suara langkah kaki yang mengetuk lantai teras terdengar. Bunyi klik-klak semakin keras mendekati pintu utama.
Suara pintu utama dibuka terdengar jelas sampai ke dalam ruang kerja yang terkunci. Dan sedetik kemudian, suara melengking yang sangat Aryuda kenal menggema keras di lobi depan rumah.
"Mas Aryuda?! Kamu di rumah, kan? Surprise! Urusanku di Milan selesai lebih cepat dan aku langsung terbang pulang! Aku merindukanmu, Sayang!"
Itu Elisa. Sang istri sah telah pulang seminggu lebih cepat dari jadwal, tanpa memberi kabar atau peringatan apa pun sebelumnya.
Aryuda dan Betari masih berada dalam posisi saling mendekap, membeku seperti patung bersama jantung yang rasanya mau melompat keluar dari rongga d**a mereka.
"Mas Aryuda? Kok pintunya dikunci dari dalam?" suara Elisa terdengar tepat di balik pintu.