Belum sempat Keizara berdiri, gadis kecil itu menghampiri sambil berlari tertatih dari arah jalan setapak di taman itu. Rambutnya sedikit berantakan, boneka beruangnya hampir jatuh dari genggamannya.
“Caca!” ujar Keizara seraya berdiri. Namun belum sempat Keizara menghampiri, kaki anak kecil itu tersandung batu. Tubuh mungilnya oleng ke depan. Dan dengan sigap Zhavi menangkapnya. Dia memegang tubuh Syakira sebelum benar-benar jatuh ke tanah.
“Hampir saja,” ujar Zhavi, “hati-hati anak cantik,” ucap Zhavi sambil menahan tubuh kecil itu di pelukannya. Caca terdiam sesaat lalu mendongak menatap wajah Zhavi. Mata bulatnya berkedip beberapa kali seperti sedang memastikan sesuatu.
“Om?” gumamnya pelan.
Zhavi tersenyum, “iya ada Om di sini,” ucapnya.
Keizara menghela napas pelan lalu memegang tangan Caca, membawa ke sisinya.
“Caca kenapa lari-lari? Tadi kan bunda bilang tunggu di rumah,” tegurnya, namun nadanya tak terdengar tinggi dia hanya merasa khawatir.
Caca menoleh ke arah Zhavi seolah bertanya apa yang mereka lakukan di taman bermain ini tanpanya?
“Aku nyari bunda,” cicitnya dengan nada suara merasa bersalah.
Zhavi tertawa kecil dan mengusap kepala Syakira dengan lembut.
“Sekarang udah ketemu kan?” tutur Zhavi suaranya begitu rendah dan terdengar menenangkan.
Keizara memperhatikan ketika Zhavi membungkuk untuk mensejajari tinggi tubuh gadis mungil itu.
Cara Zhavi memegang Syakira tidak terlihat canggung, bukan sekadar basa-basi. Namun seperti telah terbiasa bermain dengan anak-anak. Dan itu membuat getaran di dadanya yang terasa aneh.
“Ayo duduk di sana,” ajak Zhavi seraya mengangkat tubuh Syakira dan menggendongnya, Syakira melingkarkan tangan di leher Zhavi erat.
“Turun sayang, berat,” pinta Keizara.
Syakira menggeleng kan kepalanya dan justru semakin mempererat pelukannya pada Zhavi. “Enggak mau … sama Om aja,” ucapnya polos.
Zhavi langsung terkekeh. “Wah, aku direbut nih,” godanya.
Keizara mendesah pelan. “Caca, jangan ngerepotin.”
“Enggak kok,” sela Zhavi cepat. “Aku malah senang.”
Dia menggendong Syakira lebih nyaman di lengannya, lalu berjalan kembali ke kursi kayu itu. Keizara hanya bisa mengikuti dari belakang.
“Caca capek ya?” tanya Zhavi.
Caca mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Zhavi begitu saja.
Keizara tertegun. Pemandangan sederhana itu terlalu hangat untuk diabaikan. Padahal ini baru pertemuan kedua mereka, namun mereka terlihat begitu lekat.
“Om,” panggil Syakira lagi.
“Iya?”
“Om jangan pergi ya.”
Ucapan itu terdengar sederhana, namun membuat suasana seketika hening.
Zhavi sedikit menegang, lalu menatap Keizara sekilas.
Keizara membeku di tempatnya dia bahkan hampir menahan napas, tak menyangka putrinya akan berkata hal yang seperti itu.
“Kenapa?” tanya Zhavi pelan.
Syakira mengangkat wajahnya sedikit. “Soalnya … Om baik,” ucapnya polos.
Zhavi tersenyum kecil. Dia mengusap rambut Caca dengan lembut.
“Kalau Om enggak pergi, Caca mau apa?” godanya.
Syakira berpikir sebentar, lalu menjawab dengan serius, “jadi Ayah aku aja.”
DEG. Dunia seolah berhenti sejenak.
Keizara langsung menunduk, wajahnya memanas. Tangannya refleks menggenggam ujung bajunya sendiri.
“Caca!” tegurnya, kali ini benar-benar panik. “Enggak boleh ngomong gitu!”
Syakira mengerucutkan bibirnya, bingung. “Kenapa?”
Zhavi terdiam beberapa detik. Wajahnya terlihat cukup serius. Dia menatap Keizara. Lalu menatap Caca lagi.
Dengan hati-hati, dia menurunkan nada suaranya.
“Jadi Ayah itu … tanggung jawab besar, loh,” ucapnya pelan.
Syakira mengangguk, seolah mengerti, meski mungkin belum sepenuhnya paham.
“Tapi Om bisa kan jadi ayah Caca?” tanyanya lagi polos.
Keizara memejamkan mata sejenak. Sementara Zhavi tersenyum tipis. Permintaan seorang anak kecil yang menurutnya mungkin sepeti hanya sebuah keinginan sesaat, namun dia juga tak mau melukai hati Keizara jika mematahkan keinginan anaknya begitu saja.
“Kalau buat jagain Caca, ” ucapnya, suaranya lembut, “Om mau kok.”
Keizara langsung menoleh cepat. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik meski ketegangan masih merayap di udara. Dan kali ini … tidak ada yang terlihat bercanda.
Syakira tertawa kecil, lalu kembali memeluk leher Zhavi.
“Yeay! Om baik!” serunya riang.
Zhavi ikut tertawa pelan, namun matanya tetap tertuju pada Keizara.
“Ayo, kita beli es krim. Caca mau?” ajaknya.
“MAU!” teriak Caca semangat.
Zhavi berdiri, masih menggendong Caca, lalu menoleh ke arah Keizara.
“Kamu ikut kan?” tanyanya.
Keizara ragu sejenak, namun melihat Caca yang tertawa di pelukan Zhavi membuat hatinya luluh. Dulu bahkan suaminya sangat jarang menggendong Syakira seperti ini, apalagi membelikan es krim, karena uangnya pun dipegang oleh ibunya.
“Iya,” jawabnya pelan.
Mereka berjalan bertiga. Pelukan kecil Syakira di leher Zhavi, juga tangan Zhavi yang menjadi bantalan duduk Syakira, serta langkah pelan Keizara di sampingnya.
Sederhana. Namun entah kenapa … terasa seperti sebuah keluarga kecil yang utuh.
Zhavi menggendong Syakira sambil berjalan pelan di pinggir taman. Tangan kecil itu melingkar santai di lehernya, sementara kepalanya bersandar nyaman di bahunya.
“Aduh … berat juga ya,” goda Zhavi.
Syakira langsung mengangkat wajahnya, sedikit tersinggung. “Caca enggak berat!” Bibirnya mengerucut dan itu membuat wajahnya terlihat begitu lucu.
Zhavi tertawa pelan. “Iya, iya … enggak berat. Ringan banget malah, kayak kapas.”
“Caca bukan kapas!” protesnya lagi, kali ini sambil memukul pelan bahu Zhavi dengan tangan kecilnya.
Zhavi pura-pura meringis kesakitan. “Aduh, galak juga ya, kayak bundanya kalau ngambek!”
Keizara yang berjalan di samping mereka hanya menggeleng, namun senyumnya tak bisa dia sembunyikan.
“Aku enggak pernah ngambek ya!” protes Keizara.
“Aku masih ingat kamu pernah marah-marah karena aku telat jemput,” kekeh Zhavi.
“Ya itu karena kamu janji mau jemput, tapi malah main basket!” seloroh Keizara.
“Nah sekarang aku menyaksikan sendiri peribahasa buah jatuh sepohon-pohonnya, kalian berdua sama,” kekeh Zhavi.
“Lebih cerewet dia,” tunjuk Keizara ke arah putrinya, keduanya saling menjulurkan lidah seperti bermusuhan, namun sedetik berikutnya Keizara tertawa kecil karena menyadari dia yang tampak kekanakkan.
“Enggak! Caca bukan cerewet tapi pintar!” bela Syakira cepat.
“Wah, pintar ya?” Zhavi menatapnya serius. “Kalau pintar … coba jawab, 2 tambah 2 berapa?”
Caca mengernyit, berpikir keras. Lalu dengan penuh percaya diri menjawab, “Lima!”
Zhavi langsung tertawa keras.
“Wah, bahaya nih. Nanti Om bisa bangkrut kalau kamu yang ngitung duit Om,” godanya.
Syakira cemberut, lalu menyandarkan lagi kepalanya di bahu Zhavi, kali ini lebih erat.
“Om nakal!”
Zhavi refleks menepuk punggungnya pelan.
“Ih enggak, Om bercanda. Caca pintar kok. Pinter banget.”
Suara Zhavi melembut tanpa dia sadari.
Keizara memperhatikan dari samping. Cara Zhavi berubah begitu saja saat menghadapi anak kecil itu, bukan dibuat-buat. Zhavi terlihat begitu tulus.
Zhavi membelikan es krim cone rasa stroberri untuk Syakira dan mereka kembali melangkah sampai di sebuah bangku kecil di dekat taman bermain. Zhavi duduk, masih menggendong Syakira, sementara Keizara duduk di sebelahnya.
Beberapa anak lain berlarian di depan mereka.
Syakira yang tengah menikmati es krim itu tiba-tiba mengangkat wajahnya lagi.
“Om,” panggilnya.
“Iya?”
“Caca boleh main?”
Zhavi melirik Keizara, seperti meminta izin. Keizara mengangguk. “Boleh, tapi jangan jauh-jauh ya.”
Zhavi menurunkan Caca perlahan.
“Hati-hati ya, Cantik,” ucapnya.
Caca langsung berlari kecil ke arah ayunan, tertawa riang.
Zhavi menatapnya cukup lama. Terlalu lama. Bahkan tak mengalihkan pandangan dari gadis mungil yang dalam sekejap sudah mencuri perhatiannya itu.
“Lucu ya,” ucapnya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Keizara tersenyum tipis. “Iya … dia satu-satunya alasan aku masih kuat sampai sekarang.”
Zhavi menoleh, menatap Keizara. Lalu kembali menatap Syakira. Seorang anak kecil yang tertawa bebas … tanpa tahu dunia ibunya pernah runtuh.
Dada Zhavi terasa sesak tiba-tiba.
“Ayahnya … .” Zhavi menggantung kalimatnya.
Keizara menunduk. “Bahkan enggak pernah tanya kabar.”
Hening. Zhavi mengepalkan tangannya pelan di atas lutut.
Entah kenapa … ada rasa tidak suka yang muncul begitu saja. Bukan marah, namun lebih ke pada sebuah ketidak relaan dengan perlakuan yang diterima gadis lima tahun itu.
“Dia enggak tahu apa yang dia lepas,” gumam Zhavi pelan.
Keizara tidak menjawab. Zhavi kembali menatap Caca.
Anak kecil itu kini tertawa di ayunan, rambutnya tertiup angin, suaranya nyaring dan cadel, bahkan langsung mendapat teman di sana. Dan tanpa dia sadari ada bayangan lain muncul di kepalanya.
Bayangan dirinya berdiri di sana, mendorong ayunan itu. Mendengar tawa yang sama setiap hari. Zhavi terdiam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
“Aneh ya,” ucapnya pelan.
Keizara menoleh. “Apa?”
Zhavi tersenyum tipis, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya. “Baru ketemu … tapi rasanya kayak,” ucapnya berhenti sejenak, seolah mencari kata yang pas untuk melengkapi kalimat itu, “kayak enggak mau kehilangan lagi,” imbuhnya.
Keizara langsung membeku. Sementara Zhavi tetap menatap Caca.
“Dulu aku cuma mikir kehilangan kamu,” lanjutnya pelan. “Sekarang … .” Dia menelan salivanya.
“Aku mulai takut kehilangan dia.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa dapat direm. Seolah ungkapan terdalam dari hati Zhavi yang dia pun tak sadari. Keizara menunduk cepat, dadanya terasa sesak.
“Zhav … jangan,” ucapnya lirih.
“Kenapa?” tanya Zhavi yang akhirnya menoleh dan menatap Keizara setelah sejak tadi hanya melihat Syakira.
Keizara menggeleng. “Aku enggak mau kamu terlalu masuk ke hidup kami … kalau akhirnya kamu juga harus keluar.”
Zhavi terdiam. Angin berembus pelan, suara ayunan berderit di kejauhan.
Zhavi menatap Keizara lama. Lalu, dengan suara rendah dan lebih serius dari sebelumnya, “aku enggak pernah niat keluar, Kei,” ucapnya pelan.
Keizara mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu. Dan kali ini … tidak ada yang bisa berpura-pura. Di mata itu ada kejujuran yang tak ditutupi.
Di kejauhan, Caca berteriak riang, “Om! Sini main sama Caca!”
Zhavi menoleh, lalu berdiri.
“Sebentar ya,” ucapnya pelan pada Keizara.
Dia berjalan menuju Caca, mendorong ayunan itu pelan.
Tawa Caca pecah memenuhi taman. Zhavi ikut tersenyum lebar.
Namun di balik senyumnya, hatinya sudah mengambil keputusan yang bahkan belum dia sadari sepenuhnya bahwa kali ini yang ingin dia jaga bukan hanya Keizara. Tapi juga dunia baru yang kecil miliknya.
***