Arzhavian masih berdiri di bawah pepohonan menatap Keizara yang kemudian duduk di depan teras, sementara ibunya ke dalam, sepertinya kedua cucunya menangis memanggilnya.
Pria itu memberanikan diri menghampiri Keizara yang buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya.
“Jalan yuk,” ajak Zhavi melirik ke arah pintu.
Keizara menatap pintu itu, dia lalu mengangguk dan menghampiri Zhavi, mereka berjalan ke belakang kompleks perumahan, di sana ada taman kecil dengan kursi kayu yang lapuk, tempatnya memang tak terlalu terawat.
Zhavi duduk di samping Keizara.
“Aku dengar semuanya,” ucap Zhavi. Keizara menghela napas panjang.
“Aku baru sadar aku sudah terlalu membebani Elisa selama ini, wajar kalau dia semarah itu sama aku,” ucap Keizara dengan suara bergetar.
Zhavi menghela napas panjang, “bukan salahmu,” ucap Zhavi.
“Apa sebaiknya aku tinggal sementara di rumah bang Afshan saja ya?” ungkapnya seraya menatap jauh ke depan.
“Bang Afshan? Rumahnya jauh kan dari sini?” tutur Zhavi.
“Di sana aku bisa bantu istrinya laundry sambil nunggu panggilan kerja,” ucap Keizara.
Zhavi terlihat sedikit risau, “Kei,” panggilnya.
“Hmm?” dehem Keizara.
“Kalau kamu mau ... pakai uangku untuk usaha, buka laundry sendiri aja, ruko ayah ada yang kosong satu,” ucap Arzhavian, “jaman sekarang cari kerjaan lumayan sulit.”
“Aku enggak mau ngerepotin kamu Zhav, aku kumpulin uang dulu aja,” ucap Keizara.
“Aku berinvestasi, sistem bagi hasil. Bagaimana?” tanya Zhavi.
Keizara menggeleng, mengingat ibu Zhavi yang dulu tampak tak merestui mereka. Bagaimana jika wanita itu tahu Zhavi yang memberikan modal untuknya?
“Makasih atas tawaran kamu Zhav, tapi kurasa enggak dulu,” ucap Keizara. Zhavi hanya menghela napas panjang.
“Ya sudah kalau kayak gitu,” ungkapnya. “Tapi jujur aku mau membantu kamu.”
“Aku enggak mau dikasihani Zhav.”
“Aku enggak mengasihani kamu.”
“Terus itu apa?” tuding Keizara.
“Aku menyayangi kamu, kok,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya yang entah mengapa justru membuat Keizara tersenyum lebar.
“Enggak lucu,” guraunya.
“Enggak lucu kok ketawa?” seloroh Zhavi. Dia kemudian mengangkat bahunya santai, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu tua itu. Suara kayunya berderit pelan seolah lapuk termakan usia.
Keizara menggeleng geli, “kamu bikin aku ketawa terus,” kekehnya pelan.
“Ya kan dari dulu juga aku sering bikin kamu ketawa,” ucapnya ringan.
Keizara menoleh, menatap wajah pria itu lebih lama dari yang biasanya. Ada sesuatu yang berbeda, namun juga terasa sama, hangatnya masih ada.
“Dulu kamu juga sering nyebelin,” decih Keizara sambil membuang pandangan ke arah lain, tak bisa berlama-lama menatap wajah pria itu.
“Sampai sekarang?” tanya Zhavi cepat. Keizara menggelengkan kepalanya, senyumnya masih tersisa, angin pagi berembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambutnya yang terlepas dari ikatan.
Zhavi tanpa sadar memperhatikan itu, tangannya sempat terangkat sedikit, lalu berhenti di udara. Dia menarik napas dan menunkannya kembali, memilih untuk menahan diri meskipun dia sangat ingin membelai rambut itu.
“Masih ingat kenangan kita di taman ini?” tanya Zhavi mengalihkan rasa gugupnya sendiri.
Keizara mengangguk pelan, “dulu waktu kecil kita sering main petak umpet di sini.”
“Dan kamu selalu jaga, kalah terus,” sahut Zhavi.
“Karena kamu curang!” protes Keizara.
Zhavi tertawa pelan, “bukan curang, itu namanya strategi.”
“Strategi apaan? Kamu ngumpet di belakangku terus,” sindir Keizara.
Zhavi menoleh, menatapnya dengan tatapan yang tiba-tiba lebih dalam, “ya biar dekat sama kamu.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tidak terdengar bercanda, namun tidak juga terdengar terlalu bersungguh-sungguh.
Keizara terdiam mencerna ucapannya, seketika suasana berubah, angin yang tadi terrasa biasa saja, kini seperti membawa sesuatu yang lain, yang mengingatkan mereka akan masa-masa lalu.
Ketika beranjak remaja mereka tak lagi bermain petak umpet, melainkan ngobrol berjam-jam lamanya, masa di mana mereka belajar bermain gitar bersama teman yang lain, hingga masa SMA di mana mereka mulai bisa naik sepeda motor, Zhavi sering mengajaknya jalan bersama yang lain, namun hanya Keizara yang diboncengnya.
Keizara mengalihkan pandangannya ke depan, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Yang Zhavi ucapkan tadi, seperti berasal dari dalam hatinya, Keizara mulai menyadari bahwa Zhavi mungkin telah lama menyukainya, jauh sebelum Keizara membuka hati untuknya. Meski hati itu dengan mudah dipatahkan oleh ibunya.
“Zhav,” panggilnya pelan, nada suaranya terdengar lebih berhati-hati.
Zhavi tersenyum tipis, “aku cuma kangen masa lalu aja Kei, masa di mana semuanya terasa lebih sederhana,” ucapnya jujur.
Keizara menelan salivanya pelan, “aku juga,” jawabnya lirih.
Dari kejauhan terdengar suara anak-anak kecil tertawa, begitu kontras dengan ketenangan di antara mereka berdua. Zhavi tiba-tba berdiri.
“Sebentar ya,” ucapnya.
“Mau ke mana?” tanya Keizara mengernyit bingung.
Zhavi tidak menjawab, hanya berjalan ke arah penjual es krim keliling yang kebetulan mangkal di pinggir taman. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan dua es krim di tangannya.
“Ini untuk kamu,” ucapnya seraya menyerahkan satu es krim ke Keizara.
Keizara menatap es krim itu, lalu menatap Zhavi.
“Kamu masih ingat kesukaanku?” tanyanya.
“Favorit kamu kan? Cokelat mesis,” kekehnya sambil mengangkat kedua alis.
Keizara tersenyum kecil. Kali ini senyum yang tampak tulus tidak dipaksakan, ada sesuatu yang hangat di sana.
“Kamu juga enggak berubah, ya?” ucap Keizara.
“Berubah dong,” sahut Zhavi, “Sekarang aku lebih ganteng.”
Keizara hanya tertawa pelan, namun dia menyetujui ucapan Zhavi. Lebih ganteng dan mapan. Lihat saja outfit yang dia kenakan hanya untuk berolah raga. Jam digital warna hitam yang diyakini harganya setara UMR Jakarta bahkan mungkin lebih, belum lagi sepatunya.
Keizara kembali melumat es krim itu, menatap jauh ke depan. Apakah jika dulu dia berani mendebat ibu Zhavi, atau dia menceritakan pada Zhavi bahwa ibunya meminta mereka tak melanjutkan hubungan ke arah pacaran. Zhavi akan memperjuangkannya? Atau dia akan tetap berada di barisan ibunya.
“Kei,” paggil Zhavi membuat Keizara menoleh. “Kamu boleh kok enggak selalu kelihatan kuat. Kamu boleh nangis depan aku, kamu boleh ngamuk, aku akan selalu ada.”
Keizara menggenggam es krim itu sedikit lebih erat, kalimat itu seperti oase di padang yang tandus, begitu menyegarkan untuknya, memberinya rasa damai dan tentram.
“Aku akan ingat itu,” ucap Keizara.
“Dan jangan sungkan minta bantuan dariku,” tambahnya.
Mata Keizara mulai berkaca-kaca, namun bibirnya tetap tersenyum,
“Kalau aku merasa lemah terus, bagaimana?” tanyanya bergurau.
Zhavi mengangkat bahu, lalu mereka saling bertatapan, “aku akan tetap temenin kamu.”
Jawaban itu sederhana, namun cukup untuk membuat Keizara terdiam lagi, kini dia merasa tidak sendirian lagi di dunia ini.
“Makasih ya Zhav, kamu memang teman yang baik,” ucap Keizara.
Zhavi tertawa kecil, “kamu selalu bisa mengandalkanku. Kamu harus tahu itu? Aku aja andalan tim di kantor,” kekehnya menggoda Keizara agar tertawa.
“Bundaaaa!!” teriak suara kecil dari kejauhan, suaranya cukup familiar. Keizara refleks menoleh, wajahnya tampak berubah panik.
“Astaga itu Caca!” gumamnya. Keizara tak menyadari cukup lama meninggalkan anak itu di rumah. Dia merasa cukup menyesal sampai anak itu mungkin berkeliling untuk mencarinya!
***