Keesokan paginya Keizara berdiri beberapa saat di depan sebuah toko besar yang menjual bahan bangunan dan baja ringan. Bangunannya luas, dengan papan nama besar yang mencolok di bagian depan. Truk-truk keluar masuk membawa material, sementara beberapa karyawan sibuk mengangkat dan mencatat barang. Suasana terasa ramai, sedikit membuatnya gugup. Dia merapikan kemeja yang dikenakannya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk. Informasi tentang lowongan itu dia dapat dari Aldi, sahabat Zhavi, melalui istrinya yang bekerja di sana, Resti. Nama itu terus terngiang di kepalanya, menjadi satu-satunya hal yang sedikit menenangkannya di tempat asing ini. Begitu masuk, aroma besi dan debu halus langsung terasa. Sementara di bagian dalam terlihat kantor kecil bersekat kaca yang mana di sis

