“Kamu mau sarapan bubur ayam, Mas?” tanya Nayla menoleh Arman yang sedang menyetir. “Emmm,” Sejenak Arman tampak berpikir. “Bubur ayam di simpang jalan itu enak, kamu pasti suka,” ujar Nayla yang tidak enak hati karena Arman hanya sarapan dengan dua sendok nasi goreng buatannya. “Kamu pernah makan di sana?” tanya Arman menoleh Nayla sekejap. “Pernah,” “Sama siapa? Mas Widi?” tebak Arman menoleh Nayla sejenak, sekadar mencari tahu ekspresi wajahnya. “Hm,” angguk Nayla mengerucutkan bibir. Rasa di hatinya bercampur aduk. Senang bisa memamerkan kebahagiaannya bersama Widi. Tapi juga sedih saat teringat Widi yang kini menghilang dari hidupnya. Selamanya. Ya, selamya. Arman menghela napas, ada cemburu yang bergelayut di hati. Entah bagian mana yang membuat hatinya cemburu. Kenangan Wid

