Sari kembali ke ruang fitting setelah mendengar suara tawa yang ramai dan riuh dari balik pintu. Itu adalah suara yang jarang, bahkan hampir tidak pernah dia dengar dari dua orang itu. Saat pintu terbuka, dia disambut pemandangan yang membuat hatinya hangat. Karan masih tergelak sambil menunjuk ke arah Rainer, yang berdiri di depan cermin dengan ekspresi konyol dan sebuah bros blush pink tersangkut di rambutnya. Mereka tertawa bersama. Sebuah pemandangan yang tak biasa, tapi bagi Sari, ini adalah sebuah awal yang baik, sebuah titik terang di balik semua ketegangan. “Kalian berdua sepertinya sudah menemukan baju yang pas,” ucap Sari, suaranya lembut, memecah suasana. Tawa Rainer dan Karan terhenti seketika. Seolah baru tersadar mereka sedang diamati, mereka mengalihkan perhatian pada S

