Bab 5: Siasat Bulan Madu

1285 Words
Tidak ada pembicaraan selama makan malam hari itu. Satu-satunya sumber suara hanyalah dentingan sendok yang beradu dengan piring. Susah payah Luna menahan diri untuk tak mengerutkan kening selagi sorot matanya masih menatap suaminya yang bersikap tenang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Yudha tampak fokus dengan makanannya sehingga tak menyadari bahwa sejak tadi Luna tengah memperhatikannya dalam diam. Berbeda dengan Luna yang sejak tadi hanya mampu menyuapi beberapa sendok ke dalam mulutnya. “Apa kamu tidak menyukai makanannya?” tanya Yudha yang tiba-tiba bersuara. Luna mengerjap dan sontak mengalihkan pandangannya. Terkejut dengan pergerakan Sang Suami yang tiba-tiba. “Makanannya, Luna? Apa kamu tidak menyukainya?” tanya pria itu lagi. “Oh, aku suka kok.” Luna melirik hidangan makan malam hari itu yang sebenarnya ada satu menu makan malam yang merupakan makanan kesukaannya, tapi entah kenapa malam itu ia tak menyentuhnya sama sekali. “Lalu?” Pria itu menelengkan kepalanya. “Ada yang lagi kamu pikirin?” “Apa begitu terlihat?” “Seperti lembar buku yang terbuka.” Mendengar itu membuat Luna sedikit meringis. Sementara Yudha diam-diam menyunggingkan senyum miringnya. “Ada yang ingin kamu bicarakan, Luna?” tanya pria itu lagi yang memberikan tatapan lembut dan sikapnya yang tenang. Luna tak langsung menjawab. Benaknya mulai berpikir keras. “Aku hanya bingung,” ujarnya kemudian. “Bingung kenapa?” Yudha menelengkan kepalanya. Perhatiannya kini berpusat raut wajah Luna yang tampak sedikit kurang nyaman. “Hari ini kita makan malam bersama setelah kamu menghilang selama dua hari tak memberi kabar.” Yudha tampak sudah mempersiapkan sang istri melontarkan pertanyaan itu. Detik berikutnya, ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Kamu pasti kesal setengah mati karena perlakuanku kemarin.” “Sebenarnya iya. Terlebih kamu tidak memberiku kabar.” Pria itu kembali menghela napas. “Maafkan aku. Aku belum terbiasa dengan situasi ini dan masih mengira bahwa aku tinggal sendiri.” Mendengar itu, Luna tak mampu lagi untuk menahan kerutan di dahinya. “Kenapa kamu nggak bangunin aku sebelum berangkat? Hari pertama aku memang kesiangan, tapi besoknya aku sudah bangun lebih pagi tapi kamu juga sudah pergi. Apa kamu memang berangkat ke kantor sepagi itu?” “Aku tak mengira kamu akan bertanya sedetail itu.” Yudha mengulas senyum kecil. “Maaf. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.” “Tak apa. Baiklah, aku jawab ya. Pertama, aku tak membangunkanmu dua hari yang lalu karena aku tahu kamu kesulitan tidur dan tak mau mengganggumu.” Luna menganggukkan kepalanya pelan. “Kedua, biasanya aku tak pernah berangkat sepagi itu. Tapi karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Seperti yang kita ketahui bersama kalau pernikahan kemarin sempat mengalihkan fokusku, yah walaupun semua hal sudah diurus sama orang tua tapi tak memungkiri bahwa ada beberapa pekerjaan yang harus postpone,” tutur Yudha kemudian. Suaranya terdengar lembut tanpa penekanan apapun. “Lalu kenapa kamu nggak ngabarin aku kalau pulang telat? Kenapa harus ngabarinnya ke Mbok Marni?” “Mungkin karena aku sudah terbiasa kalau ada apa-apa langsung menghubungi orang rumah. Saat itu mungkin aku terlampau sibuk hingga melupakan statusku yang sudah menikah dan ada istri yang menungguku di rumah.” Mendengar itu membuat kerutan dalam di keningnya memudar, digantikan dengan rasa bersalah yang mulai memenuhi hatinya. “Kamu benar,” ujar Luna kemudian. Suaranya terdengar berat dan bahunya terkulai. “Aku pikir kamu bersikap begitu karena ingin menghindariku.” “Kamu berpikir seperti itu?” Luna mengangguk pelan. “Apa pikiranku salah? Atau justru benar?” Pria itu tak langsung menjawab. Melainkan membalas tatapan Luna yang penuh tanda tanya besar yang hanya mampu luruh dengan satu jawaban. “Bukan kok,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. Tampaknya Luna tak memperhatikan sehingga membuatnya sedikit memberikan napas lega. “Maafin aku karena sudah menuduhmu yang tidak-tidak.” Yudha berdehem pelan. “Aku pun juga turut andil dalam hal ini harusnya bisa dikomunikasikan.” “Tapi bolehkah aku minta satu hal?” “Boleh. Katakan saja.” “Kabari aku setiap kamu pulang telat. Langsung ke nomorku, bukan ke nomor Mbok Marni.” “Oke. Aku juga mau minta satu hal sama kamu.” Luna mengangguk. “Kalau kamu mau pergi kemanapun, kabarin aku. Aku tak akan pernah melarangmu untuk melakukan sesuatu. Tapi kamu harus pergi sama sopir.” “Sopir, Mas?” “Betul, Luna. Kamu jangan kemana-mana nyetir mobil sendiri.” “Sama sekali nggak boleh?” Yudha mengangguk mantap. “Bisa kan?” “Baiklah.” “Sip. Kalau begitu aturan rumah tangga baru saja terbentuk. Kedepannya mungkin ada hal-hal yang bisa kita kompromikan setelah kita saling mengenal satu sama lain.” Luna mengangguk setuju. *** Esok harinya senyum Luna mengembang ketika membuka mata dan mendapati suaminya masih terlelap di sampingnya. Pada hari kesekian pernikahan mereka, Luna sudah tidak memikirkan terkait malam pertama yang belum terlaksana sama halnya seperti pasangan yang baru menikah pada umumnya. “Pelan-pelan. Nanti kita akan mulai terbiasa.” Adalah sebuah kalimat yang Luna ucapkan sebagai pengingat jika benaknya mulai berlari-larian. Sampai pada hari ketujuh pernikahannya, Luna mulai mengetahui bahwa Yudha tipikal yang tak pernah sarapan. Ia hanya menginginkan kopi hitam tanpa gula di pagi hari tanpa makanan apapun. Berbeda dengan Luna yang harus masuk makanan walaupun hanya satu lembar roti tawar. Pada akhir pekan pertama mereka tiba, setelah melewati sarapan bersama sambil berbagi cerita, keduanya mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Yudha mendekam di ruang kerjanya yang terletak di salah satu sudut rumah sementara Luna duduk di pojok ruangannya dan berkutat dengan pekerjaannya yang dilakukan secara remote. Menjelang siang hari, untuk pertama kalinya Ibu Mertuanya itu datang berkunjung. Sebuah senyuman cerah terpancar dari wajahnya yang tampak masih awet muda di usianya yang tentu sudah tak lagi muda. “Hai, menantu Mama yang cantik jelita ini.” Ambar menghamburkan diri memeluk Luna. “Hai, Ma. Kok nggak bilang mau datang? Aku belum siapin makanan soalnya.” “Santai lah. Ini Mama malah bawain kalian makanan.” Di belakang ibu mertuanya, tampak ada seorang pria yang mengenakan seragam itu memberikan sebuah tas berisi beberapa wadah makanan yang sengaja dibawa dari rumah. “Aduh, kok repot-repot, Ma.” “Nggak lah kan buat anak sendiri. Mama juga bawain Soto Betawi kesukaan kamu kan?” “Kok Mama tahu?” Mata Luna berbinar. “Tahulah, Ibu kamu yang cerita.” Luna tersenyum tipis. Bagaimana bisa ia melupakan satu fakta bahwa ibunya dan ibu mertuanya itu sahabatan? Jangan lupakan bahwa perjodohan ini juga dilandasi dari itu. “Mana suamimu, Lun?” Ambar mengajak Luna duduk di sofa setelah meminta pelayannya untuk menyerahkan wadah makanan kepada Mbok Marni di dapur. “Di ruang kerjanya, Ma.” “Hah? Ini kan hari Minggu?” “Katanya lagi banyak kerjaan, Ma. Aku coba panggilkan dulu ya.” “Iya, seret dia keluar untuk nemuin Mama. Katakan padanya kalau Mama mau bicara.” Namun, belum juga Luna bangkit untuk memanggil suaminya. Pria itu sudah lebih dulu muncul di hadapannya. “Loh, ada Mama kesini?” “Nah, ini dia orangnya.” “Mama kapan datang?” tanya Yudha dengan kening berkerut. “Bukannya seharusnya aku yang ke rumah hari ini?” “Ah, kamu ditungguin juga lama.” “Lagi banyak kerjaan, Ma.” Ambar menghela napas berat dan panjang. “Sini, Yudha. Duduk dulu. Mama mau bicara. Luna juga ya.” Keduanya menuruti perintah Ambar, Sang Nyonya Besar. Sejurus kemudian, wanita itu mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tas jinjing berwarna hitam dan menaruhnya di meja persis di hadapan anak dan menantunya. “Apa ini, Ma?” Yudha menatap ibunya bingung. “Buka aja.” Pria itu menarik amplop dan membukanya perlahan di sebelah Luna yang juga memperhatikan dengan rasa ingin tahu yang sama besarnya. “Tiket pesawat dan hotel? Maksudnya apa ini, Ma? Mama mau minta kami berdua bulan madu?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD