Bab 4: Dipaksa Terbiasa

1291 Words
“Pasutri baru mana yang udah ngajakin sahabatnya nongki cantik?” Luna hanya meringis pelan menanggapi ledekan Kania, sahabatnya yang ia paksa untuk menemuinya pada jam istirahat kantor. Pasalnya, ketika ia terbangun lagi pada keesokan harinya. Ia tak melihat suaminya lagi di sampingnya. Jika sebelumnya Yudha sempat meninggalkan pesan meski berupa memo singkat dengan tulisan tangan, kali ini pria itu tak meninggalkan pesan apa-apa. Karena sedikit merasa frustasi, Luna menghubungi satu-satunya Kania, satu-satunya sahabat yang tahu betul tentang kondisinya. “Ternyata begini ya, nikah karena dijodohin,” ujarnya kemudian dengan bahu yang terkulai. “Bukannya katanya lo pernah ketemu sama dia sebelum tahu kalau dia calon suami?” “Iya, tapi dia nggak inget apa-apa tentang kejadian malam itu.” Kania pun ikut menghela napas panjang bersama Luna yang tengah meratapi nasibnya. “Kenapa nggak bilang aja kalau kalian pernah bertemu?” “Gimana mau ngomong, orang dia berangkat pagi pulang malam. Kita nggak pernah benar-benar bertemu, Kan.” “Sekarang gue bisa ngebayangin. Ternyata serem juga ya kalau mendadak nikah sama orang yang belum kita kenal banget.” Luna manggut-manggut. “Padahal sewaktu malam habis akad, kita sempat ngobrol cukup lama. Nggak ada canggung, nggak ada kaku. Obrolan kita mengalir gitu aja dan akhirnya sepakat untuk saling mengenal satu sama lain. Tapi lihat keadaan sekarang, gue ditinggal kerja dari pagi sampai tengah malam.” Kania yang sejak tadi mendengarkan curhatan sahabatnya itu sontak mengerjapkan mata sesaat. “Tunggu. Tunggu. Lo bilang ngobrol banyak waktu malam pertama?” Luna menjawab dengan anggukan singkat. “Jadi … lo belum ….” Kania menghentikan kalimatnya dan sebagai gantinya memberikan gestur menggunakan tangan dan lirikan matanya. “Begituan?” Detik berikutnya, mata Luna terbelalak. “Yang benar saja, Kania! Emangnya malam pertama harus langsung kudu begituan?” bisik Luna sembari mencondongkan tubuhnya mendekati Kania. Kania, wanita berambut pendek itu hanya memberikan senyuman lebar. “Kan lo tahu kalau kita nikah karena dijodohin,” lanjut Luna. “Tapi kan lo yang naksir dia duluan.” “Apa hubungannya naksir duluan sama malam pertama?” Luna mengerjap matanya. “Ya lo yang nyerahin diri lah. Udah halal ini. Nggak perlu gengsi.” Kania mengibaskan sebelah tangannya. “Nggak semuanya orang cegil kayak lo, Kania. Luna menggelengkan kepalanya. Sudah paham betul bagaimana watak Kania yang memegang prinsip selama ia bisa pegang kendali, kenapa tidak? “Meskipun gue cegil, tapi nggak bisa langsung buat si Mas Pacar buat ngelamar. Buktinya keduluan sama lo nikahnya.” “Pernikahan itu bukan sebuah perlombaan, Kan.” “I know. I know. Contoh nyatanya ada di depan mata. Meski lo udah nikah duluan, tapi ujiannya malah kurang belaian suami.” Luna menatap masam. Ingin rasanya ia menyipratkan es kopi dingin ke wajahnya dengan harapan bisa sedikit membungkam mulutnya yang sering kali tak diberi filter itu. Tapi ia mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk menyeruput minuman dingin yang terasa pas diminum di siang hari dan di suasana yang kurang baik. “Lun, denger. Sekarang gue mau serius.” “Dari tadi gue juga udah serius,” jawabnya ketus. Kania terkekeh pelan. “Gue cuma mau bilang, jangan terlalu dibawa pusing sama sikapnya dia. Kalian kan baru ketemu satu kali terus langsung nikah kan?” Luna manggut-manggut. “Terus lo juga bilang kalau dia mau mengenal lebih jauh kan?” Wanita itu kembali menganggukan kepalanya. “Ya anggap saja kalau ini bagian dari prosesnya. Pernikahan itu juga terlalu cepat terjadi. Siapa tahu kalau sebenarnya ada kerjaannya yang sedang menggantung dan butuh dikerjakan cepat.” Luna termenung sesaat. Matanya menatap gelas kopi yang berembun. “Perkataan lo ada benarnya juga, tapi kenapa dia nggak ngomong aja sih?” “Kalau masalah itu, lo yang perlu selesaikan.” Kania menegakkan kembali tubuhnya lalu melipat kedua tangannya di atas d**a. “Masalah komunikasi suami istri. Kalian mungkin sama-sama kaget dengan perubahan status nikah. Hal itu hanya butuh dibicarakan dan dibiasakan.” Luna terdiam. Benaknya kini tampak berpikir keras. “Hubungan lo sama mertua, aman kan? Dia bukan tipikal yang aneh-aneh kan?” tanya Kania lagi. “Baik kok. Mertua gue baik banget malah. Lo kan tahu kalau Mertua gue temenan baik sama Mama.” “Bagus. Setidaknya lo bukan bagian dari drama mertua dan menantu. Gue yakin kok, kalian cuma butuh waktu buat kenal lebih dekat.” Kania melepas kedua tangannya untuk kemudian menaruhnya di atas punggung tangan Luna. “Mungkin ini jawaban dari semua penderitaan lo kemaren. Lo harus lebih bersabar aja,” lanjutnya dengan sorot mata penuh kepedulian. Luna mengulas senyum tipis. Sebenarnya ia sedikit ragu dengan kalimat terakhir yang Kania ucapkan, hanya saja ia memilih untuk tak meresponnya. *** Usai pertemuan singkatnya dengan Kania, Luna tak langsung pulang. Ia memilih untuk berkeliling di supermarket untuk mencari beberapa kebutuhan pribadinya. Kalau bisa ia malah ingin lama-lama berada di luar, mengingat toh suaminya juga selalu pulang malam. Ia ingin menikmati masa day off-nya dengan baik sampai beberapa hari kedepan. Meskipun ia sedikit menyesal karena kebosanan. Menjelang malam baru Luna mengendarai mobilnya yang ia minta diantar ke rumah Yudha sehari sebelumnya. Ia menolak diantar menggunakan supir lantaran tak ingin merasa ada yang menunggu. Saat memasuki rumah sambil menjinjing hasil belanjaannya siang tadi, langkahnya terhenti ketika melihat pria bertubuh tinggi tengah duduk di sofa ruang tengah rumah dengan televisi yang menyiarkan tayangan sebuah talkshow politik. “Mas Yudha sudah pulang?” Luna menyapa dengan suara sedikit parau. Pria itu menoleh dan mata mereka pun bertemu. Pria itu bergeming selama sesaat sebelum akhirnya bangkit dari duduknya. “Kamu dari mana saja, Luna?” Suaranya terdengar datar dan tak ada emosi. Tapi entah kenapa itu bisa langsung membuat Luna langsung ciut di tempatnya mematung. “Tadi siang aku bertemu dengan Kania, sahabatku. Kamu pernah bertemu dengannya saat hari pernikahan kita.” Yudha menganggukkan kepala. “Lalu habis itu?” “Aku keliling di mall dan membeli ini. Kebutuhanku.” Luna mengangkat tas belanjanya setinggi mungkin. Pria itu menghela napas panjang dan kembali duduk di sofa. “Luna, kesini sebentar.” Perintahnya terdengar jelas dan seperti tak ingin terbantahkan. Membuat Luna tak punya pilihan selain menurut. Ia duduk di sofa yang sama dengan Yudha dan sedikit memberikan jarak agar mereka bisa leluasa berbicara. “Kenapa kamu nggak bilang kalau mau pergi?” “Aku sudah bilang sama Mbok Marni,” jawab Luna singkat. Yudha menelengkan kepalanya. “Kenapa Mbok Marni?” “Biar Mbok Marni nggak nyariin aku.” “Kenapa nggak bilang sama aku?” Luna mengerjap matanya sesaat. Lidahnya mulai terasa kelu padahal hampir seharian tadi ia terus mengucapkan dumelan tentang perilaku suaminya. “Karena aku nggak di rumah terus seharian?” tanya Yudha lagi. Berusaha menebak dan memancing agar istrinya itu membuka suara. “Bagaimana aku mau bilang kalau kamu pergi pagi dan pulang malam. Bahkan terakhir kali kita ketemu ya pada saat habis akad nikah itu,” jawab Luna kemudian. “Kamu kan bisa chat aku dulu. Aku kan suami kamu. Masa kamu pergi tanpa izin dan sepengetahuanku.” “Kamu juga kan bisa chat aku kalau pulang telat, bukannya lewat Mbok Marni.” Luna mengerucutkan bibirnya. “Jadi alasannya karena kamu marah dan ini adalah ajang balas dendam?” Yudha melipat kedua tangannya di atas d**a. Luna memilih untuk tidak menjawab. Ia memalingkan wajah karena tak tahan karena ditatap dengan sorot mata yang tajam. Meskipun begitu, ia membenarkan perkataan Yudha dan diam-diam menyesali perbuatannya. Terlihat Yudha pun beringsut mendekat dan bisa dilihat Luna pun sudah siap-siap melangkah mundur. “Ya udah, kamu bebersih dulu. Habis ini kita makan malam bareng ya,” ujar Yudha dengan nada suara yang sudah melembut sebelum berbalik meninggalkan Luna. Luna sontak mendongak dan kemudian melongo. “Apa maksudnya? Setelah tiga hari pulang malam dan sekarang tiba-tiba ngajakin makan seperti nggak terjadi apa-apa,” gumam Luna dengan kerutan dalam di keningnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD