Ajeng mengerjapkan matanya yang masih bias akan cahaya. Tangannya bergerak pelan. Lidahnya pun seolah kelu. Seorang pelayanbyanh sadar oun berlari keluar dan berteriak. "Nyonya sudah bangun." Sontak dokter keluarga Atmodjo masuk bersama Juan yang terlihat lega. Ajeng dengan samar-samar melihat tangannya yang di pasangi infus. Matanya pun menengok ke arah dokter keluarganya. "Dok, bentar. Jangan marah-marah dulu." Ujarnya dengan susah payah. "Aduh, Non! Kalau saya nggak marahin Non sekarang, bapak bakal datengin mimpi saya bentar malem sambil marah-marah." Katanya melucu. Sementara Juan hanya berdiri membeku. Memperhatikan kondisi Ajeng dengan seksama. "Marahin aja dok." Kata laki-laki itu tiba-tiba. Ajeng menatap tak senang pada Juan. "Dia emang pantes di marahin." Kata Juan.

