“Suruh dia masuk,” kata Sebastian singkat. “Baik, Tuan,” jawab pelayan itu patuh, lalu segera berlalu. Tatapan Sebastian kembali tertuju pada Farah. “Dokter sudah datang,” katanya pelan. Demi apa pun, meski raut wajah Farah tampak tenang, di dalam dadanya badai sedang mengamuk. Kepanikan menekan pikirannya tanpa ampun. Bagaimana jika ia langsung ketahuan? Tidak ada bekas cedera apa pun di tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda kecelakaan, apalagi jatuh ke jurang seperti cerita yang ia karang. Namun untuk saat ini, ia tidak punya pilihan selain menurut. Sedikit saja ia menolak, kecurigaan akan muncul. Setelah Sebastian memerintahkan pelayan untuk membereskan pecahan piring dan gelas, serta setelah Amanda dan Nenek Sabrina kembali ke kamar masing-masing, Sebastian membawa Dokter Anwar menuju

