Darahnya seolah berhenti mengalir saat nama itu keluar dari mulut Dokter Anwar. Jemarinya menegang di atas seprai, napasnya tertahan tanpa sadar. Ia menatap Anwar dengan mata membesar—bukan lagi tatapan pura-pura tenang, melainkan kewaspadaan penuh. Untuk sesaat, topeng yang ia kenakan hampir runtuh. “Jadi… Anda sudah tahu,” ucapnya akhirnya, suaranya rendah dan terkendali, meski dadanya berdegup kencang. Ia mendudukan dirinya karena merasa tak perlu melakukan pemeriksaan apapun. Anwar tersenyum tipis, seolah mengapresiasi ketenangan Farah. “Aku tidak tahu apa rencanamu, atau apa yang ingin kau lakukan di keluarga ini,” ujarnya tenang. “Tapi mungkin kau lupa… kita pernah bertemu sebelumnya.” Farah mengernyit, menatap Anwar dengan penuh kebingungan dan waspada. Farah terdiam. Kata-ka

