Farah menegakkan punggungnya, menatap buket bunga dan catatan kecil dari Sebastian sekali lagi. Ia bisa merasakan hangatnya perhatian suaminya, namun di balik senyum tipis itu, hatinya tetap siaga. Ia tidak bisa lengah. Rumah keluarga Wijaya penuh intrik, dan setiap tindakan kecil bisa menjadi senjata—atau jebakan. Amanda duduk di sisi meja, matanya terus mengikuti gerak-gerik Farah. Bibirnya menekuk tipis, tapi tatapannya dingin. “Jadi, ini yang disebut perhatian suami, ya?” ucap Amanda pelan, namun nada suaranya menusuk. “Kau beruntung sekali mendapat perlakuan istimewa begitu.” Farah menoleh sebentar, menatap Amanda dengan mata tenang. Ia tahu wanita itu ingin memancing reaksi marah atau kecewa darinya. Namun Farah menahan diri, menegakkan sikap “Sarah” yang anggun dan sabar. “Aku han

