Farah duduk di kursi ruang makan, menatap secangkir teh hangat yang masih mengepul. Aroma teh seolah menenangkan pikirannya, tetapi pikirannya tetap sibuk. Ia mencoba menganalisis setiap gerak-gerik Amanda dan Sabrina yang duduk tidak jauh darinya. Amanda, dengan tatapan dingin yang tipis terselubung di balik senyum manisnya, seakan menunggu kesalahan sekecil apa pun dari Farah. Sabrina, neneknya yang bijak sekaligus berhati-hati, tetap diam, mengamati setiap interaksi, memberi kesan bahwa Farah sedang diuji lebih dari sekadar etika rumah tangga. Farah menegakkan punggung, menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, sebagai “Sarah”, dirinya harus tetap tenang. Segala gerak-geriknya menjadi bukti bahwa ia mampu menyesuaikan diri, tapi sekaligus ada rahasia besar yang harus dijaga. Bagaimana pun, i

