Farah menatap buket bunga di pangkuannya, menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah jendela ruang makan. Cahaya pagi menembus tirai tipis, menciptakan pola lembut di lantai kayu. Suara pelayan yang sedang menata meja perlahan terdengar dari dapur, tapi tetap terdengar jelas di ruang makan yang tenang itu. Ia menyadari bahwa setelah perhatian Sebastian pagi ini, dinamika rumah ini akan semakin rumit. Amanda duduk kembali dengan wajah menahan amarah. Ia menatap Farah seolah ingin membaca pikiran wanita itu, mencoba mencari celah untuk melancarkan serangan psikologis. Farah menahan napas, menyesuaikan ekspresi agar tetap ramah, seperti Sarah. Ia tahu, setiap gerak-gerik Amanda akan dianalisis oleh Sabrina, yang duduk di kursi rodanya dengan tatapan menilai. Farah menunduk sedikit, memutar

